Monday, December 14, 2009

Maria Ch. Pudji Suhartini



SEMPAT DICEMOOH DAN DICURIGAI

Menjadi saksi Kristus tidak harus pergi ke ujung dunia. Kita dapat bersaksi di lingkungan sekitar kita. Itulah yang dilakukan Maria Ch. Pudji Suhartini (55). Niat baiknya untuk membantu anak-anak terlantar tetap ia jalankan kendati sempat dicemooh, dicurigai bahkan dimata-matai.

Setiap kali ia keluar rumah, ia melihat banyak anak-anak berkeliaran di jalanan tak jauh dari tempat kediamannya. Beberapa di antara mereka tergolong masih amat kecil. “Jadilah terang dunia. Jadilah garam dunia dimanapun kamu berada”, begitu teriang-ngiang kotbah pastor di parokinya saat Pudji melihat kumpulan anak-anak jalanan tersebut. Sebagai seorang kristiani, sekaligus pendidik, hatinya tergerak untuk berbuat sesuatu.

Berawal dari Permen Coklat

Suatu sore, berbekal sekantung permen coklat, Pudji seorang diri mendekati anak-anak jalanan di perempatan jalan Terusan Pasteur, Bandung. Permen coklat yang dibawanya itu ia tawarkan pada kawanan anak-anak yang sedang bergerombol. Dalam waktu singkat, habislah permen-permen di tangannya. Setelah menerima permen, anak-anak itupun langsung berlalu. Beberapa di antara mereka sempat mengucapkan terima kasih. Keesokan harinya, Pudji melakukan hal yang sama. Anak-anak datang dan menerima permen namun segera pergi meninggalkannya.

Pada hari ketiga, sesudah membagi-bagi permen, Pudji mencoba berdialog dengan mereka. Ada satu-dua anak yang mau diajak berbicara. Mungkin mereka mengharapkan pemberian lebih darinya. Sesudah beberapa saat, Pudji menawarkan diri untuk memberi bimbingan belajar. Tak lupa, Pudji menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang guru. Rupanya ada beberapa anak yang tertarik dan bersedia mendapat pelajaran darinya.

Di ujung perempatan jalan, ada sebuah “gardu polisi” yang sedang dibangun. Bagian dasar gardu tersebut telah selesai disemen. Di tempat inilah pelajaran membaca, menulis dan berhitung dimulai (Januari 2004). Awalnya hanya sebagian kecil anak yang mengikutinya. Hari-hari selanjutnya semakin banyak anak yang ikut bergabung. Untuk menciptakan suasana gembira, sekali-kali Pudji mengajak ‘anak asuhnya’ menyanyikan lagu bersama-sama.

Lokasi Pudji mengajar, hanya beberapa ratus meter dengan kampus Universitas Kristen Maranatha. Kebetulan ada sejumlah mahasiswa Maranatha yang sedang membutuhkan penelitian anak jalanan untuk bahan skripsi mereka. Mahasiswa-mahasiswa ini kemudian bergabung membantu Pudji. Adanya para mahasiswa yang bersedia membantu makin memberi semangat Pudji sekaligus makin menghidupkan suasana. Tidak heran bahwa dari hari ke hari jumlah anak yang ikut bergabung makin banyak.

Beberapa anak memiliki semangat besar namun tak memiliki fasilitas. Buku dan alat tulispun mereka tak mampu membeli. Pudjipun tanpa pikir panjang merogoh koceknya untuk membantu mereka. Ketika jumlah anak yang ikut belajar makin besar, maka dibutuhkan dana yang lebih besar pula, terutama untuk alat tulis. Untunglah para mahasiswa Maranatha tergerak untuk ikut mencarikan dana. Pudji sendiri mendapat seorang sponsor yang bersedia membantu kegiatannya.

