Friday, February 29, 2008

Ksatria Templar.


KSATRIA TEMPLAR, ANTARA LEGENDA DAN REALITA. 

Ksatria Templar menjadi populer lewat buku Da Vinci Code. Kelompok ini didirikan dengan penuh kesahajaan, berkembang amat pesat namun berakhir secara tragis. Ada banyak legenda di seputar kelompok ini. Siapakah mereka dan sejauh mana kaitannya dengan Gereja Katolik?

Ksatria Berjiwa Rahib.

Ksatria Templar atau Knights Templar didirikan oleh Hughes de Payens, veteran Perang Salib Pertama bersama 8 orang sahabatnya pada tahun 1118. Di hadapan Patriach Yerusalem, mereka mengucapkan sumpah setia untuk membela agama Kristiani. Raja Baldwin II dari Yerusalem menerima mereka dan memberi mereka sebuah markas di bukit Kenisah (Temple Mount). Konon di atas bukit tersebut pernah berdiri Kenisah Salomon. Nama Ksatria Templar yang lengkapnya Poor Knights of Christ and the Temple of Solomon, diambil dari lokasi markas mereka ini.

Kelompok baru ini mengambil aturan Santo Bernardus dari Clairvaux, biarawan Ordo Cistercian sebagai cara hidup mereka. Karenanya, Para Ksatria Templar mengucapkan tiga kaul seperti layaknya biarawan biasa. (Sebagai biarawan kelompok  ini sering juga disebut Ordo Templar). Selain tiga kaul, merekapun mengucapkan sumpah lain, yaitu janji setia sebagai Ksatria Perang Salib. Seorang Ksatria Templar mengenakan jubah putih meniru jubah biarawan Cistercian, hanya mereka menambahkan sebuah salib merah besar pada jubah mereka. Pemimpin tertinggi Ksatria Templar disebut Grand Master atau Guru Agung. Jabatan ini disandang seumur hidup. Grand Master pertama adalah Hughes de Payens sendiri, sang pendiri yang berasal dari Perancis.

Tugas utama Ksatria Templar adalah menjaga keamanan para peziarah di tanah suci, khususnya di Yerusalem. Pada waktu itu banyak orang Kristiani dari Eropa datang ke Yerusalem untuk berziarah. Banyak orang mempercayakan harta bendanya kepada kelompok ini sebelum mereka melakukan peziarahan. Dalam perkembangannya, kelompok ini dikenal sebagai tempat penitipan harta benda yang aman dan bisa dipercaya (semacam bank penyimpanan). Karenanya tidak mengherankan bahwa dalam perjalanan waktu, Ksatria Templar banyak memiliki peninggalan harta benda dalam jumlah yang besar.

Sebagai Ksatria, anggota kelompok ini mendapat latihan serta disiplin militer yang tinggi. Kehebatan, keberanian serta daya juang mereka dalam peperangan tak pernah diragukan. Banyak tulisan yang menggambarkan kehebatan mereka. Mereka, antara lain, dilukiskan sebagai singa garang di medan perang namun domba jinak pada saat damai; satria buas dalam peperangan namun rahib yang saleh di dalam gereja. Dalam setiap peperangan, kelompok inilah yang tanpa ragu akan maju paling depan dan mundur paling akhir.

Dalam waktu singkat, kelompok ini dikenal dimana-mana dan berkembang amat pesat. Kehidupan mereka sebagai biarawan militan sekaligus sebagai pejuang yang gagah berani menjadi daya tarik yang luar biasa. Kelompok Ksatria Templar mulai membuka cabang-cabangnya di hampir semua negara di Eropa.

Kelompok ini juga mendapat kepercayaan yang amat besar dari penguasa gereja dalam berbagai bidang. Paus pada waktu itu memberi mereka banyak kemudahan serta keistimewaan. Hal ini sempat menimbulkan ketidak senangan di kalangan para biarawan biasa.

Akhir yang Tragis.

