Saturday, September 12, 2009

Pertemuan Paus dengan Diplomat Islam (2006)



MEMBANGUN (KEMBALI) JEMBATAN PERSAHABATAN.

Inisiatif Paus Benediktus XVI mengundang diplomat Negara-negara Islam di Castel Gandolfo (25/9/06) dinilai positif. Pertemuan tersebut dihargai sebagai usaha konkrit Vatikan untuk merajut hubungan yang sempat terganggu. Lantas, apa komentar Dubes Indonesia untuk Tahta Suci yang hadir dalam pertemuan tersebut?

“Dalam kesempatan yang khusus ini sekali lagi saya ingin mengulangi penghargaan saya yang mendalam pada umat Islam”, ujar Paus Benediktus XVI kepada para diplomat Negara-negara Islam. Selanjutnya Paus mengutip dokumen Vatikan yang berkaitan dengan agama Islam, “Gereja memandang umat Islam dengan penghargaan. Mereka juga menyembah Allah Yang Maha Esa, yang mentaati Allah dengan sepenuh hati sebagaimana Abraham telah tunduk pada Allah” (Nostra Aetate No.3).

Sambil menempatkan dirinya pada perspektif ini, Paus mengungkapkan bahwa sejak ia diangkat menjadi Paus, ia telah berkeinginan melanjutkan membangun jembatan persahabatan dengan pemeluk agama-agama lain. Secara khusus Paus menunjukkan penghargaan tersendiri pada pertumbuhan dialog antara Islam dan Kristen.

Relasi baik antara Islam dan Kristen yang telah terjalin selama bertahun-tahun pada masa Paus Yohanes Paulus II, tidak hanya akan diteruskan tetapi juga dikembangkan lebih jauh dalam suatu semangat dialog yang tulus dan saling menghormati.

Paus memang tidak berbasa-basi. Sebagai contoh, dalam beberapa kesempatan, seperti dalam kunjungannya ke Jerman menghadiri Pertemuan Kaum Muda Sedunia (2005), Benediktus juga menyempatkan diri bertemu dengan perwakilan komunitas Islam di sana. Ketika kartun tentang Mohammad yang diterbitkan di Denmark menghebohkan dunia Islam, Paus adalah salah satu orang yang paling cepat dan tegas mengutuk kartun tsb.

Pada akhir sambutannya Paus menyampaikan doa kepada seluruh umat Muslim yang saat ini tengah menjalani ibadah puasa. “Saya berdoa dengan segenap hati semoga Tuhan akan membimbing langkah kita di jalan yang penuh saling pengertian. Di saat umat Muslim memulai perjalanan spiritualnya di bulan Ramadhan, saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah (puasa), semoga Tuhan memberkati mereka semua dengan kehidupan yang damai dan tenteram," kata Paus.

Paus menyampaikan sambutannya ini dalam bahasa Perancis. Namun, sesudahnya dibagikan juga teks terjemahannya dalam bahasa Arab, Inggris dan Italia.

Pertemuan yang diprakarsai Paus ini dihadiri 22 Dubes negara-negara Islam untuk Tahta Suci, seperti Kuwait, Yordania, Siria, Maroko dan Tunisia. Selain para Duta Besar, hadir pula 17 wakil-wakil komunitas Muslim Italia yang ada di kota Roma. Pertemuan yang berlangsung di Castel Gandolfo, istana musim panas Paus ini, disiarkan secara langsung oleh Televisi Vatikan dan CNN. Jaringan televisi Arab Al-Jazeera juga menyiarkan acara ini.

Membuka Suasana Baru

“Banyak peserta yang ingin tahu kira-kira apa yang akan disampaikan Paus dalam pertemuan khusus ini. Ada yang menduga, Paus akan menjelaskan isi pidatonya yang menghebohkan itu”, tutur Bambang Prayitno SH, Dubes RI untuk Tahta Suci yang hadir dalam pertemuan di Castel Gandolfo tsb. “Ternyata Paus tidak menyinggung sedikitpun soal pidatonya itu. Hanya, pada awal pembicaraannya, beliau mengatakan bahwa situasi yang menjadi latar belakang pertemuan tersebut sudah diketahui bersama”, lanjut Bambang kepada HIDUP di ruang kerjanya di kawasan EUR, Roma. Masih menurut Bambang, akhirnya orang memahami bahwa seorang Paus memang bukan pada posisinya untuk mengadakan tanya-jawab bebas.