Dicemooh dan Dicurigai

Ketika gardu selesai dibangun dan mulai digunakan oleh polisi, maka Pudjipun kehilangan tempat mengajar. Kebetulan, pada saat yang sama, para mahasiswa Maranatha telah selesai juga dengan penelitian mereka. Adapun anak-anak sendiri masih bersemangat untuk mengikuti bimbingan. Melihat minat belajar anak-anak yang amat besar, Pudji akhirnya memutuskan menggunakan garasi di rumahnya sebagai tempat belajar (September 2005). Semula Euphrasius Budiyono, suami Pudji keberatan. Alasannya, kegiatan yang dilakukan istrinya dapat mengundang kecurigaan masyarakat sekitar. Maklumlah, Pudji sekeluarga beragama Katolik sementara hampir seluruh anak beragama Islam. Namun, melihat keteguhan hati sang istri, akhirnya Budiyonopun menyerah. Bahkan, setiap saat, Budiyono ikut membantu dengan mengeluarkan mobil dari garasi dan mengatur meja-kursi tempat bimbingan belajar anak-anak.

Sesudah kegiatan pengajaran berlangsung beberapa minggu, reaksipun mulai bermunculan. Warga Katolik sendiri umumnya merasa cemas dan tidak mendukung kegiatan Pudji. Bahkan, Pudji pernah difitnah dan dicemooh sebagai pahlawan kesiangan. “Saya sampai takut untuk ikut kegiatan di lingkungan sendiri”, ujar wanita kelahiran Yogyakarta ini sambil meneteskan air mata. Kegiatan Pudji sempat juga dicurigai oleh beberapa tokoh Islam. Pudji merasa selama pengajaran, selalu ada orang yang mondar-mandir di luar. “Nampaknya ada yang memata-matai kegiatan saya”, kenang Pudji. Kendati mendapat pelbagai reaksi negatif, Pudji tetap meneruskan kegiatannya. Ia amat bersyukur bahwa suami dan keempat anaknya mendukung aktivitasnya. Stefani, anak Pudji yang ketiga bahkan ikut membantu mengajar.

Anak-anak yang ikut pengajaran makin hari makin bertambah hingga mencapai 100 anak. Atas beberapa pertimbangan, Pudji akhirnya lebih memusatkan pada anak-anak usia dini, yaitu antara usia 2 hingga 6 tahun. Pudji tidak hanya mengajarkan calistung (baca-tulis dan berhitung) namun juga sopan santun dan tata krama pergaulan. Pudji merasa bersyukur bahwa anak-anak didiknya berubah menjadi santun, tidak lagi mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sedikit yang menjadi juara di sekolahnya.

Diakui Masyarakat

Adanya perubahan pada diri anak-anak dilihat juga oleh orang tua mereka. Tentu saja para orang tua menjadi gembira melihat anak-anak mereka menjadi pandai dalam pelajaran dan santun dalam pergaulan. “Saya sangat terharu ketika seorang tokoh masyarakat yang sebelumnya selalu menaruh curiga, akhirnya mengirim juga anaknya ikut bimbingan belajar”, papar Pudji dengan suara bergetar.

Pernah, pak Lurah bersama rombongan ibu-ibu PKK datang khusus menemui Pudji. Mereka menyatakan dukungannya sambil meminta Pudji untuk tetap melanjutkan bimbingan belajarnya. Pudji juga merasa gembira karena ada 5 wanita, semuanya beragama Islam, yang bersedia membantunya. Sebelumnya Pudji sempat dibantu muda-mudi Katolik dari paroki Pandu. Namun mereka tidak bertahan lama menghadapi tingkah anak-anak jalanan.

Untuk menyelenggarakan bimbingan belajar, diperlukan dana yang tidak sedikit. Biaya terutama dibutuhkan untuk membeli alat-alat tulis bagi anak-anak yang tidak mampu. Hal ini merisaukan hati Pudji. Penghasilannya sebagai Kepala TK Indriyasana tidaklah seberapa. Demikianpun tidak banyak donatur yang berminat membantu aktivitasnya. Suatu hari, dengan memberanikan diri, Pudji menemui pastor Agustinus Sudarno OSC, pastor parokinya. Pudji menceriterakan kegiatan yang dilakukannya sambil juga membeberkan kesulitan yang dihadapinya. Di luar dugaan, pastor paroki menaruh perhatian besar dan membantu sepenuhnya kegiatan Pudji. Sejak saat itu kegiatan menjadi makin teratur dan anak-anak yang tak mampu mendapat bantuan seperlunya.