Sesudah berkembang sangat baik selama hampir 200 tahun, nasib Ksatria Templar berubah drastis pada awal tahun 1300-an. Pada waktu itu, Raja Perancis, Philip IV mengalami kesulitan keuangan yang luar biasa akibat peperangan melawan Inggris. Maka disusunlah suatu rencana busuk terhadap Ksatria Templar. Ada dua alasan, pertama, ia ingin menguasai kekayaan kelompok Templar, terutama yang tersebar di seluruh Perancis. Alasan kedua, ia tidak ingin membayar hutang-hutangnya yang amat besar kepada kelompok ini. Pada tanggal 13 Oktober 1307, atas perintah Raja Philip IV, semua Ksatria Templar di seluruh Perancis ditangkap secara serentak dengan pelbagai tuduhan palsu. Para Ksatria Templar dipaksa untuk mengakui tuduhan-tuduhan keji dan tidak sedikit di antara mereka disiksa dan dibunuh. Tiga pemimpin Templar, termasuk Grand Master mereka, Jacques de Molay dibakar hidup-hidup atas tuduhan ajaran sesat. Raja Philip IV dengan leluasa merampas segala harta kekayaan Templar yang ada di Perancis.

Di luar Perancis, Ksatria Templar masih bertahan kendati secara sembunyi-sembunyi.

Kenyataan ini memunculkan banyak legenda di sekitar kehidupan Templar. Di antara legenda tersebut antara lain soal kerahasiaan organisasi mereka serta soal misteri harta benda yang lama mereka simpan dan sembunyikan.

Apa yang ditulis Dan Brown dalam bukunya Da Vinci Code tentang Ksatria Templar dan misteri Holy Grail (Cawan Suci) adalah salah satu legenda yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Puncak kesialan nasib Ksatria Templar terjadi ketika Paus Clement V dibawah tekanan kuat Raja Philip, membubarkan kelompok ini pada tahun 1312.

Ksatria Templar di Masa Sekarang.

Raja Philip IV menghancurkan hampir seluruh kelompok Templar di Perancis. Beberapa pemimpin negara Eropa lain mengikuti jejak Philip IV.

Penganiayaan Raja Philip IV serta pembubaran yang dilakukan Paus Clement V, memang membuat kelompok Templar tercerai-berai, namun tidak mati. Ksatria Templar masih terus hidup sampai saat ini.

Dalam perkembangannya, Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa penganiayaan terhadap Kelompok Templar di masa Raja Philip IV adalah tidak adil. Tidak ada yang secara inheren salah pada kelompok tersebut ataupun pada peraturan mereka. Diakui juga bahwa Paus pada saat memutuskan pembubaran Templar, berada dalam tekanan berat Raja Philip IV.

Saat ini Ksatria Templar masih ada di beberapa negara. Di Italia saja sekurang-kurangnya ada dua kelompok Templar. Pada masa kini mereka tetap mengenakan  Jubah Putih dengan tanda salib besar warna merah sebagai pakaian resmi mereka. Selain itu mereka juga dilengkapi dengan pedang panjang, sebagaimana para Ksatria Templar di masa lalu. Para Templar ini berkumpul secara teratur.

Pada pertengahan bulan Juni 2006, Kelompok Templar pimpinan Fra. Enzo Mattani, mengadakan upacara penerimaan anggota baru di Gereja San Giorgio, Roma. Upacara diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Andre Notelaers OSC dan Don Davide Pr.

Menurut Enzo Mattani, para Ksatria Templar yang dipimpinnya tetap memelihara dan menjunjung tinggi semangat dan spiritualitas Ksatria Templar asli. “Kelompok kami mengucapkan janji untuk setia kepada Gereja dan untuk membela ajaran Gereja!”, ujar Enzo yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang Jaksa ini. Salah satu aktivitas konkrit para Templar adalah mengumpulkan dana dan membantu tempat-tempat yang membutuhkan. Mereka, misalnya, pernah mengirim obat-obatan untuk membantu korban perang di Irak.

Ksatria Templar berawal dari cita-cita mulia Hughes de Payens, pendiri mereka. Hughes telah lama mati dan Ksatria Templar sempat dikejar-kejar untuk dihabisi. Namun, cita-cita mulia yang pernah membakar semangat Hughes nampaknya masih belum padam. Cita-cita tersebut masih tetap menggetarkan hati banyak orang, entah sampai kapan!

Heri Kartono.

(Dimuat di majalah HIDUP: 23 Juli 2006).

 

Wednesday, February 27, 2008

Pemilihan Jenderal Yesuit.


PAUS HITAM DARI JEPANG

Yesuit baru saja memilih pimpinan tertinggi yang baru. Bagaimana profil Jenderal Ordo terbesar ini dan apa pula keistimewaan hubungan antara Yesuit dengan Paus?