Menurut Dubes RI kelahiran Porong, Jawa Timur ini, pertemuan Paus dengan para Diplomat negara-negara Islam merupakan langkah ke empat yang dilakukan Vatikan dalam upaya membangun kembali hubungan yang sempat terganggu. “Vatikan telah melakukan langkah-langkah yang konstruktif dan ajakan Paus dalam sambutannya ini membuka suasana baru”, ujar Bambang.

Upaya Merajut Kembali Hubungan Baik.

Wartawan BBC di Roma, David Willey, mengatakan Paus menempuh upaya yang tidak biasa ini untuk meyakinkan umat Islam bahwa dia memang serius dalam meningkatkan hubungan antar agama.

Sementara itu, Albert Edward Ismail Yelda, Dubes Irak untuk Tahta Suci, seperti dikutip Reuters, memberi komentar: “Bapa Suci telah menyatakan penghargaan mendalam atas umat Islam. Inilah yang memang kita harapkan”, ujarnya. Lebih lanjut Yelda mengatakan “Kini saatnya melupakan apa yang sudah terjadi dan (mulai) membangun jembatan”, katanya lagi. Masih menurut Dubes Irak, pernyataan Paus kepada para wakil Muslim ini hendaknya dapat mengakhiri kemarahan umat Islam atas pidatonya sekitar Islam dan kekerasan.

Dalam konteks Indonesia, Bambang Prayitno SH menilai pertemuan ini positif. Rakyat Indonesia menanggapi secara proporsional pidato Paus di Jerman. Tentang reaksi Indonesia, Mgr.Pietro Parolin, wakil Menlu Vatikan, dalam kesempatan terpisah, sebagaimana disampaikan Dubes RI, memberikan apresiasi pada kalangan pemerintah dan pemimpin agama di Indonesia yang dinilai cukup moderat dan proporsional dalam menyikapi pidato Paus di Jerman.

Tentang pertemuan di Castel Gandolfo ini, lebih lanjut Bambang berkata: “Pertemuan Paus Benediktus XVI dengan para Diplomat negara-negara berpenduduk muslim ini saya nilai positif. Pertemuan ini jelas merupakan usaha untuk merajut kembali hubungan yang sempat terganggu”, ujar Bambang yang mulai bertugas sebagai Dubes RI untuk Tahta Suci sejak awal tahun 2004.

Selain wawancara dengan kami, Dubes Indonesia untuk Tahta Suci ini juga diwawancarai oleh Radio Washington, Radio Netherland, Radio Jerman, Agencia Ansa Italia, juga Elshinta Indonesia. Dalam tanya jawab langsung dengan pendengar Radio Elshinta di Indonesia, Bambang menerima banyak tanggapan positif atas pertemuan di Castel Gandolfo tersebut.

Pidato Paus Benediktus di Regensburg, Jerman, telah menimbulkan reaksi keras banyak umat Islam. Namun usahanya yang tulus untuk memperbaiki kembali hubungan baik dengan umat Islam, seperti tercermin dalam pertemuan dengan para Diplomat, mendapat penghargaan dan simpati orang. (Foto: Paus dengan Dubes RI Bambang Prayitno SH)

Heri Kartono. (Dimuat di majalah HIDUP edisi...2006).


Kunjungan Paus ke Polandia (2006)


PERJALANAN YANG DIRINDUKAN

Paus Benediktus XVI mengadakan lawatan selama empat hari (25-28 Mei 2006) ke Polandia, tanah air pendahulunya. Dalam kesempatan tersebut, Paus asal Jerman ini juga berkunjung ke Auschwitz, tempat pembantaian orang-orang Yahudi pada era rezim Nazi Jerman dahulu.

Perjalanan Yang Dirindukan.

“Saya merasa bahagia bahwa hari ini saya berada di antara kalian semua di Republik Polandia. Sudah sejak lama saya ingin mengunjungi negeri dan umat dari pendahulu saya yang tercinta Paus Yohanes Paulus II. Saya datang kemari untuk mengikuti serta meneladani jejak-jejak hidupnya”, ujar Paus Benediktus XVI pada acara penyambutan -nya di bandara Warsawa, 25 Mei 2006.

Paus tidak berbasa-basi. Sesungguhnya, inilah kunjungan pertama yang ia rencanakan dan kehendaki sebagai Paus. Kunjungan sebelumnya (ke Koln, Jerman) adalah lawatan yang telah diprogramkan oleh pendahulunya, Yohanes Paulus II.

Dalam kesempatan tersebut, Paus juga berkata: “ Perjalanan ini diilhami motto Berteguhlah dalam iman-mu. Saya katakan ini sejak awal untuk menegaskan bahwa perjalanan ini bukanlah sekedar lawatan sentimental, meskipun tentu saja hal itu juga ada benarnya. Ini merupakan perjalanan iman, suatu bagian dari misi yang dipercayakan Tuhan pada saya!”