Pada tanggal 3 Juli 2008, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, Pudji beserta anak asuhnya diundang Dinas Pendidikan ke Gubernuran. Pudji beserta anak-anak asuhnya diterima Dede Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Barat. Nampaknya Dede Yusuf amat terkesan atas kegiatan yang dilakukan Pudji. Bagi Pudji sendiri, undangan ke Gubernuran atas prakarsa Dinas Pendidikan ini merupakan pengakuan sekaligus penghargaan atas jerih payahnya selama ini.

Pudji memang patut bersyukur. Niat baiknya untuk membantu anak-anak terlantar tanpa membedakan agama, suku maupun status sosial akhirnya mendapat pengakuan. Maria Ch. Pudji Suhartini telah sungguh menjadi Terang dan Garam Dunia bagi masyarakat di mana ia tinggal.

Heri Kartono, OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 3 Januari 2010).

Sunday, December 13, 2009

Sani Suwanta





Berkat Terus Mengalir..

Sejak duduk di kelas I SMA, Irene Sani Sumawi telah bertaut hati dengan Josephat Suwanta Sinarya, teman karib kakaknya.

Setiap kali Suwanta mengunjungi kakaknya, Sani ikut menemuinya. Dari untaian perjumpaan itu, cinta pun bersemi di hati mereka. Saat itu Suwanta sudah menganut agama Katolik. Sementara Sani belum dibaptis.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya 14 Maret 1982, setelah Suwanta lulus sebagai seorang dokter dan Sani menamatkan studinya di IKIP Jurusan Bahasa Inggris, akhirnya mereka saling menerimakan Sakramen Perkawinan.

Seminggu sebelum menikah, Sani dibaptis menjadi Katolik. Kerinduannya menjadi pengikut Kristus pun akhirnya terwujud……….

Penuh Semangat

Berbekal ijazah IKIP, Sani bekerja sebagai guru bahasa Inggris di SMA St. Maria Cirebon. Dengan bersemangat, ia pun mengajar. Sementara sebagai dokter muda, sang suami bertugas di Ciwaringin, sebuah desa kecil sekitar 25 kilometer dari Kota Cirebon.

Sani pun ikut mendampingi suaminya. Mereka tinggal di sebuah rumah dinas yang serba sederhana. Waktu itu, Ciwaringin adalah sebuah desa yang lengang dan masih belum dialiri listrik. Penerangan di desa itu umumnya diperoleh dari petromaks, tak terkecuali rumah keluarga dokter Suwanta.

Setiap hari Sani harus pergi-pulang mengajar di Kota Cirebon. Meski aktivitasnya relatif padat, ia melakukannya dengan gembira. Ia bahagia bisa melebur di antara murid-muridnya.

Meski kesehariannya senantiasa sibuk, Sani tak kunjung putus merindukan kehadiran anak. Seiring waktu, kecemasan mulai menyergapnya karena tanda-tanda kehamilan tak kunjung datang. Padahal, usia perkawinan mereka sudah menginjak tahun ketiga.

Sesuai saran beberapa kerabatnya, dengan berat hati Sani berhenti mengajar. Ia berusaha untuk tidak kelelahan dan menjaga kesehatannya dengan seksama. Semua itu ia lakukan demi keinginannya memperoleh momongan.

Suwanta, sang suami, ikut berupaya secara maksimal. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan medis, akhirnya diketahui ada kekurangan pada Sani dan Suwanta. Mereka pun berobat ke pelbagai tempat, antara lain ke Surabaya dan Jakarta.

Sebuah tim dari Universitas Indonesia yang terdiri dari lima dokter dibentuk untuk membantu pasangan muda ini. Nyatanya, semua usaha yang mereka tempuh tidak membuahkan hasil sebagaimana mereka dambakan. Sani tetap tak kunjung mengandung.