“Yang mulia Bapa Suci, atas nama saya sendiri dan atas nama semua yang hadir di sini, kami mengucapkan terima kasih berlimpah atas kebaikan Bapa Suci menerima kami semua, peserta Konggregasi Jenderal di Roma pada hari ini”, begitu jenderal Yesuit yang baru membuka sambutannya di hadapan Paus Benediktus XVI (21/02/08).

Sebanyak 226 perwakilan Yesuit dari seluruh dunia berkumpul di Roma sejak 7 Januari yang lalu. Pertemuan akbar ini disebut Konggregasi Jenderal (KJ). KJ kali ini merupakan yang ke-35 sejak ordo ini didirikan pada tahun 1540. Pertemuan diselenggarakan di rumah induk ordo Yesuit (Serikat Yesus) di Borgo Santo Spirito, yang terletak hanya beberapa ratus meter dari Basilika Santo Petrus, Vatikan. Dua agenda utama KJ-35 adalah pemilihan pimpinan baru serta pembicaraan seputar tantangan karya-karya Serikat Yesus di masa depan.

Pilihan Tepat dari Jepang.

Pemilihan jenderal Yesuit yang baru merupakan agenda penting yang banyak ditunggu-tunggu orang. Pemimpin yang lama, Pater Peter-Hans Kolvenbach SY, atas persetujuan Paus, mengundurkan diri karena usia lanjut. Pada tanggal 19 Januari terpilih Pater Adolfo Nicolas SY (71) sebagai Superior Jenderal Yesuit yang ke-29 setelah Santo Ignasius Loyola. Adolfo mantan provinsial Yesuit provinsi Jepang ini terpilih secara cepat hanya dalam putaran kedua.  Atas terpilihnya Adolfo, sebuah surat kabar nasional Italia, La Reppublica menurunkan judul Il Papa Nero venuto dal Giappone (Paus Hitam datang dari Jepang). Jenderal Yesuit memang sering disebut sebagai Paus Hitam karena kebiasaan memakai jubah berwarna hitam. Sebagaimana Paus, jenderal Yesuit dipilih untuk seumur hidup.

Adolfo Nicolas lahir di Palencia, Spanyol (29/04/36). Masuk novisiat Yesuit di Aranjuez, Spanyol tahun 1953. Adolfo menempuh kuliah teologi di Tokyo, Jepang hingga tahbisan imam. Master teologi ia peroleh dari Universitas Gregoriana, Roma (1968-1971). Ia sempat bertugas di Manila, Filipina sebagai direktur Institut Pastoral (1978-1984). Meski demikian, hampir seluruh hidupnya sebagai imam Yesuit ia lewati di negeri Sakura, Jepang. Adolfo, selain berbahasa Spanyol, menguasai dengan baik bahasa Jepang, Inggris, Perancis dan Italia.

Sebagai orang yang lama bertugas di Asia, Adolfo meyakini bahwa Asia dapat memberi sumbangan bagi perkembangan Gereja. Tahun lalu dalam wawancara dengan majalah Yesuit Australia, The Province Express, Adolfo berkata: “Barat tidak mempunyai monopoli arti dan spiritualitas. Barat dapat belajar banyak dari pengalaman budaya Asia. Asia memiliki banyak yang dapat ditawarkan pada Gereja, Gereja Universal. Namun kita belum melakukannya. Mungkin kita tidak memiliki cukup keberanian atau kita tak mau mengambil resiko yang harus kita tanggung”, ujarnya.

Terpilihnya Adolfo Nicolas oleh banyak kalangan dianggap sebagai pilihan yang tepat. Pater Paolo Molinari SY, mantan Profesor Teologi, menyatakan bahwa terpilihnya Adolfo memberikan harapan yang baik bagi masa depan.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan tertinggi Yesuit, Adolfo Nicolas dibantu oleh 4 orang asisten ad providentiam. Empat asisten khusus ini, yang dipilih pada 18 Februari adalah: P. Lisbert D’Souza (India); P. James Grummer (USA); P. Federico Lombardi (Italia) dan P. Marcos Recolons (Bolivia). P. Marcos Recolons juga terpilih sebagai admonitor. Admonitor adalah penasihat confidential yang bertugas mengingatkan pimpinan tertinggi bila melakukan hal yang kurang pantas atau menunjukkan gejala ketidak-taatan pada Paus.

Hubungan Khusus Dengan Paus.