Sylwester Pajak SVD, pastor Polandia yang pernah lama bekerja di Indonesia mengatakan bahwa motto dan pesan Paus ini amat tepat untuk situasi Polandia. Polandia memang negara Katolik sejak tahun 966. Namun, 40 tahun dibawah regim komunis dan masuknya Polandia dalam Uni Eropa membuat nilai-nilai Katolik mulai goyah. Selain itu pemerintah Polandia juga menghadapi oposisi kuat yang bukan Kristiani. “Jadi, pesan Paus Benediktus ini amat cocok dan mengena, apalagi Paus acapkali menyampaikannya dalam bahasa Polandia”, ujar Sylwester yang kini bertugas sebagai Rektor Collegio San Pietro di Roma.

Kedatangan Paus Benediktus XVI mendapat sambutan meriah rakyat Polandia dimana-mana. Di bandara Warsawa, Paus disambut secara kenegaraan oleh presiden Polandia Lech Kaczynski didampingi istrinya Maria Kaczynka. Hadir juga pada kesempatan itu Kardinal Jozef Glemp serta jajaran pemerintahan serta sekitar seribu pegawai dan karyawan bandara. Demikianpun, dalam perjalanan dari bandara memasuki kota Warsawa, Paus dielu-elukan ribuan orang yang menyongsongnya sambil mengibar-ngibarkan bendera Vatikan di tangan mereka. Nampaknya Polandia yang mayoritas warganya beragama Katolik (95,8%) memang merindukan kehadiran Paus Benediktus XVI asal Jerman ini.

Selama keberadaan Paus di Polandia, dilaporkan banyak toko tidak menjual minuman beralkohol tinggi seperti Vodka yang termashyur itu. Selain itu, stasiun-stasiun televisi tidak menayangkan iklan-iklan erotik, celana dalam, kondom dan alat-alat seks lainnya.

Hari berikutnya (26/05) Paus mengadakan misa pertama di Lapangan Pilsudski, Warsawa. Dalam kotbahnya, Paus mengulangi pesan utamanya: “Berteguhlahlah dalam imanmu. Wariskan imanmu pada anak-anakmu dan jadilah saksi atas karunia berlimpah yang telah kalian alami lewat Roh Kudus dalam perjalan hidup kalian”.

Sekitar 270 ribu orang hadir pada kesempatan itu. Kendati diguyur hujan cukup deras, umat tetap bertahan. Sebagian membawa payung, sebagian lagi mengenakan jas hujan namun tidak sedikit yang harus berbasah-kuyup mengikuti misa. “Saya tidak mau berteduh. Ini adalah peristiwa amat penting bagi Polandia. Kami tidak tahu apakah akan dapat melihat Paus lagi di tempat ini”, ujar seorang umat yang menolak untuk berteduh. Dalam misa tersebut, dilaporkan sekurangnya 100 orang harus dirawat dokter karena kedinginan atau kesulitan peredaran darah. Sembilan belas diantaranya harus dilarikan ke Rumah Sakit.

Ketika misa di Krakow, jumlah umat yang hadir lebih dari satu juta orang. Walikota Krakow, Jacek Majchrowski memang sudah memperkirakan jumlah tersebut. Krakow adalah tempat bersejarah bagi Paus Yohanes Paulus II. Sebelum menjadi Paus, Karol Wojtyla adalah Uskup Agung di kota ini. Kenangan kepada mendiang Paus Yohanes Paulus II nampaknya menjadi salah satu alasan umat berbondong-bondong hadir. Dalam kotbahnya, beberapa kali Paus Benediktus XVI juga menyinggung pendahulunya itu, antara lain: “Krakow adalah kota Karol Wojtyla dan kotaYohanes Paulus II. Dan sekarang Krakow adalah kota saya juga!”, kata Benediktus disambut tepuk tangan meriah umat yang hadir.

Kunjungan ke Auschwitz.

“Paus Asal Jerman Berkunjung ke Kamp Konsentrasi Auschwitz”, begitu judul yang ditulis oleh banyak media massa tentang kunjungan Benediktus ke Auschwitz.

Di jaman Rezim Nazi Hitler hampir 1,5 juta orang, khususnya keturunan Yahudi dibantai secara keji di kamp konsentrasi Auschwitz. Bisa dimengerti bahwa Paus Ratzinger yang berasal dari Jerman ini menjadi pusat perhatian ketika berkunjung ke Auschwitz. Kenyataan ini disadari benar oleh Paus Benediktus XVI.

