Monday, March 23, 2009

Kunjungan Paus ke Afrika




MEWARTAKAN PESAN PERDAMAIAN

Lawatan Paus Benediktus XVI yang pertama kali ke benua Afrika (17-23 Maret) telah berakhir. Di Angola Paus dielu-elukan sejuta umat. Kendati demikian, komentarnya mengenai  penanggulangan penyakit AIDS mendapat kritikan tajam.

Sebanyak 60 ribu orang memadati stadion sepak bola Yaounde, ibu kota Kamerun untuk mengikuti misa akbar yang dipimpin Paus Benediktus XVI (19/3). Sebagian umat yang tidak kebagian tempat, harus puas mengikuti misa dari luar stadion. Padahal, sebagaimana dilaporkan BBC News, tidak sedikit umat yang menunggu sepanjang malam untuk dapat masuk Stadion. Presiden Kamerun Paul Biya beserta istri Chantal Biya, turut hadir dalam misa ini. Paus memang mendapat sambutan yang amat hangat (passionate welcome) dari umat Katolik Kamerun.

Sambutan hangat sudah terasa sejak hari pertama Paus tiba di bandara Internasional Yaounde (17/3). Ribuan orang berjajar di jalan yang dilalui Paus, dari bandara hingga kediaman Duta Besar Vatikan di Kamerun, tempat Paus menginap. Banyak di antara mereka mengenakan T Shirt bergambar Paus atau atribut-atribut lain, juga dengan gambar Paus Benediktus XVI. Dalam kunjungannya ke Angola (20-23/3) Paus juga mendapat sambutan yang tidak kalah meriah.

Sinode Para Uskup

Rangkaian kunjungan Paus selama sepekan di Afrika, antara lain untuk menarik perhatian dunia internasional soal isu kelaparan, kemiskinan dan konflik senjata yang banyak melanda Afrika. “Di tengah penderitaan atau kekerasan, kemiskinan atau kelaparan, korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan, kita tidak boleh tinggal diam”, ujar Paus seusai disambut Presiden Kamerun Paul Biya.

Salah satu hal penting dalam kunjungan ini adalah pengumuman Paus tentang program kerja Sinode kedua Para Uskup untuk Afrika. Sinode tersebut akan diadakan di Vatikan Oktober mendatang. Adapun temanya adalah: Gereja di Afrika dalam pelayanan Rekonsiliasi, Keadilan dan Perdamaian”. Seorang uskup sempat berkomentar bahwa Sinode ini diadakan pada saat yang tepat, dimana Afrika amat membutuhkan rekonsiliasi serta perjuangan menegakkan keadilan dan perdamaian. Sinode pertama para Uskup untuk Afrika dibuka oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1994.

Dalam pertemuan dengan para uskup di Kedutaan Vatikan, Yaounde, Paus antara lain berkata: “….Apa yang dapat dilakukan Sinode tahun ini untuk membangun Afrika yang haus akan rekonsiliasi, perdamaian serta keadilan? Perang suku, pembunuhan massal serta genocide (pemusnahan suatu suku/ras tertentu) yang terjadi di benua ini semestinya menantang kita secara khusus: Jika benar bahwa di dalam Yesus Kristus kita adalah satu keluarga….seharusnya tidak ada lagi kebencian, ketidak-adilan serta perang”, ujarnya. Masih menurut Paus, Sinode kedua untuk Afrika merupakan kesempatan penting yang menawarkan harapan besar, baik bagi Afrika maupun seluruh dunia. “Rebutlah kesempatan yang diberikan Tuhan bagi kalian. Jawablah panggilan-Nya untuk membawa rekonsiliasi, penyembuhan serta perdamaian bagi komunitas dan masyarakat kalian”, tegas Paus.

Selama di Kamerun, Paus antara lain bertemu Presiden Paul Biya di istana kepresidenan; bertemu para Uskup Kamerun; bertemu 22 tokoh Muslim Kamerun; mengunjungi pusat Rehabilitasi Orang cacat yang didirikan oleh Kardinal Paul Emile Leger dan merayakan misa bersama umat. Pada hari Jumat pagi (20/3), Paus bertolak menuju Negara Republik Angola.

Rekonsiliasi dan Perdamaian

Menurut laporan CNN, diperkirakan satu juta orang menghadiri misa akbar yang dipimpin Paus Benediktus XVI (Minggu 22/3). Misa di alam terbuka ini berlokasi di pinggiran Luanda, ibu kota Angola. Pada kesempatan tersebut, Paus mengajak warga Angola untuk membangun negerinya sesudah puluhan tahun dilanda perang saudara. “Secara tragis awan jahat telah menaungi Afrika, termasuk negara Angola tercinta”, ujar Paus. “Saya datang ke Afrika untuk mewartakan pesan pengampunan, harapan dan hidup baru di dalam Kristus”, lanjut Paus disambut tepuk tangan hadirin.

Dari 17 juta penduduk Angola, 60% beragama Katolik. Agama Katolik masuk Angola 500 tahun yang lalu. Angola adalah negara bekas jajahan Portugis sejak abad 16 hingga tahun 1975. Selama hampir tiga dasawarsa, negeri yang memiliki kekayaan minyak dan intan ini babak belur dilanda perang saudara (sebanyak 15 ribu orang tewas, termasuk para misionaris dalam perang saudara yang baru berakhir tahun 2002). Karena itulah pesan perdamaian Paus dirasa amat cocok dan aktual.

Antusias orang dalam menyambut Paus sempat memakan korban jiwa. Hal ini terjadi di stadion Luanda, menjelang pertemuan Paus dengan kaum muda (21/3). Insiden terjadi ketika pintu gerbang stadion dibuka, empat jam sebelum kedatangan Paus. Saat berdesak-desakan masuk, jatuh korban jiwa. Dua orang gadis tewas di tempat terinjak-injak, sementara 40 orang lainnya luka-luka, sebagian dilarikan ke Rumah Sakit. Salah seorang korban yang selamat, Conceicao Cassange, mengatakan bahwa stadion amat penuh dan temperatur amat panas. Saat itu, sebanyak 30 ribu orang memadati stadion, sebagian besar memang kaum muda namun ibu-ibu banyak juga  yang ikut hadir sambil membawa bayi mereka. 