Serikat Yesus adalah ordo terbesar dalam gereja Katolik dengan anggota 19.216 tersebar di 112 negara. Yesuit dikenal dengan karya yang berkualitas di bidang pendidikan. Ordo ini juga dikenal sebagai penyebar misi yang tangguh. Karya lain yang banyak dilakukan Yesuit adalah di bidang keadilan sosial serta hak-hak azazi manusia.

Ordo yang didirikan oleh Ignasius Loyola (1491-1556) ini sejak awal memiliki kedekatan khusus dengan Paus. Di luar 3 kaul yang biasa diucapkan seorang religius, Yesuit memiliki kaul ke empat, yaitu ketaatan kepada Paus. Tidak mengherankan bahwa Paus pun memberi perhatian istimewa pada ordo besar ini. Dalam surat pribadinya kepada Peter-Hans Konvenbach, jenderal Yesuit yang lama (10/01/08), Paus menyinggung soal hubungan khusus antara Yesuit dengan Paus sebagai pengganti  Petrus. Dalam surat yang sama, Paus juga menggarisbawahi serta meminta agar ordo ini meneguhkan kembali kesetiaannya yang total pada ajaran Gereja.

Dalam audiensi kepada peserta KJ-35 di Vatikan (21/02/08), Paus kembali mengingatkan Yesuit atas komitmennya untuk membela serta mempertahankan doktrin-doktrin Katolik. Secara khusus Paus menyebut doktrin tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus, moralitas seksual, perkawinan dan keluarga. “Tetap setialah pada Magisterium dan hindari menyebar kebingungan dan kekacauan di antara umat”, ujar Paus dalam bahasa Italia.

Sementara itu, Adolfo Nicolas, jenderal Yesuit yang baru dalam sambutannya meyakinkan Paus akan kesetiaan Yesuit terhadap Gereja dan Paus. “….atas kesadaran yang mendalam akan akar kami, juga sesuai dengan semangat tradisi Ignasian, kami mencintai hirarki Gereja dan Bapa Suci sebagai Wakil Kristus”, tegas Adolfo.

Kendati memiliki kedekatan khusus, tidak berarti hubungan antara Paus/Vatikan dengan Yesuit selalu harmonis. Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini ada sejumlah tokoh Yesuit yang mendapat peringatan dari Vatikan. Salah satunya adalah John Sobrino SY, teolog ternama dari El Salvador. Pada akhir tahun 2006, John Sobrino mendapat peringatan karena beberapa bukunya dianggap menyimpang dari ajaran resmi Gereja.

Persiapan yang Baik.

Vincent M. Cooke SY peserta KJ-35 dari New York memiliki kesan tersendiri tentang KJ kali ini. Duapuluh lima tahun yang lalu, Vincent juga menghadiri pertemuan serupa. Ia mencatat adanya persamaan dan perbedaan antara KJ tahun ini dan tahun 1983. Persamaannya yang menyolok, dalam kedua KJ tersebut, pemilihan jenderal Yesuit berlangsung cepat. Dalam KJ tahun 1983, Peter-Hans Kolvenbach terpilih langsung dalam putaran pertama sementara Adolfo Nicolas terpilih dalam putaran kedua.

Tentang perbedaan Vincent M. Cooke berkata: “Waktu itu KJ dimulai dengan ketegangan antara Serikat dengan Bapa Suci. Dalam KJ kali ini, Bapa Suci menunjukkan kepercayaan yang besar pada Serikat. Sebaliknya, para peserta KJ juga menunjukkan kegairahannya untuk melayani Gereja yang diembankan kepadanya!”, tutur Vincent.  Perbedaan positif yang dicatat Vincent adalah makin terasanya suasana internasional Serikat Yesus. “Sifat internasional Serikat sangat terasa terutama karena banyaknya Yesuit yang datang dari India, Afrika dan Asia Timur”, jelas imam asal New York ini. Secara khusus Vincent memuji persiapan dalam KJ kali ini. “Dokumen-dokumen tertulis disiapkan dengan lebih baik dan lebih teratur”.

Lepas dari pujian Vincent, KJ kali ini untuk pertama kalinya menggunakan website serta pelbagai sarana multi-media. Dokumen, informasi bahkan foto-foto dapat diakses setiap hari lewat internet.