Dalam sambutannya Paus Benediktus antara lain berkata: “Paus Yohanes Paulus II datang ke tempat ini sebagai seorang anak bangsa Polandia. Hari ini saya datang kemari sebagai seorang anak bangsa Jerman”, katanya. Sehubungan kekejian luar biasa yang pernah terjadi di Auschwitz, Benediktus berkata:”Betapa banyak pertanyaan muncul di tempat ini! Secara terus-menerus pertanyaan muncul: Di mana Tuhan pada saat itu? Mengapa Ia diam saja?”

Selanjutnya Benediktus XVI mengutip Mazmur 44: “Engkau telah meremukkan kami di tempat serigala dan menyelimuti kami dengan kekelaman…Bangunlah! Mengapa Engkau tidur ya Tuhan. Bangunlah!”

Kemudian Paus melanjutkan: “Kita tak mampu melihat rencana misteri Allah. Kita hanya melihat sebagian kecil dan kita bisa salah dalam menilai Tuhan dan sejarah….Kita harus terus menerus berteriak: Bangunlah ya Tuhan, jangan lupakan umat-Mu!”, tuturnya dalam bahasa Italia. Selama kunjungan ke Polandia, Paus Benediktus memang menghindar untuk menggunakan bahasa Jerman. Hal ini dilakukannya untuk menjaga perasaan Orang Polandia dan Yahudi khususnya.

Dalam lawatannya ini, Paus juga berkunjung ke Wadowice, kota kelahiran Yohanes Paulus II; bertemu dengan perwakilan agama lain di Gereja Lutheran, Warsawa; bertemu dengan kaum religius dan para seminaris. Tak ketinggalan, Paus Benediktus juga mengunjungi tempat-tempat ziarah Bunda Maria seperti di Kalwaria Zebrzydowska dan di Jasna Gora. Secara khusus, Paus juga bertemu dengan kaum muda di Blonie Park, Krakow.

Reaksi Atas Kunjungan Paus Benediktus XVI.

Dimana-mana Paus Benediktus XVI disambut secara luar biasa rakyat Polandia. Kota Warsawa penuh dengan poster-poster menyambut kedatangan Paus. Beberapa poster antara lain menyebut Benediktus sebagai: “Paus Kami”. Banyak orang mengatakan bahwa Paus Benediktus XVI mendapat sambutan luar biasa karena dianggap mempunyai kedekatan yang erat dengan pendahulunya. “Hal itu mungkin ada benarnya. Namun jangan lupa, Paus ini memang pandai merebut hati rakyat Polandia dengan apa yang ia lakukan dan kotbahkan selama di Polandia”, jelas Sylwerter bersemangat.

Kunjungan Paus Benediktus XVI tidak hanya mendapat perhatian penuh Media Massa setempat namun juga dari Media asing. Tujuh stasiun televisi, termasuk CNN, NBC, BBC, Telepace dan EuroNews menyiarkan secara langsung acara kunjungan bersejarah ini.

Heri Kartono.

Kunjungan Paus ke Jerman (2006)


SUSAHNYA BERDIALOG!

Kunjungan enam hari Paus Benediktus XVI ke Jerman mendapat sambutan hangat dimana-mana. Namun, komentar singkatnya tentang kekerasan yang mengatas-namakan agama, mendapat reaksi keras dari sejumlah pemimpin agama Islam.

“Suatu Kunjungan yang membawa kebaikan bagi bangsa kita”, begitu judul yang ditulis harian Suddeutsche Zeitung tentang kunjungan Paus ke Jerman. Kunjungan Paus, menurut koran Jerman ini membuat orang-orang tiba-tiba berbicara lagi mengenai agama sebagai topik percakapan mereka.

Apa yang dikatakan surat kabar Jerman ini menggambarkan suasana keseluruhan kunjungan Paus Benediktus XVI ke tanah airnya, Jerman.

Pada hari pertama kunjungannya ( 9/9/06) Paus disambut secara kenegaraan di bandara Franz Joseph Strauss, Munchen. Presiden Jerman Horst Kohler, kanselir Angela Merkel serta sejumlah pejabat teras menyambut Paus dengan hangat. Tak ketinggalan para pejabat gereja seperti Kardinal Karl Lehmann, ketua konperensi para uskup Jerman; Kardinal Friedrich Wetter, uskup Agung Munchen juga turut hadir dalam acara penyambutan tersebut.