Pastor Federico Lombardi, juru bicara Vatikan, mengatakan bahwa Paus sangat terkejut saat diberi tahu tentang kecelakaan tersebut. Esok harinya, saat merayakan misa akbar, Paus menyatakan duka cita yang mendalam atas tragedi tersebut. “Saya sampaikan simpati saya kepada keluarga dan teman-teman mereka dan duka cita mendalam, sebab mereka (kedua gadis yang tewas) datang untuk menemui saya. Saya juga berdoa bagi mereka yang menderita luka-luka”, ujar Paus.

Selama di Angola, Paus antara lain bertemu presiden Republik Angola, Jose Eduardo Dos Santos di Istana kepresidenan di Luanda, juga bertemu petinggi Negara serta korps diplomatik; bertemu para Uskup Angola dan São Tomé; bertemu kaum muda di stadion Dos Coqueiros serta merayakan misa akbar bersama umat.

Masalah Aids dan Kondom

Salah satu hal yang mendapat publikasi luas adalah komentar Paus tentang masalah penanggulangan penyakit AIDS. Menurut laporan UNAIDS tahun 2006, sub-Sahara Afrika adalah kawasan paling parah terkena AIDS dibandingkan kawasan manapun di dunia. Hampir sepertiga atau sekitar 22,5 juta orang dewasa dan anak-anak hidup dengan HIV di kawasan tersebut. Banyak lembaga internasional berusaha membantu mengatasi masalah AIDS ini. Salah satu usaha yang paling populer adalah dengan cara membagi-bagi kondom sebagai bentuk pencegahan penularan.

Menurut Paus, kondom tidak akan menyelesaikan persoalan epidemi AIDS di benua ini. “Anda tidak bisa menyelesaikan (epidemi AIDS) dengan distribusi kondom. Sebaliknya, justru menambah persoalan”, ujar Paus. Pernyataan yang langsung mengundang kontroversi tersebut, disampaikan Paus kepada para wartawan dalam penerbangannya dari Itali menuju Kamerun.

Pernyataan Paus mengundang kecaman banyak pihak. Sejumlah menteri dan politisi dari Perancis, Jerman, Spanyol, Belgia dan Luxemburg adalah di antara yang memberi reaksi keras. Menurut mereka, pernyataan Paus mengaburkan bukti ilmiah yang ada dan beresiko membahayakan banyak jiwa di kawasan sub-Sahara Afrika. The New York Times dalam editorialnya mengecam pernyataan Paus, demikian juga Organisasi Kesehatan Dunia. Beberapa kalangan sekuler menggambarkan Paus terisolasi dari dunia nyata. Spanyol dikabarkan sedang menimbang-nimbang untuk mengirim satu juta kondom ke Afrika guna memerangi penyebaran penyakit AIDS. “Penentangan Paus terhadap kondom, mengesankan bahwa dogma agama lebih penting daripada kehidupan rakyat Afrika”, ujar Rebecca Hodes dari Treatment Action Campaign di Afrika Selatan.

Terhadap pelbagai kecaman internasional tersebut, L’Osservatore Romano, Surat Kabar resmi Vatikan, menuduh bahwa Mass Media telah mengecilkan arti kunjungan Paus ke Kamerun dan Angola dengan polemik masalah penghentian penyebaran penyakit AIDS. Sementara Avvenire, Surat Kabar milik para Uskup Italia, menyebut para pengkritik tidak mengerti kedalaman dari pernyataan Paus.

Kepedulian Gereja/Paus tentang kondom hanyalah bagian dari ajaran yang lebih luas dengan tujuan mengajak orang untuk hidup lebih baik. Pada tahun 2005, Paus Benediktus pernah menyatakan kepada para Uskup Afrika bahwa kontrasepsi, termasuk kondom, adalah salah satu di antara trend yang membawa orang pada kemerosotan moralitas seksual. Dengan kata lain, pernyataan Paus tentang kondom sebenarnya jauh lebih luas jangkauannya daripada sekedar masalah mengatasi penyebaran penyakit AIDS, yaitu masalah perilaku seksual yang sehat dan bertanggung-jawab. Juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombardi menyatakan bahwa pendapat Paus Benediktus XVI sesuai dengan pendapat para pendahulunya.

Hari Senin sore (23/3) Paus tiba kembali di Roma, disambut unjuk rasa sekitar 50 orang kaum homo dan atheist. Mereka berdemonstrasi di luar lapangan Santo Petrus, Vatikan, sambil membawa kondom sebagai protes atas komentar Paus.

Lepas dari kontroversi masalah kondom dan AIDS, kunjungan Internasional kesebelas Paus Benediktus XVI dan yang pertama ke benua Afrika dinilai amat positif. “Saya bahagia bahwa Paus telah datang dan memberkati negeri ini. Semoga membawa banyak perubahan yang baik”, ujar Antem Cecilia, seorang guru.

Heri Kartono, OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 5 April 2009).

 

Tuesday, March 10, 2009

Prof. Giovanni Giuriati.


MAESTRO GAMELAN DARI ITALI

Saat studi doktorat di Amerika Serikat, ia berkenalan dengan musik gamelan, baik gamelan Jawa maupun Bali. Kini, Profesor musik etnis ini tidak hanya mahir memainkan pelbagai instrumen gamelan, namun juga mengajarkannya.

“Saya masih ingat betul saat pertama kali memainkan gemelan dalam pentas resmi di KBRI di Massachussets Avenue, Washington DC. Waktu itu kami di bawah bimbingan seorang pengajar dari Bali. Sungguh suatu pengalaman yang amat menggembirakan sekaligus mengesankan”, kenang Professor Giovanni Giuriati, dosen Etnomusikologi pada Universitas La Sapienza, Roma.