Sani pun dirundung stres hingga ia mengidap penyakit asma. Ia sempat terpukul ketika mendengar seorang kerabatnya menyebut dirinya gabug (bahasa Cirebon, artinya mandul).

Syukurlah, meski tak mempunyai keturunan, Sani dan Suwanta tetap saling mencintai. Kendati demikian, sebagai suami-istri, ada saat-saat di mana mereka tidak sepaham. Pertengkaran pun tak terhindarkan. Pada saat-saat demikian, Sani sungguh merasa sendirian.

Dalam hati, ia sering berkata, “Jika aku memiliki anak, tentu aku dapat bermain-main dengan anakku dan tidak merasa sendirian seperti ini!” Keluh-kesah serta permohonan senantiasa ia lambungkan ke hadirat-Nya, terutama di tengah keheningan malam.

Yang terbaik

Sani bersyukur, keluarganya maupun keluarga sang suami tidak menuntut mereka harus memiliki keturunan. Sikap mereka itu melegakan batinnya. Perlahan-lahan Sani belajar menerima kenyataan bahwa perkawinannya memang tidak dikaruniai anak.

“Perkawinan tidak mutlak harus mempunyai keturunan. Tuhan memberi yang terbaik bagi kami,” begitu Sani kerap meyakinkan diri.

Tahun 1991, Sani bersama Suwanta mengikuti Seminar Hidup Baru dalam Roh. Melalui acara tersebut, mereka memperoleh kesegaran rohani. Sejak itu, perlahan-lahan Sani mulai melibatkan diri dalam aktivitas Gereja. Sani aktif di Stasi Jamblang dan di Paroki St. Joseph, Cirebon.

Nyatanya, dari hari ke hari, aktivitas Sani di lingkunagn Gereja semakin bertambah. Saat ini, ada beberapa kegiatan yang ia geluti secara rutin. Selama dua periode, ia dipercaya sebagai Koordinator Karismatik Paroki St. Joseph, Cirebon. Ia juga menjadi penanggung jawab toko paroki, aktif di seksi liturgi, menjadi penggerak Stasi Jamblang dan terlibat dalam sejumlah kegiatan insidental lainnya.

Karena Sani begitu aktif di lingkungan Gereja, suaminya pun berseloroh, “San, kamu aktif sekali di Gereja, mestinya kamu kos saja di Gereja!” Gelak tawa Sani pun pecah menanggapi komentar Suwanta.

Menemukan jawaban

Dari serangkaian permenungannya, Sani menemukan jawaban mengapa dirinya aktif di lingkungan Gereja. Pertama, ia merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu demi Gereja. Kedua, ia mendapat dukungan penuh dari sang suami. “Bagi saya, persetujuan dan dukungan suami penting sekali artinya,” ujar Sani dengan logat Cirebon yang kental.

Selain itu, ia mengaku aktif di gereja karena ingin sedikit membalas kasih Tuhan. Sani memang patut bersyukur kepada Tuhan. Karier suaminya sebagai dokter melesat. Saat ini, selain menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Waled Cirebon, Suwanta berhasil membangun sebuah rumah sakit pribadi bernama RS Sumber Waras di Ciwaringin. Sementara Sani mempunyai usaha apotik yang terbilang maju.

Dengan kian terlibat di lingkungan Gereja, Sani kian merasakan kebaikan Tuhan. Banyak hal tak terduga ia alami. Semisal, ketika ia menjadi Ketua Pembangunan Gereja Stasi Jamblang (2001-2002). Saat mengalami kesulitan dana, tiba-tiba muncul seorang bapak dari Jakarta yang menyumbang semen yang dibutuhkan.

Lewat mimpinya, bapak ini mendapat pesan untuk membantu pembangunan Gereja Stasi Jamblang. “Padahal, saya tidak tahu menahu di mana letak Stasi Jamblang,” ujar bapak yang murah hati itu. Beberapa kali kejadian semacam itu terjadi, membuat Sani terheran-heran sekaligus makin percaya bahwa Tuhan sungguh baik.