Saat artikel ini ditulis (25/02/08) Konggregasi Jenderal masih berlangsung. Semoga segala usaha para Yesuit untuk merumuskan jati dirinya, mendorong semangat mereka untuk makin memuliakan Nama Tuhan sebagaimana motto yang mereka pegang Ad Maiorem Dei Gloriam.

Heri Kartono, OSC

(Dimuat di HIDUP 9 Maret 2008. Foto dari Arsip/dok. Yesuit).

 

 

Swiss Guard.


Corsin Kofler:

 

LUPA MENANYAKAN GAJI 

Sejak berumur 8 tahun Corsin Kofler bercita-cita menjadi seorang Swissguard. Ketika pada akhirnya ia mendapat kesempatan mendaftarkan diri, ia amat gembira. Begitu senangnya Corsin sampai ia lupa menanyakan berapa gaji yang akan ia peroleh!


Tertulis di Antara Bintang-bintang.

Corsin lahir di kota kecil Coira, Swiss, pada tanggal 20 Maret 1983. Kedua orang tuanya adalah petani biasa yang memiliki beberapa lembu. Corsin memiliki dua saudara laki-laki. Seluruh keluarganya adalah pemeluk Katolik yang taat. Corsin masih ingat, semasa ia kecil, mereka selalu pergi ke gereja bersama-sama. Sejak kecil pula ia telah berangan-angan ingin menjadi seorang Swissguard. “Waktu itu umur saya sekitar 8 tahun. Kami sekeluarga sedang menyaksikan siaran langsung dari Vatikan. Mata saya tertumbuk pada seorang penjaga dengan pakaian warna-warni berdiri gagah di dekat Sri Paus. Ayah menjelaskan bahwa penjaga itu orang Swiss dan hanya orang Swiss boleh menjadi penjaga Paus. Mendengar penjelasan itu, timbul niat dalam hati saya untuk menjadi penjaga Paus seperti tentara gagah itu”, kenang penggemar olah raga Ski ini.

Selepas SMA, Corsin bekerja di toko roti. Untuk pertama kalinya ia mendapat gaji sendiri dan ia senang sekali. Suatu hari, pada hari libur, secara kebetulan ia menyaksikan siaran televisi yang menampilkan pasukan Swissguard. Tiba-tiba cita-cita masa kecilnya berkobar kembali. Sebenarnya cita-cita itu tidak pernah padam, hanya ia tidak tahu bagaimana mewujudkannya. Iapun mulai secara serius mencari informasi bagaimana mendaftarkan diri menjadi seorang Swissguard. Ketika pada akhirnya ia diterima menjadi anggota Swissguard, Corsin merasa amat bahagia.

Kini tanpa terasa sudah hampir tiga tahun Corsin Kofler menjadi anggota Swissguard dengan pangkat Vice Corporale. Ia tidak pernah menyesal bahkan sebaliknya merasa bangga. “Tugas ini saya jalani pertama-tama atas dasar iman. Kami keluarga katolik. Bagi kami, Vatikan dan Paus adalah sesuatu yang amat bernilai. Saya merasa bangga dan bersyukur boleh mengabdi pada gereja, boleh menjaga Bapak Suci. Bahkan, orang tua dan saudara-saudara saya juga ikut bangga!”, ujar Corsin sungguh-sungguh.

Ketika ditanya tentang gaji seorang Swissguard, Corsin menjawab: “Abbastanza per vivere! (cukup untuk hidup)”. Ia mengulangi jawaban itu dan meminta jawabannya ditulis seperti itu. Nampaknya ia memang tidak terlalu memikirkan soal gaji. Kesahajaannya tercermin dalam sikap dan tutur katanya.

Saat ditanya, berapa lama ia ingin mengabdi sebagai Swissguard, ia menjawab: “Saya masih ingin bekerja di sini dua tahun lagi atau maksimum lima tahun. Sesudah itu saya kembali ke negara saya dan memikirkan masa depan saya!”. “Apa rencana anda selanjutnya. Apakah sudah ada rencana atau pekerjaan khusus?”. Atas pertanyaan tersebut dengan ringan Corsin menjawab: “Tentang itu saya belum tahu, masih tertulis di antara bintang-bintang!”.

Kesahajaan kehidupan di Caserma.