Giovanni mengaku sudah tertarik pada seni sejak kanak-kanak. Tak heran bahwa saat remaja, ia memutuskan masuk sekolah menengah khusus bidang seni. Sesudahnya, ia juga meneruskan kuliah bidang seni hingga tingkat doktorat. Gelar doktornya ia peroleh dari Universitas Maryland, AS, dengan spesialisasi musik Asia Tenggara. Saat itu ia dibawah bimbingan Ki Mantle Hood, seorang professor yang ahli di bidang musik Jawa dan Bali.

Kerja-sama dengan KBRI Vatikan

Kecintaannya pada musik Indonesia terus berlanjut. Selesai meraih gelar doktorat di AS, ia kembali ke Roma. Di kota tempat kelahirannya ini, Giovanni mengajar di Universitas La Sapienza. Di universitas ini, selain memberi kuliah, Giovanni juga memimpin penelitian tentang musik Bali.

Pengetahuan serta kemahiran Giovanni di bidang musik gamelan, makin sempurna saat ia berkenalan dengan I Wayan Puspayadi, seorang musikus dan penari asal Bali yang saat itu bekerja di KBRI untuk Italia. Sekitar tahun 1990-an Giovanni bergabung dengan Gong Kebyar dibawah binaan I Wayan Puspayadi.

Sejak tahun 2005, Prof.Giovanni menjalin kerja sama dengan KBRI untuk Tahta Suci. Hal ini bermula dari perkenalannya dengan Hadsono Nasehotoen, seorang pencinta kesenian dan bekerja di KBRI Vatikan. Kebetulan KBRI Vatikan memiliki perangkat gamelan lengkap, bahkan memiliki seorang pengajar sendiri, yaitu bapak Widodo Kusnantyo, seorang dosen ISI Jogyakarta yang diperbantukan. Dalam perkembangannya kerja-sama KBRI dengan Universitas La Sapienza dikukuhkan dengan penanda-tanganan M.O.U (Memory of Understanding). Perjanjian tersebut memungkinkan sekitar 15 mahasiswa (terutama jurusan Sastra dan Filsafat) melakukan “stage” belajar gamelan atau tarian di KBRI Vatikan selama 50 jam dan mendapat dua angka kredit. Pada akhir semester, sebagai penutup stage, para mahasiswa menunjukkan kebolehannya bermain gamelan dalam suatu pertunjukan terbuka. Selesai semester resmi, beberapa mahasiswa masih meneruskan secara sukarela belajar gamelan, meski tidak mendapat kredit lagi.

“Kerja-sama ini sudah berjalan selama empat tahun. Secara pribadi saya merasa sangat bahagia mendapat kesempatan yang ditawarkan pihak KBRI Tahta Suci. Dengan demikian, para mahasiswa tidak hanya mengenal secara teoritis kesenian Indonesia namun juga berlatih memainkannya. Untuk itu, saya berterima kasih pada Duta Besar RI untuk Tahta Suci, Bambang Prayitno yang merintis kerja-sama ini dan pada Duta Besar Suprapto Martosetomo yang meneruskannya hingga kini”, ujar Giovanni dengan gembira. Pihak KBRI Vatikan sendiri memandang kerja-sama ini penting. “Promosi seni dan budaya Indonesia sesungguhnya merupakan bagian dari diplomasi publik. Dan ini merupakan salah satu pelaksanaan fungsi dan tugas KBRI”, ujar seorang pejabat KBRI Vatikan.

Bermain Tanpa Notasi

“Hampir semua orang Barat bermain instrumen dengan notasi. Demikian juga para mahasiswa di sini, semua bermain gamelan dengan notasi. Tanpa notasi, mereka akan kebingungan. Tapi, Prof. Giovanni sudah bisa memainkan hampir semua instrumen gamelan Jawa yang ada di KBRI Vatikan, tanpa notasi. Ia mampu memainkan gamelan dengan perasaan, seperti layaknya orang Jawa”, tutur Widodo Kusnantyo, pengajar gamelan.

Widodo yang sudah lebih 4 tahun bergaul dekat dengan Prof.Giovanni, merasa terkesan akan kepribadiannya. “Giovanni adalah sosok yang ulet, pekerja keras dan memiliki rasa seni yang tinggi. Ia sangat antusias mempelajari kebudayaan serta kesenian lain”, paparnya. Lepas dari keahliannya dalam bidang musik, Widodo menilai Giovanni sebagai pribadi yang ramah, supel dan tanggap akan situasi. Lebih dari itu, lewat Giovanni pula banyak orang Italia mulai mengenal dan menyukai kesenian Indonesia, khususnya gamelan.

Bersama para mahasiswa binaannya dan bekerja sama dengan pihak KBRI Vatikan, Prof.Giovanni beberapa kali mengadakan pentas kesenian Indonesia, antara lain di kota Trento, Cremona, Como, Polignano al Mare dan berkali-kali di kota Roma. Mereka tidak hanya menampilkan kesenian gamelan tapi juga beberapa tarian Indonesia seperti Tari Merak, Tari Bondan, Tari Golek Ayun-ayun, Tari Saman dan Tari Pertobatan. Yang terakhir adalah tarian ciptaaan Diakon Mammouth OSC yang sedang bertugas di Roma. Pentas kesenian Indonesia ini memang kerap juga melibatkan para rohaniwan-wati Indonesia yang ada di kota Roma. Pada umumnya tanggapan dari publik Italia amat baik. Tidak sedikit di antara penonton berkeinginan untuk melancong ke Indonesia seusai menyaksikan keindahan kesenian yang mereka nikmati.

Penghargaan dan Pengakuan

Kiprah Prof. Giovanni di bidang etnomusikologi secara bertahap mendapat pengakuan serta penghargaan pelbagai pihak. Saat ini, misalnya, ia menjabat sebagai presiden European Society for Ethnomusicology (Esam), suatu kedudukan yang amat bergengsi. Selain itu, Giovanni saat ini juga duduk sebagai direktur Intercultural Institute for Comparative Music Studies yang berpusat di Venezia.