Sejak aktif di lingkungan Gereja, Sani merasa lebih tenang dan pasrah. “Dulu, kalau bepergian, saya tak bisa tenang karena terus memikirkan usaha saya. Sekarang saya dapat mempercayakan usaha saya kepada orang lain dan saya dapat bepergian dengan nyaman,” tutur wanita yang gemar melancong ke luar negeri ini.

Isu Miring

Tidak selamanya berkarya di lingkungan Gereja menyenangkan Sani. Ia pernah merasakan pengalaman getir, ketika dirinya difitnah menyalahgunakan dana Gereja. Peristiwa itu terjadi saat Sani sedang giat membangun Gereja Stasi Jamblang.

Pada saat bersamaan, Sani memang sedang membangun apotik dan rumah pribadi. Sementara insinyur yang membangun rumah Sani juga membantu pembangunan gereja. Kondisi ini sempat memunculkan isu miring dari sekelompok orang. “Saya dan suami saya merasa terkejut dan terpukul ketika fitnah itu sampai di telinga kami,” ujar Sani mengenang pengalaman pahitnya itu.

Pastor J. Widyasuhardjo OSC yang menjadi pastor parokinya saat itu, mengetahui bahwa isu tersebut sama sekali tidak benar. “Justru Ibu Sani bersama Pak Suwanta bekerja keras mencari dana. Bahkan, tak jarang mereka mengeluarkan dana dari kantong pribadi. Soalnya, paroki hanya memberi dana 10% saja dari anggaran keseluruhan. Sisanya dicari oleh panitia pembangunan,” tutur pastor yang kini bertugas di Paroki St Monika, Serpong, Tangerang ini.

Menurut Pastor Widya, Sani tergolong orang yang amat teliti di bidang keuangan. “Laporan keuangannya selalu rapih dan terinci sampai hal-hal kecil,” kenang pastor yang murah senyum ini. Pastor Widya menilai Sani sebagai sosok yang murah hati dan peduli pada kebutuhan Gereja.

“Pastor Blessing OSC, Penanggung Jawab Stasi Jamblang yang sudah sepuh, pernah diantar berobat mata ke Singapur, bahkan diajak berziarah ke Yerusalem atas biaya keluarga Ibu Sani,” tambah Pastor Widya.

Padre Pio

Di usia menjelang 50 tahun, Sani makin menyadari segala yang ia peroleh adalah anugerah Tuhan. Termasuk seisi keluarganya yang mengikuti jejaknya menjadi Katolik. “Yang terakhir menjadi Katolik adalah papi,” ujar wanita kelahiran Cirebon, 3 November 1957 ini terharu.

Belum lama ini, Sani bersama Suwanta berkunjung ke San Giovanni Rotondo Italia, tempat Padre Pio berkarya semasa hidupnya. Sebelumnya, mereka memang sangat terkesan pada kisah Padre Pio, imam Kapusin yang telah menyembuhkan banyak orang.

Dengan berjalannya waktu, Sani makin merasakan kebaikan Tuhan. Meski ia dan sang suami tak memperoleh keturunan, banyak berkat mengalir dalam hidupnya………

Heri Kartono, OSC (Dimuat di majalah HIDUP edisi 4 Maret 2007).

Dr.Markus Solo Kewuta SVD.


Dari Lewouran Menuju Vatikan

Ketika ia ditugaskan studi Islamologi, diam-diam ayahnya gelisah. Sang Ayah tidak setuju anaknya menggumuli bidang yang menurutnya berbahaya. Kini, justru karena bidangnya itu, Dr. Markus Solo duduk sebagai anggota Dewan Kepausan.

KEGELISAHAN sang ayah tampaknya cukup beralasan. Ia sering mendengar berbagai kerusuhan bernuansa agama di banyak tempat. Karena itu ia sempat meminta Markus Solo, anaknya, untuk menghentikan studi Islamologi dan bahasa Arab. Markus yang menaruh hormat pada ayahnya, kala itu tak dapat memenuhi permintaan ayahnya. Ketaatannya pada pimpinan tarekat lebih diutamakan daripada memikirkan keselamatan pribadi.