Corsin tinggal di Caserma, asrama para Swissguard di komplek Vatikan. Ada 110 Swissguard yang tinggal di Caserma, masing-masing menempati satu kamar sederhana. Banyak acara dilakukan bersama, antara lain olah raga, latihan fisik, juga makan. Makanan disiapkan oleh para suster yang memang bertugas untuk itu. Mencuci pakaian dan beberapa pekerjaan lain dilakukan oleh masing-masing Swissguard. 

Layaknya kehidupan “militer” senioritas dan pangkat ikut menentukan. Swissguard senior dihormati dan disegani yuniornya. Ketika wawancara berlangsung, Corsin beberapa kali berhenti bicara dan memberi hormat pada seseorang yang lewat. Rupanya mereka adalah senior Corsin yang sedang bebas dan tidak mengenakan seragam.

Seorang komandan Swissguard amat ditaati bawahannya. Corsin, misalnya, hanya bersedia diwawancari setelah komandannya memberi ijin. Sikapnya tentang hal ini amat jelas, tidak ada kompromi.  Meskipun dihormati dan ditaati, seorang senior atau komandan, jarang berbuat kasar, apalagi main pukul. “Mereka seperti seorang kakak yang layak dihormati namun mereka juga menyayangi adik-adiknya”, jelas Corsin. Lebih lanjut Corsin juga menjelaskan bahwa ikatan persaudaraan di antara mereka kuat sekali. Barangkali karena mereka selalu tinggal bersama serta memiliki cita-cita pengabdian yang sama pula. “ Bagi saya, tinggal di Caserma, seperti tinggal di rumah sendiri, seperti suatu keluarga besar. Saya betah dan menikmatinya”, ujar pemuda yang murah senyum ini.

Pengalaman Tak Terlupakan.

Corsin yang pandai meniup terompet ini mengaku senang tinggal di kota Roma. “Kota ini antik dan menawan. Orang-orangnya pandai menikmati hidup!”, ujarnya tentang kota Roma. Saat-saat senggangnya ia gunakan untuk jalan-jalan di kota atau olah raga. Pada musim panas, ia sering pergi ke pantai bersama teman-temannya. Kendati memiliki wajah tampan, Corsin mengaku belum punya pacar. “Saya belum memikirkannya. Atau mungkin lebih tepat, saya belum menemukan gadis yang cocok”, ujar lajang penggemar pasta (jenis makanan) Italia ini.

Pengalaman tak terlupakan sebagai Swissguard adalah tatkala ia bersama empat rekannya dipercaya untuk mengawal Paus Yohanes Paulus II ke Bern, Swiss, pada bulan Juni 2004. Sejak kecil Corsin sudah mengenal Paus Yohanes Paulus II lewat pelbagai pemberitaan. Ia juga diam-diam mengagumi Paus yang dimana-mana disambut ribuan bahkan jutaan umat itu. Karenanya ketika ia dipercaya menjadi pengawal pribadi Paus, duduk berdekatan di dalam pesawat bahkan sempat ngobrol dan berfoto bersama adalah pengalaman yang luar biasa baginya. Pada waktu itu ia belum genap setahun bertugas sebagai Swissguard. “Sungguh indah dan mengesankan bahwa saya dapat berdekatan dengan orang yang saya kagumi dan hormati sejak kecil”, katanya dengan suara bergetar.

Pengalaman lain yang juga mengesankan adalah saat ia bertugas menjaga Conclave (Sidang para Kardinal untuk memilih Paus yang baru). Menjaga suatu pertemuan penting yang dinantikan seluruh dunia, memang suatu pengalaman langka. 

Pembicaraan kami beberapa kali terputus karena Corsin harus melayani beberapa turis yang meminta informasi. Corsin melayani dengan ramah namun tidak berlebihan. 

Sebagian turis datang bukan untuk meminta informasi melainkan meminta ijin untuk berfoto bersama. Bagaimanapun Swissguard dengan seragam khasnya memang menarik perhatian banyak turis. Dengan halus namun tegas, Corsin menolak permintaan tersebut. Hal ini bisa dimengerti. Bila ia mengijinkan seorang turis berfoto bersama, maka turis lain akan berbondong-bondong datang untuk minta berfoto juga. Dan itu akan mengganggu tugasnya. (Untuk keperluan HIDUP, Corsin bersedia difoto bahkan sampai 10 kali!!).