Dari pihak pemerintah Italia, lewat Menteri Pendidikan dan Menteri Luar Negeri, Prof. Giovani mendapat  sejumlah grant (dana) untuk memimpin penelitian musik di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Kamboja. Dalam kaitan ini, pria penggemar olah raga ski ini berulang kali melawat ke Indonesia, terutama Bali. Selain ke Indonesia, ia juga kerap pergi ke Kamboja. Ia masih teringat, saat pertama kalinya ke Kamboja (1986), situasi di sana masih porak-poranda akibat perang jaman pemerintahan Pol Pot. “Makanan, air dan keperluan sederhanapun sulit di dapat”, kenang penggemar masakan rendang ini. Selama tiga kali liburan musim panas, Giovanni pergi ke Kamboja untuk mengajar di Universitas Phnom Pehn, Kamboja. Bidang yang ia ajarkan adalah metodologi pengembangan sumber daya lingkungan serta budaya. Kendati demikian, dengan tinggal selama 3 kali di Kamboja, Giovanni mengaku dirinya banyak belajar dari kehidupan orang-orang di sana.

Keahlian sekaligus kegemaran Prof. Giovanni Giuriati dapat berkembang dengan baik antara lain karena mendapat dukungan penuh istrinya, Grabriella. Maklum, sang istri adalah juga seorang musikus. Grabriella mengajar musik di Sekolah Menengah di Roma, bermain piano dan ikut bermain gamelan di bawah bimbingan sang suami tercinta.

Giovanni memang patut bersyukur, karena keahlian, kegemaran serta kehidupan rumah-tangganya dapat berjalan seiring-sejalan. Dan sebenarnya tidak hanya Giovanni, namun juga semua orang yang menyaksikan sepak-terjangnya patut untuk bersyukur. Betapa tidak, lewat sosok yang ramah dan sederhana ini, keindahan musik Asia, khususnya gamelan, dapat dinikmati banyak orang. Dan lewat musik pula kerukunan kedua bangsa dapat terjalin dengan amat manisnya! 

Catatan: 

1. Foto: Prof.Giovanni bersama pak Hadsono dari KBRI Vatikan. 2. Terima kasih pada pak Hadsono yang memberi ijin saya menggunakan foto ini.

Heri Kartono, OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 29 Maret 2009).

 

 

Tuesday, February 17, 2009

YouTube Vatikan


PAUS BINTANG BARU YOUTUBE

Hanya dalam waktu satu minggu sesudah peluncurannya (23/01/09), YouTube Vatikan dikunjungi 750 ribu pemirsa. Suatu prestasi yang bahkan bagi standar YouTube termasuk mencengangkan.

Vatikan memulai babak baru publikasi dengan memiliki saluran tersendiri di dalam YouTube. Nampaknya Vatikan serius dalam menangani terobosan baru ini. Lihat saja,  acara-acara yang ditayangkan YouTube Vatikan dibuat secara professional. Centro Televisivo Vaticano (CTV) atau jaringan televisi Vatikan ada di belakang pembuatan siaran-siarannya. YouTube Vatikan menayangkan pelbagai kegiatan terutama yang berkaitan dengan Paus, termasuk audiensi mingguan serta pidato-pidatonya. Tak heran beberapa media memberi judul: Paus, bintang baru YouTube! 

Sebenarnya Vatikan telah memiliki web-site tersendiri. Namun dengan menggunakan YouTube, Vatikan dapat menjangkau pemirsa yang lebih luas. Tentang pemakaian YouTube, Paus menyatakan (25/01/09) bahwa penggunaan teknologi modern untuk mewartakan pencarian akan kebenaran, kebaikan serta keindahan melewati batas-batas etnis dan perbedaan adalah sesuatu yang bijaksana.

Lebih jauh Paus berharap bahwa saluran YouTube, yang menayangkan kegiatan kepausan, diharap dapat memperkaya banyak orang, termasuk mereka yang rindu menemukan dahaga rohaninya dengan membiarkan diri mengenal tentang Yesus. Sementara dalam pesan yang ditulisnya menyongsong Hari Komunikasi Sedunia ke-43, Paus memuji penggunaan internet serta perangkat-perangkat sosial lainnya. Paus menyebutnya sebagai hadiah bagi kemanusiaan. “Banyak keuntungan mengalir dari budaya berkomunikasi baru ini”, tulis Paus. Hari Komunikasi Sosial tahun ini jatuh pada tanggal 24 Mei 2009 namun pesan Paus telah dikeluarkan sejak 24 Januari yang lalu.

Juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombardi SJ dalam keterangan pers-nya (23/01/09) menjelaskan bahwa Vatikan amat menyadari pentingnya publikasi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan Paus dan Vatikan dalam media internet. Tentang kehadiran YouTube Vatikan, Lombardi menyebutnya sebagai sesuatu yang amat wajar. Saat ini YouTube Vatikan menayangkan satu atau dua berita sehari dalam bahasa Inggris, Jerman, Itali dan Spanyol. Bila anda tertarik, bisa melihatnya di sini:      http://www.youtube.com/vatican

Tanggapan Positif

Penayangan pelbagai berita Vatikan lewat YouTube mendapat tanggapan positif pelbagai pihak. Angel Lagdameo, ketua Konferensi Para Uskup Filipina menyambut baik keputusan tersebut. Lagdameo menyebutnya sebagai tepat waktu dan amat terpuji. “Sungguh sudah tiba saatnya bagi Vatikan untuk memanfaatkan YouTube. Dengan demikian, kaum muda yang menggunakan lebih banyak waktu di depan komputer, dapat terjangkau juga”, ujarnya dalam wawancara dengan Radio Veritas.

Henrique De Castro, salah satu direktur YouTube, menjelaskan bahwa teknologi ini terbuka untuk umum dan telah dimanfaatkan lebih dari 1,4 milyar orang. Jumlah tersebut terus bertambah setiap harinya. “Telah terjadi revolusi komunikasi dan video telah menjadi salah satu bahasa dunia. Gereja Katolik menyadari kenyataan ini dan memanfaatkannya dengan baik. Inisiatif Vatikan menjadi suatu pemberitaan amat bermakna bagi YouTube”, ujar De Castro.

Presiden Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Mgr. Claudio M. Celli, menyatakan bahwa Gereja Katolik mempunyai akar serta sejarah panjang dalam soal Media Massa, yaitu sejak abad ke-16 hingga kini. Menurutnya, penggunaan saluran YouTube merupakan perpaduan sempurna antara kesinambungan serta inovasi baru.