Pada bulan Juli tahun lalu. Markus Solo Kewuta resmi diangkat menjadi anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama. Andai ayahnya masih hidup, pastilah ia akan bangga melihat anaknya menjadi orang Indonesia pertama yang duduk dalam jabatan terhomat itu.

Markus lahir di kampung Lewouran, Flores Timur (4/8/68). Ayahnya, Nikolaus Kewuta adalah seorang petani sederhana sementara ibunya Getrurd bekerja sebagai ibu rumah tangga. Kedua orangtua ini telah meninggal dunia. Ayahnya meninggal tahun 2005 sedangkan ibunya tahun 1985. Markus adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Saudara sulungnya, Yosef Bukubala adalah seorang imam SVD juga. Markus mengaku, cita-citanya menjadi imam tumbuh saat mendengarkan kisah-kisah menarik tentang seminari yang disampaikan kakak sulungnya ini. “Perjalanan panggilan kakak saya menjadi motivasi sekaligus inspirasi bagi saya juga.”, ujar penggemar sepakbola ini.

Pulau Flores, khususnya di kampung halamannya, mayoritas penduduk beragama Katolik. Tidak banyak umat dari agama lain. Markus mulai menyadari kenyataan pluralitas Indonesia melalui buku-buku yang dibicaranya. Lelaki yang selalu menjadi juara kelas ini memang rajin membaca sejak Sekolah Dasar. Mulai saat itu, ia juga tertarik mengenal agama lain khususnya Islam.

Mengenal Islam

Keinginan Markus mengenal agama Islam mulai terpenuhi kuliah Islamologi di Seminar Tinggi Ledalero. Selesai studi Filsafat di Ledalero, ia meneruskan studi Teologi di Austria (1992-1997). Di Austria, ketertarikannya pada Islam tetap melekat. Skripsi yang ia tulis juga berkaitan dengan agama Islam, judulnya : Humanisierung der Handhabung des Gesetzes im Koran (Humanisasi Penerapan Hukum Agama Islam dalam al-Qur’an).

Setelah memperoleh gelar Master Teologi, Markus sempat bekerja di sebuah paroki di propinsi Salzburg, Austria, tempat kelahiran pemusik terkenal Wolfgang Amadeus Mozart, selama dua tahun. Tahun 1999 ia melanjutkan studi Doktorat Teologi Fundamental di Universitas Innsbruck, Austria. Tahun 2002 ia berhasil meraih gelar Doktor Teologi dengan predikat Summa Cum Laude.

Pimpinan tarekat tampaknya mengamati, Markus mempunyai minat besar pada masalah dialog agama terutama dengan Islam. Karena itu, kendati Markus telah meraih gelar doctor di bidang Teologi, pimpinannya menugaskan lagi untuk studi Bahasa Arab dan Islamologi. Untuk itu, ia sempat studi di Kairo, Mesir, kemudian di PISAI (Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies) Roma. Markus menyelesaikan studi ini sampai tingkat Licensiat.

Ketika studi di Kairo (2002-2003), imam bertubuh bongsor ini berkenalan dengan Presiden PCID (Pontifical Council for Interreligious Dialogue atau Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama) Mgr. Michael Fitzgeralg, yang sedang melawat ke Kairo. Beberapa tahun kemudian (2005) saat Dewan Kepausan menyelenggarakan Konferensi Internasional Dialog Antar Agama di Wina, Austria, Markus Solo Juga diundang.

Waktu itu, Markus memang sudah kembali ke Austria dan bertugas sebagai Rektor Institut Afro-Asia di Wina. Mgr. Fitzgerald sendiri yang mengundang Markus. Pada kesempatan itu Markus diperkenalkan dengan tokoh-tokoh PCID dan peserta konferensi yang lain. (Mgr. Fitzgerald kini beralih tugas sebagai Nuntius di Mesir).