Corsin Kofler memang hanya lulusan SMU, namun kemampuan berbahasanya mengagumkan. Tanpa canggung Corsin membalas turis Jerman, Perancis, Inggris, Italia dalam bahasa mereka. Corsin mengaku, di negaranya orang umumnya menguasai dua-tiga bahasa sekaligus. Selama bertugas di Vatikan, Corsin mendapat kesempatan untuk mempelajari beberapa bahasa lain. “Tiap hari saya bertemu macam-macam orang dengan bahasa berbeda. Ini mendorong saya untuk mengerti bahasa-bahasa lain juga”, jelasnya.

Pekerjaan menjadi seorang Swissguard tidak membuat Corsin Kofler kaya. Namun, kebanggaan dan kepuasaan batin yang ia peroleh barangkali tak tergantikan dengan uang berapapun juga!

Heri Kartono.

(Dimuat di HIDUP vol.60 no.25,  Juni 2006).

Dari Dapur ke Dapur


Sr. Celine CB.

 

DARI DAPUR KE DAPUR 

Orang yang selalu berurusan dengan makanan, biasanya berbadan subur. Hal ini tidak berlaku untuk Sr. Celine CB. Suster asal Magelang ini justru berbadan ramping bahkan cenderung kurus. Bulan Juli 2006 ini, tepatnya tanggal 29, suster berwajah teduh ini merayakan 50 tahun hidup membiara. Sebagai seorang biarawati tugasnya hampir selalu di dapur. Kalaupun ia berpindah tempat, itu hanya berarti pindah dari dapur yang satu ke dapur yang lain.

Suster yang tidak banyak bicara ini pernah lama bertugas sebagai kepala dapur RS.Boromeus, Bandung membawahi lebih dari 40 karyawan. Waktu itu, ia masih sempat juga mengurus makanan para frater projo Keuskupan Bogor yang kuliah di Bandung. “Bagaimana suster bisa mengurus dapur Rumah Sakit dan dapur para frater sekaligus?”. Mendengar pertanyaan ini Sr.Celine menjawab tenang: “Ah, itu kan hanya soal koordinasi saja. Asal kita bisa bekerja sama dengan para karyawan, hal itu selalu bisa diatur!”, jawabnya.

Ketika ditanya kiat menghadapi beragam karyawan yang berbeda, Sr.Celine menjelaskan: “Yang penting kita musti menghargai serta memperlakukan mereka secara adil. Saya selalu berusaha memperlakukan mereka sama, tidak pilih kasih”, ujarnya meyakinkan.

Perayaan 50 tahun biasanya dirayakan secara meriah. Namun Suster yang kini tinggal di biara St.Anna, Jogya ini memilih suatu peringatan sederhana, tanpa pesta. “Jogya sedang menderita karena gempa, bagaimana mungkin saya bisa berpesta pada saat seperti ini?”, jelasnya penuh pengertian.

Di biara St.Anna, Sr. Celine juga bertugas di dapur. Suster yang fasih berbahasa Sunda ini tidak pernah menyesal berkarya di dapur. Ia selalu menjalankan tugas dapurnya dengan kesungguhan hati, sebagaimana ia menjalani hidup religiusnya.

Profisiat suster!

Heri Kartono.

(Dimuat di HIDUP).

Doktor Kebenaran Dari Pontianak.


Dr. Paulus Toni Tantiono, OFM Cap.

DOKTOR KEBENARAN DARI PONTIANAK

“It’s a very clear presentation”, komentar Prof. Scott Brodeur, SJ tentang pemaparan desertasi doktorat dari Pastor Paulus Toni Tantiono OFM Cap.  Komentar senada disampaikan juga oleh Prof.Romano Penna yang bertindak sebagai penguji kedua. Pastor Toni mempertahankan desertasinya di Universitas Gregoriana Roma (22/02/08) dengan judul Speaking The Truth In Christ, sub-judul An Exegetico-Theological Study on Galatians 4, 12-20 and Ephesians 4, 12-16. Bertindak sebagai pemimpin sidang adalah Prof.Alberto Valentini.

Dalam paparannya, imam Kapusin kelahiran Pontianak (24/03/64) ini menjelaskan bahwa kata-kata to speak the truth (menyatakan kebenaran) di dalam Perjanjian Baru hanya terdapat dua kali. Meskipun demikian, melihat konteksnya, kata-kata tersebut amatlah penting. Lewat kata-kata itu, Santo Paulus berjuang untuk memenangkan kembali orang-orang kristiani non-Yahudi dari pengaruh Yahudi. Dalam desertasinya, mantan dosen Kitab Suci STFT Pematang Siantar ini melakukan pelbagai pendekatan seperti metode kritis-historis, pendekatan sosiologis, metode synchronic dan diakronik serta analisis epistolography-rhetorik.