Heri Kartono, OSC (dimuat majalah HIDUP edisi 1 Maret 2009).

 

Monday, February 2, 2009

Pencabutan Ekskomunikasi



HEBOH PENCABUTAN EKSKOMUNIKASI 4 USKUP

Dalam upaya rekonsiliasi, Paus mencabut hukuman ekskomunikasi empat uskup kelompok Mgr. Marcel Lefebre. Keputusan Paus ini mengundang kegemparan dan kemarahan kaum Yahudi. Ada apa gerangan?

Lima puluh tahun yang lalu, tepatnya hari Minggu, 25 Januari 1959, Paus Yohanes XXIII mengumumkan perlunya diadakan suatu konsili para uskup sedunia untuk membaharui gereja. “Sudah tiba saatnya untuk membuka jendela-jendela dan membiarkan angin segar masuk”, ujarnya saat itu. Konsili, yang kemudian dikenal sebagai Konsili Vatikan II, dibuka pada bulan Oktober 1962 dan baru berakhir pada 1965.

Konsili Vatikan II dan Ekskomunikasi

Konsili yang dihadiri hampir 3000 uskup ini menghasilkan beberapa perubahan yang menyolok, antara lain: dalam perayaan Misa, imam tidak lagi membelakangi umat, dan bahasa setempat dapat digunakan (semula hanya bahasa Latin). Selain itu Konsili membuka pintu bagi aktivitas sosial, kebebasan berekspresi serta menaruh penghargaan pada agama-agama lain.

Apa yang dihasilkan Konsili, disambut dengan suka-cita dimana-mana. Di Afrika, misa dirayakan dengan iringan tambur yang meriah; di Amerika dengan gitar. Para wanita tidak lagi diwajibkan menutup kepala dengan kain saat masuk gereja dan para suster mulai mengganti jubah dan kerudung abad pertengahan dengan model yang lebih praktis.

Nampaknya tidak semua pihak senang dengan perubahan yang dihasilkan Konsili Vatikan II. Mgr. Marcel Lefebre (1905-1991) dari Perancis adalah salah satu yang menolak perubahan yang dicanangkan Konsili. Sejak itu Lefebre, yang pernah menjadi Uskup Agung Dakar hingga 1962, dikenal sebagai pelopor pembelot yang menentang perubahan di dalam gereja. Pada tahun 1970, Lefebre mendirikan Societas Santo Pius X (SSPX). Kelompok ini konon memiliki pengikut hingga satu juta orang (Reuters 22/01/09). Aktor film Mel Gibson kerap disebut-sebut sebagai salah satu pengikut Katolik tradisionalis seperti ini.

Kelompok Lefebre memiliki Seminari tersendiri yang berpusat di Swiss, mentahbiskan imam bahkan para uskup. Pada tanggal 30 Juni 1988, Lefebre mentahbiskan empat orang uskup, yaitu uskup Bernard Fellay, Bernard Tissier de Mallerais, Richard Williamson dan Alfonso de Galarreta. Sesuai hukum kanonik yang berlaku, tahbisan tersebut dianggap tidak syah. Karena kuasa memilih seorang uskup ada di tangan Vatikan/Paus. Karenanya, ke-empat uskup ini dijatuhi hukuman ekskomunikasi atau dicabut haknya sebagai anggota Gereja Katolik (1 Juli 1988). Itu terjadi pada masa Paus Yohanes Paulus II.

Usaha Rekonsiliasi dan Kecaman Yahudi

Mgr. Marcel Lefebre meninggal tahun 1991. Peranannya digantikan oleh uskup Bernard Fellay. Pada dasarnya kelompok yang anti pembaharuan gereja ini tetap menyadari diri mereka sebagai Katolik dan mengakui peranan Paus, pengganti Petrus. Sebagaimana dikemukakan Paus Benediktus, para uskup SSPX beberapa kali menghubunginya dan mengungkapkan keresahan hati mereka. “Karena itulah saya mengambil tindakan ini (mencabut hukuman ekskomunikasi). Saya harap tindakan saya ini diikuti langkah-langkah nyata dari pihak mereka menuju persatuan sempurna  dengan Gereja, dengan menunjukkan kesetiaan serta pengakuan akan kuasa Paus dan Konsili Vatikan II”, ujar Paus dalam kesempatan Audiensi umum (28/01/09).

Pencabutan hukuman ekskomunikasi 4 uskup yang diumumkan pada 24 Januari 2009 ini, menggemparkan kalangan Yahudi. Fasalnya, salah satu di antara 4 uskup tersebut, yaitu Richard Williamson pernah mengemukakan pernyataan yang mengagetkan banyak pihak. Dalam wawancara dengan TV Swedia pada bulan Nopember, namun baru disiarkan 21 Januari yang lalu, uskup kelahiran Inggris ini menyangkal adanya pembantaian 6 juta orang Yahudi pada jaman Nazi. Menurutnya, hanya sekitar 200 hingga 300 ribu saja orang Yahudi yang mati dan itupun bukan di dalam kamar gas.

Tak pelak komentar Richard Williamson ini membangkitkan amarah orang Yahudi di seantero dunia. Paus yang mencabut hukuman ekskomunikasi Williamson, tak luput dari kecaman. Paus dituding tidak memiliki kepedulian serta kepekaan terhadap orang Yahudi.