Penasihat Paus

Pertemuan dengan para tokoh PCID itu amat menentukan perjalanan Markus selanjutnya. Rupanya PCID melihat mantan Ketua Irrika (Ikatan Rohaniwan/wait Indonesia di Kota Abadi) ini sebagai sosok yang tepat untuk duduk sebagai anggotanya.

Setelah melewati proses screening, termasuk wawancara, Januari 2007 Markus mendapat panggilan untuk bergabung dengan PCID. “Rasanya seperti mimpi. Saya tak pernah membayangkan dapat bergabung dalam tim Penasihat Sri Paus”, tutur Markus yang fasih berbahasa Jerman, Italia, Inggris, dan Arab ini.

Juli 2007, Markus, yang kerap disapa Padre Marco, diterima resmi bekerja di PCID. Ia menempati Desk Dialog Kristen-Islam untuk wilayah Asia. Amerika Latin dan Afrika Sub-Sahara. Tugas utamanya adalah memantau serta mengikuti perkembangan Dialog Kristen-Islam di wilayah tersebut. Informasi yang ia peroleh lewat berbagai jalur, ia observasi dan simpulkan untuk kemudian di serahkan pada Presiden PCID.

Informasi tersebut diteruskan juga ke Sekretariat Vatikan. Tugas lain yang tak kalah penting adalah menyiapkan berita-berita tertulis (instructions) untuk setiap Nuntius (Duta Besar Vatikan) baru di wilayah tanggung-jawabnya. Selain itu, bersama rekan PCID yang lain, Markus ikut menerima kunjungan ad-Limina para Uskup seluruh dunia.

Pertemuan dengan para uskup tersebut merupakan ajang tukar informasi tentang perkembangan mutakhir dialog Kristen-Islam. Selain itu, PCID juga memberikan peneguhan serta motivasi kepada para uskup untuk terus mempromosikan dialog.

Ciptakan Lagu

Bekerja di lingkungan Vatikan menuntut kerja keras serta disiplin tinggi. Markus yang doyan makan kentang ini, bekerja dari Senin hingga Sabtu. Kantornya terletak di depan Basilika Santo Petrus, Vatikan. Hari Minggu adalah satu-satunya hari untuk beristirahat.

Biasanya ia mengisi waktu luangnya untuk mengembangkan hobinya di bidang musik. Sejak kecil ia memang senang bernyanyi. Ketika masuk seminari, Markus sudah mampu memimpin koor bahkan menciptakan lagu. Sudah cukup banyak lagu rohani yang ia ciptakan, salah satunya lagu Bawalah Daku ke Sion. Lagu ini ia gubah tahun 1992.

Hobi Padre Marco dalam hal musik sempat membawanya masuk dapur rekaman. Kaset pertamanya dikeluarkan tahun 2001, bersama salah seorang keponakannya. Kaset tersebut berisi lagu-lagu pop daerah Flores Timur. Sekarang ini ia sedang menantikan DVD terbarunya bernama Album Agora Volume 1. Album yang dibuat bersama rekan-rekan SVD ini berisi lagu-lagu rohani dalam bahasa Italia, Jerman, dan Indonesia.

Beberapa lagu merupakan ciptaannya sendiri dan sebagian lagi merupakan terjemahan lagu-lagu Italia dengan aransemen baru. Markus merasakan, hobinya di bidang musik ini merupakan selingan yang segar dan seimbang dari tugas-tugasnya yang cukup berat.

Menjadi orang Indonesia pertama yang duduk dalam Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama merupakan kebanggaan tersendiri. Markus menyadari, tugas yang diembannya tergolong berat. Ia tak tahu apa yang akan terjadi kelak pada dirinya. Namun, ia tahu bahwa dirinya harus bekerja keras dengan semangat pengabdian total. Itulah sumbangsih yang dapat ia berikan untuk Gerejanya yang ia cintai.

Heri Kartono (Dimuat di Majalah HIDUP edisi 20 Januari 2008).