Paulus Toni merasa senang dan lega telah berhasil mempertahankan desertasinya setebal 300 halaman. “Sekarang saya bisa kembali ke tanah air dengan perasaan lega”, ujar imam yang selalu mengenakan jubah coklatnya ini. Saat ditanya, apa tugas selanjutnya, Toni mengaku belum tahu. “Itu tergantung pimpinan saya!”, jelasnya. Dimanapun Toni akan ditempatkan, satu hal yang akan dilakukannya adalah to speak the truth sebagaimana yang ia tulis. Profisiat!

Heri Kartono, OSC. (HIDUP, 9 Maret 2008).

 

 

Bocca della Verita.


Bocca della Verita.

 

 

MULUT KEBENARAN.

     Salah satu tempat yang banyak dikunjungi turis di kota Roma adalah La Bocca Della Verita. La Bocca Della Verita sendiri artinya Mulut Kebenaran. Bentuk La Bocca amat sederhana, sebuah wajah yang dibuat dari marmer tebal dengan diameter sekitar 2 meter dan berbobot 1300 Kg. Mulut La Bocca terbuka lebar.  Menurut legenda Roma kuno, orang yang diragukan kebenarannya, akan dibawa ke tempat ini. Disaksikan oleh banyak orang, dia diminta memasukan tangannya ke dalam mulut La Bocca. Bila ia berbohong, La Bocca akan menggigit putus tangannya. Patung wajah ini sejak abad ke 17 dipasang di teras dinding Gereja Santa Maria in Cosmedin di jantung kota Roma. Sampai sekarang, tempat ini banyak dikunjungi turis, apalagi turis-turis dari Jepang. Mereka datang untuk berfose sambil memasukkan tangan ke dalam mulut La Bocca  sebagai kenang-kenangan.

     Rasanya bukan tanpa alasan bahwa orang Roma kuno sangat menghargai apa artinya sebuah kebenaran. Harkat seseorang pertama-tama tidak ditentukan oleh penampilan, harta atau apapun, tetapi kebenaran yang keluar dari mulutnya. Bila orang sudah tidak bisa dipercaya lagi, tamatlah riwayatnya. Dalam banyak aspek kehidupan, kebenaran memegang peranan penting. Mengapa Harian KOMPAS banyak dicari orang dan dijadikan “referensi”?, karena Koran ini memiliki reputasi di bidang penyampaian kebenaran berita.

     Dalam hal bisnis kebenaran juga memegang peran utama. Sering orang menduga, dunia bisnis adalah dunia tipu-menipu. Rupanya tidak!  Bisnis yang sehat, maju dan bertahan lama adalah bisnis yang bisa dipercaya! Demi mempertahankan kepercayaan konsumen, pebisnis sering rela berbuat apa saja. Sebaliknya, pebisnis yang tidak bisa dipercaya omongannya, dalam waktu singkat akan ditinggalkan para kliennya. Pebisnis ulung di seluruh dunia sangat menyadari pentingnya faktor “kepercayaan” dalam dunia bisnis. Timbulnya kepercayaan berawal dari kebenaran ucapannya.

     Soal kebenaran ini merupakan persoalan serius. Orang Belanda,  sejak awal sangat menekankan pada anak-anak mereka untuk tidak berbohong. Soal “nyontek” di kelas, misalnya, bagi mereka sama sekali bukan soal sepele. Bila seorang anak sejak kecil sudah terbiasa tidak jujur lewat tindakan nyontek, maka dia juga akan tidak jujur dalam banyak hal lain. Bila kebiasaan nyontek merupakan kebiasaan umum di Indonesia, maka tidak heran juga bahwa korupsi dan rapuhnya mentalitas merupakan persoalan umum di negeri kita ini. Konon, salah satu keengganan orang luar negri berbisnis dengan orang Indonesia, karena orang Indonesia sulit dipegang kebenarannya.

     La Bocca Della Verita adalah patung mati yang tidak terlalu berharga. Namun demikian, kebenaran pesan yang hendak disampaikannya akan tetap bergema sepanjang masa.

Heri Kartono.OSC

(Dimuat di Majalah KOMUNIKASI).