Menteri Israel urusan agama, Yitzhak Cohen mengancam akan memutus hubungan dengan Vatikan (PressTv, 01/02/09). Sementara pimpinan tertinggi umat Yahudi di Israel melayangkan surat berisi kepedihan mendalam atas keputusan Paus. Ia juga sekaligus membatalkan pertemuan dengan pihak Vatikan yang sedianya akan diadakan bulan Maret yang akan datang. Di AS, Abraham Foxman, direktur nasional Anti Penistaan umat Yahudi, menyatakan kekecewaannya atas keputusan Paus Benediktus XVI. “Keputusan ini amat mengganggu hubungan antara umat Katolik dan Yahudi yang tumbuh subur di bawah Paus Yohanes Paulus II”, ujarnya sebagaimana dikutip pelbagai media massa. Sementara di Jerman, Presiden Dewan Yahudi, Charlotte Knobloch memutuskan hubungan dengan Vatikan, sekurangnya untuk sementara waktu (Herald Tribune, 29/01/09)

Kekecewaan serta kecaman terus berdatangan, termasuk dari Elie Wiesel, mantan korban kekejaman Nazi yang berhasil meloloskan diri. Elie Wiesel, pengarang serta pemenang hadiah nobel perdamaian (1986), dalam wawancara dengan Reuters berkata: “Situasi ini sungguh tak terduga sebab kami mempunyai harapan tinggi atas relasi antara umat Yahudi dan Katolik yang telah dibangun dengan amat baik oleh dua Paus sebelumnya!” (Reuters 28/01/09).

Bantahan Vatikan

Juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombardi, membela keputusan Paus mencabut hukuman ekskomunikasi empat uskup tersebut. Menurutnya, keputusan tersebut tidak ada kaitannya dengan opini pribadi salah satu uskup terkait (BBC 24/01/09). Kardinal Angelo Bagnasco, presiden konferensi para Uskup Italia juga mendukung keputusan Paus. Namun, ia menyesalkan komentar yang tak adil yang diungkapkan uskup Williamson tentang orang Yahudi.

Harian resmi Vatikan, L’Osservatore Romano (27/01/09), menyebut komentar uskup Williamson tentang orang Yahudi, sebagai sesuatu yang tak dapat diterima, sangat serius dan amat disesalkan. Harian yang sama menegaskan kembali posisi serta ajaran resmi gereja yang menentang pandangan anti-semit (yang memusuhi serta bersikap buruk terhadap bangsa Yahudi) sebagaimana dicanangkan dalam dokumen Nostra Aetate.

Senada dengan itu, Kardinal Walter Kasper, yang bertanggung jawab atas hubungan dengan umat Yahudi, menyatakan bahwa penyangkalan adanya Holocaust (penyiksaan kaum Yahudi pada jaman Nazi, termasuk dalam kamar gas) adalah sesuatu yang tak bisa diterima dan berlawanan dengan pendapat Gereja Katolik. Ia menyebut komentar uskup Williamson sebagai bodoh (La Repubblica, 26/01/09).

Tak ketinggalan, Radio Vatikan dalam siarannya, memaparkan bukti-bukti kepedulian Paus Benediktus XVI terhadap nasib bangsa Yahudi. Radio ini menyebut beberapa peristiwa terkait, seperti kunjungan Paus Benediktus XVI ke Sinagoga di Koln, Jerman (2005), kunjungan ke Auschwitz (2006) serta beberapa komentar Paus yang menunjukkan kepeduliannya terhadap bangsa Yahudi. “Hendaknya kemanusiaan jaman ini tidak melupakan (kekejaman) Auschwitz dan pabrik-pabrik kematian lainnya yang dilakukan rezim Nazi guna menghilangkan Tuhan dan mengambil alih tempatnya”, ujar Paus Benediktus XVI sebagaimana disiarkan kembali Radio Vatikan.

Menanggapi kekecewaan orang Yahudi, Paus Benediktus XVI (28/01/09), secara langsung mengungkapkan solidaritas sepenuhnya dengan bangsa Yahudi yang ia sebut sebagai saudara tua. Dengan tegas Paus menentang segala pengingkaran atas kekejaman serta pembunuhan yang dilakukan rezim Nazi. Komentar Paus ini sekurangnya disambut positif oleh Oded Weiner, pemimpin umat Yahudi di Israel.

Sementara itu, dalam sebuah surat terbuka, uskup Williamson yang kini tinggal di Argentina, menyatakan penyesalannya. Kepada Kardinal Dario Castrillon Hoyos, mediator Vatikan, Williamson menulis: “Di tengah badai berita yang disebabkan oleh komentar saya yang kurang hati-hati dalam TV Swedia, dengan tulus saya mohon anda menerima penyesalan saya, karena telah membuat diri anda dan Bapa Suci menanggung persoalan serta kesusahan amat besar yang tak perlu”, tulis Williamson. Dalam surat yang sama, Williamson juga mengucapkan terima kasih kepada Paus atas dicabutnya hukuman ekskomunikasi. (BBC News 31/01/09).

Catatan: Misa Tridentine yang digunakan sejak thn. 1570 s/d 1962 masih digunakan secara resmi di beberapa tempat. Foto di atas diambil pada hari Minggu 01/02/09 di Gereja SS. Trinita dei Pellegrini, Roma. Misa masih membelakangi umat, menggunakan bahasa Latin, lagu Gregoriana, komuni dengan lidah dan sebagian wanita masih mengenakan penutup kepala.

Heri Kartono (dimuat di majalah HIDUP edisi 22 Februari 2009).

Tuesday, January 27, 2009

Pertemuan Internasional Sant'Egidio


JANGAN TAKUT BERMIMPI!

Seorang wanita asal Rwanda menceriterakan betapa sulit baginya untuk mempraktekkan soal pengampunan dan perdamaian. Tak bisa dilupakan bagaimana kedua orang tua serta sanak-saudaranya dibantai secara keji dalam kerusuhan antar etnis yang terjadi di negerinya. Dengan bantuan rekan-rekan komunitasnya, akhirnya ia tidak hanya mampu memaafkan para pembunuh keluarganya namun ia sendiri menjadi aktifis perdamaian yang gigih.

Kisah tersebut diceriterakan dalam acara sharing Pertemuan Internasional kelompok Sant’ Egidio (Roma, 10-24 Januari 2009). Hadir 130 peserta dari 30 negara. Dari Indonesia hadir 7 orang, yaitu perwakilan dari wilayah Jakarta, Yogya serta wilayah Timor. Pertemuan ini diselenggarakan dalam rangkaian peringatan 40 tahun berdirinya kelompok Sant’ Egidio.

Jangan Takut Bermimpi

Pertemuan yang berlangsung selama dua minggu penuh, diisi dengan pelbagai ceramah serta sharing peserta. Salah satu pembicara utama adalah Prof. Andrea Riccardi, pendiri Sant’ Egidio. Dalam ceramahnya ia memaparkan kembali sejarah berdirinya Sant’ Egidio. Andrea memulai kelompok ini bersama beberapa rekannya pada tahun 1968 di Roma. Pada saat itu Andrea masih duduk di bangku SMA. Secara rutin Andrea dkk berkumpul untuk berdoa, membaca Kitab Suci dan menolong kaum miskin di wilayah kumuh pinggiran kota Roma. Kelompok ini disebut Sant’ Egidio karena menggunakan gereja Santo Egidio di kawasan Trastevere, Roma, sebagai tempat mereka berkumpul. Kini anggota Sant’ Egidio tersebar di  70 negara.

“Empat puluh tahun yang lalu, tak terpikirkan bahwa kelompok Sant’ Egidio akan berkembang seperti sekarang. Apa yang dahulu hanya sebatas mimpi, ternyata dapat diwujudkan. Karenanya, janganlah takut untuk bermimpi!”, ujar Andrea sebagaimana dikisahkan oleh Ign. Teguh Budiono, peserta asal Jakarta.

Penceramah lain adalah Marco Impagliazzo, presiden kelompok Sant’ Egidio. Marco mengingatkan para peserta pentingnya mempertahankan spiritualitas dan semangat asli Sant’ Egidio. Marco menjelaskan dengan suatu perbandingan. “Peninggalan Fransiskus Assisi hingga kini masih tersimpan di kota Assisi. Namun spiritualitas serta jiwa Fransiskus tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sejak Fransiskus masih hidup (1182-1226) hingga kini, semangatnya tetap terpelihara dengan baik”, jelas Marco.

Prisca Nuriati atau biasa dipanggil Cing, peserta dari Indonesia, mengaku tergugah dengan ceramah Marco. Ia setuju bahwa semua anggota Sant’ Egidio harus tetap setia memelihara jiwa dan cita-cita pendiri kendati kondisi dan situasi setiap komunitas berbeda-beda. “Dengan cara demikian, regenerasi dapat terjamin dengan baik”, tutur Cing.

Sant’ Egidio tidak hanya membantu kaum miskin, namun memiliki banyak kegiatan lain. Salah satunya adalah mempromosikan perdamaian serta dialog antar agama. Pertemuan tokoh-tokoh agama 1986 di Asisi yang diprakarsai oleh Paus Yohanes Paulus II masih diteruskan dari tahun ke tahun oleh Komunitas Sant’ Egidio hingga kini. Usaha lain yang giat dilakukan kelompok ini adalah kampanye anti hukuman mati di seluruh dunia serta usaha pemberantasan penyakit Aids.

Sant’ Egidio di Indonesia

Di Indonesia kelompok Sant’ Egidio saat ini ada di Padang, Pekanbaru, Jakarta, Semarang,  Yogya,  Medan, Kupang dan Atambua. Kegiatan utama yang selalu dilakukan adalah doa dan mendengarkan Sabda Tuhan dari Kitab Suci. Di samping itu, kelompok ini rajin mengadakan pelbagai pelayanan untuk orang miskin seperti: mengirim makanan kepada gelandangan, sekolah informal untuk anak-anak jalanan, membantu lansia. Secara Nasional, kelompok Sant’ Egidio Indonesia pernah mengadakan beberapa kali pertemuan.

Dr. Valeria, pengurus Sant’ Egidio pusat, secara khusus memperhatikan perkembangan kelompok ini di wilayah Asia Timur termasuk Indonesia. “Saya sudah lebih dari 10 kali berkunjung ke Indonesia”, ujar Valeria dalam bahasa Indonesia. Menurut Valeria, kontak dengan para anggota terus dilakukan lewat surat berkala dan Website resmi yang dipublikasikan dalam pelbagai bahasa.

Banyak peserta menganggap Pertemuan Internasional Sant’ Egidio amat berharga dalam hidup mereka. “Kami bagaikan para rasul yang bertemu Yesus di gunung Tabor. Kami mendapat pencerahan dan kesegaran. Kini, tiba saatnya kami turun gunung untuk mengamalkan apa yang kami peroleh di sini”, ujar Ign. Teguh Budiono mewakili rekan-rekannya dari Indonesia. (Foto: Peserta dari Indonesia bersama Dr.Valeria Martano dan beberapa anggota Sant'Egidio asal Indonesia yang tinggal di Roma). 

Heri Kartono, OSC (Dimuat di Majalah HIDUP, edisi 15 Februari 2009).

 

Friday, January 23, 2009

Hari Migran Sedunia 2009



PERLUNYA SIMPATI SERTA PERLINDUNGAN

“Pada hari Migran dan Perantau sedunia ini, saya menghimbau setiap individu, komunitas maupun lembaga untuk bermurah hati kepada mereka yang telah meninggalkan tanah airnya”, ujar Paus disambut sorak-sorai ribuan immigran dan perantau yang berkumpul di lapangan Santo Petrus, Vatikan (18/01/09).

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Hari Migran dan Perantau Sedunia diperingati secara khusus. Sejalan dengan Tahun Paulus, Paus Benediktus XVI memilih tema: “Santo Paulus Migran, Rasul bagi bangsa-bangsa asing”. Paulus memang lahir dari sebuah keluarga imigran di Tarsus. Paulus sendiri kemudian pergi ke banyak tempat untuk mewartakan Kabar Gembira hingga wafatnya sebagai migran dan martir di kota Roma.

Paus Benediktus XVI dikenal sebagai Paus yang amat peduli pada nasib kaum imigran. Pada saat berkunjung ke kota Brindisi misalnya, (15/06/08) hal pertama yang dikatakan Paus adalah tentang perlunya membela kaum imigran. Brindisi memang dikenal sebagai salah satu pintu masuk kaum imigran dari Kroasia, Montenegro, Albania dan bahkan dari Macedonia ke Italia.

Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat (April 2008) beberapa kali Paus menyinggung nasib kaum Migran yang banyak tersebar di negeri Paman Sam tersebut. Kendati demikian, sebagaimana dikemukakan oleh Kardinal Roger Mahony, Paus tetap menghormati hukum yang berlaku dan tidak mendukung orang melakukan tindakan illegal.

Komunitas Para Migran

Situasi politik yang tak menentu atau krisis ekonomi yang parah, kerap memaksa orang meninggalkan negerinya pergi ke negeri lain mengadu nasib. Italia adalah salah satu negara yang banyak dituju kaum imigran. Dari negara Filipina saja ada sekitar 100 ribu orang. Dari jumlah itu hampir separuhnya tinggal di kota Roma. Dalam setahun, tak kurang dari 11 juta dolar AS uang yang dikirim para migran Filipina ke kampung halamannya. Migran asal Filipina bukanlah yang terbanyak dari segi jumlah namun dari segi agama, migran Filipina menempati urutan terbanyak beragama Katolik. Salah satu gereja yang kerap digunakan komunitas Filipina adalah Basilika Santa Pudenziana. Gereja yang terletak di Via Urbana 160 Roma ini, pada hari Minggu dirayakan empat kali misa, sekali dalam bahasa Inggris dan tiga kali dalam bahasa Tagalog. Gereja selalu penuh!

Di Roma, ada banyak migran yang sukses baik dalam pekerjaan maupun hidupnya. Namun, tidak sedikit juga yang bernasib sebaliknya. Sulit mendapatkan pekerjaan, apalagi jika mereka datang tanpa kelengkapan dokumen. Migran gelap akan terus merasa was-was karena sewaktu-waktu bisa saja petugas menangkapnya. Selain itu, masalah lain juga tidak kalah peliknya, seperti adaptasi dengan bahasa dan budaya setempat.  Mengingat pelbagai kesulitan tersebut, para migran ini butuh bantuan, dukungan serta perlindungan. Selain itu, mereka juga butuh untuk bertemu dengan sesama bangsanya untuk saling menguatkan.

Menurut Frater Yance Guntur dari tarekat Scalabriani, di Roma ada sekitar 150 komunitas kaum migran. Komunitas-komunitas tersebut dibentuk berdasarkan agama, bahasa dan negara asal. Bagi yang beragama katolik, setiap hari Minggu mereka biasa berkumpul untuk merayakan misa dalam bahasa mereka masing-masing, seperti kelompok Filipina. Kesempatan tersebut, biasanya mereka gunakan juga untuk saling tukar informasi dan berbagi suka dan duka. “Para frater Scalabrini bersama para relawan membentuk Gruppo Contatto, yaitu grup yang menjadi penghubung komunitas migran yang satu dengan yang lainnya. Ada 6 frater kami yang bekerja dalam grup ini”, ujar frater asal Flores ini. Untuk memudahkan komunikasi, Gruppo Contatto membuat suatu website www.baobabroma.org .Bersama keuskupan Roma, grup ini setahun sekali mengadakan Festa dei Popoli bagi kaum migran secara meriah.

Pada Hari Migran dan Perantau Sedunia yang ke-95 (18/01/09), komunitas-komunitas Migran yang ada di kota Roma, berkumpul di lapangan Santo Petrus, Vatikan. Masing-masing kelompok datang dengan pakaian, musik serta atribut-atribut dari negaranya masing-masing. Tak lupa, sebagian dari mereka juga membawa bendera serta poster yang dibuat khusus untuk keperluan tersebut. Mereka semua bergembira menyambut pidato Paus pada hari istimewa tersebut. Lapangan Santo Petrus yang luas, saat itu penuh dengan para migran yang berasal dari mancanegara. Simpati serta kepedulian Paus/gereja atas hidup mereka, merupakan hiburan amat berarti bagi mereka yang dipisahkan dengan sanak-saudara serta tanah airnya.

Heri Kartono, OSC. (Dimuat di Majalah HIDUP, edisi 15 Februari 2009).

 

Wednesday, January 21, 2009

Suprapto Martosetomo (Box)


MEMBERI ALTERNATIF TANPA PAKSAAN

“Pak, kalau aku sudah besar, aku pengen jadi guru!”, begitu ujar si kecil Lorenza Pradhina. Suprapto sang ayah sejenak terkejut mendengar cita-cita anak bungsunya yang saat itu baru masuk TK. Namun dengan ramah ia menjawab: “Wah, bagus sekali cita-citamu itu. Tapi, akan lebih hebat lagi kalau kamu bisa jadi gurunya dokter!”. Si kecil yang panasaran lantas bertanya: “Bagaimana caranya supaya aku bisa jadi gurunya dokter?”. Sang ayah dengan tersenyum menjawab: “Pertama-tama, kamu harus jadi dokter dulu!”. Percakapan tersebut rupanya amat membekas di hati puteri bungsunya. Kini Lorenza tercatat sebagai mahasiswi fakultas kedokteran Universitas Kristen Kridawacana, Jakarta, tahun terakhir.

Percakapan di atas menggambarkan kepribadian sekaligus kearifan Suprapto, sang ayah yang juga seorang Duta Besar. Gagasan orang lain tidak langsung ditolak. Sebaliknya diterima dahulu, diikuti sambil sekaligus memberi alternatif. Dampaknya, seperti yang terjadi pada anak bungsunya. Sang anak mengikuti nasihat ayahnya tanpa sedikitpun merasa dipaksa.

Suprapto merasa beruntung. Karena istrinya, Yogyaswara Kustantina, dalam banyak hal selaras dengan dirinya. Baik dalam rumah tangga maupun dalam pekerjaan, Yogyaswara yang asal Yogya ini pandai membawakan diri. Kebetulan keduanya berasal dari alma-mater yang sama, Universitas Gajah Mada, Jogya. Keserasian serta keramahan pasangan ini memang mengesankan. Tidak heran bahwa sebuah keluarga Italia di Bolsano yang pernah berjumpa mereka, merasa amat terkesan. “Saya ikut bangga waktu mendengar kesan positif yang membekas kuat di hati keluarga ini tentang Dubes kita dan istrinya”, ujar Pastor Ignas Ledot SVD yang bertemu langsung keluarga Italia tersebut.

Heri Kartono, OSC (dimuat majalah HIDUP edisi 01/02/2009)