Dalam kunjungan enam hari ini (9-14/9’2006) acara Paus tergolong padat. Ia merayakan Misa antara lain di lapangan terbuka Neue Messe dan di Altotting, menghadiri pertemuan dengan para pejabat negara, bertemu dengan pelbagai kelompok sampai acara pribadi bertemu dengan kakak kandung dan berziarah ke makam orang tua. Ditengah-tengah pelbagai pemberitaan positif mengenai kunjungan Paus yang ke-empat ke luar Italia ini, Benediktus XVI juga mendapat sorotan tajam menyangkut apa yang disampaikannya di Universitas Regensburg (12/9).

Kecam Kekerasan Atas Nama Agama.

Dalam kesempatan berbicara di Universitas Regensburg (tempat Ratzinger pernah mengajar), Paus mengkritik kekerasan atas nama agama. Topik kuliah yang disampaikan Paus adalah bagaimana Iman dan Akal dapat berdamai di Barat. Kuliah itu sendiri bernuansa akademik. Namun Paus memulai dengan mengutip sebuah buku karangan Prof Theodore Khoury yang berisi perdebatan antara Kaisar Bizantium (kini Turki) Manuel Paleologos II yang Kristen dengan seorang cendekiawan Persia (abad ke 14). Dalam perdebatan tersebut kaisar menyinggung persoalan jihad atau Perang Suci. “Menyebarkan iman lewat kekerasan adalah tidak masuk akal. Kekerasan tidak cocok dengan hakekat Allah dan tidak cocok dengan hakekat jiwa”, ujar Manuel Paleologos dalam perdebatan dengan cendekiawan Persia tsb.

Pembicaraan Paus yang berkaitan dengan Islam, dengan mengutip ucapan Kaisar Manuel Paleologos II, merupakan bagian yang amat singkat dari kuliahnya yang berlangsung selama 32 menit. Namun demikian, bagian singkat ini mendapat tanggapan paling banyak dan keras, khususnya dari kalangan Islam.

Pimpinan persaudaraan Muslim, Mohammed Mahdi Akef, yang memiliki organisasi amat berpengaruh di dunia Arab mengatakan bahwa Paus telah membangkitkan kemarahan seluruh dunia Islam dan makin menguatkan dugaan bahwa Barat memang bersikap bermusuhan terhadap apapun yang berkaitan dengan Islam. Di Turki, Ali Bardakoglu, Direktur Jenderal Urusan Agama, amat menyesalkan ucapan Paus. “Saya tidak melihat perlunya orang yang memiliki pandangan seperti itu mengunjungi Negara Islam”, tutur Ali. Bulan Nopember yang akan datang Paus Benediktus dijadwalkan akan berkunjung ke Turki atas undangan Presiden Ahmet Necdet Sezer. Reaksi keras atas pidato Paus terus berdatangan dari pelbagai negara. Di Nablus (Palestina) dilaporkan dua gereja diserang bom molotov.

Tanggapan Vatikan.

Atas pelbagai tanggapan keras tersebut, sekretaris Negara Vatikan yang baru, Tarcisio Bertone (16/9) menyatakan bahwa Paus amat terkejut dan menyesal bahwa beberapa kalimat dalam pidatonya dianggap melawan umat Islam. Lebih lanjut, Tarcisio menjelaskan bahwa pandangan Paus tentang Islam adalah sejalan dengan ajaran Gereja Katolik yang menghargai Islam sebagai agama yang menyembah hanya satu Allah.

Pada hari Minggu (17/9) menjelang doa Angelus di Castel Gandolfo (Istana musim panas Paus di luar kota Roma) secara langsung Paus menyatakan penyesalannya yang mendalam dan berkata: “Kutipan yang saya ambil dari abad pertengahan, sama sekali tidak mencerminkan pendapat saya pribadi”, katanya dalam bahasa Italia. Selanjutnya Paus menjelaskan bahwa pidato yang disampaikannya di Regensburg sesungguhnya merupakan ajakan untuk berdialog secara jujur dan terbuka dengan menghormati satu sama lain.

Apa yang disampaikan Paus Benediktus XVI memang benar. Lewat pidatonya, Paus sebenarnya mengajak semua orang untuk melakukan dialog antara akal dan iman. Itu juga berarti Paus menyerang sekularisme yang dominan di barat yang menyebabkan kultur barat terasa agresif bagi kultur lain yang religius, termasuk Islam. Paus juga lewat pidatonya menyodorkan suatu gagasan dialog peradaban universal. Benturan budaya sering terjadi karena konflik antara fundamentalisme religius melawan modernisme sekular. Dalam konteks ajakan kedua tersebut, Paus menyampaikan pesan kuatnya: anti kekerasan dan paksaan atas nama agama. “Sayang, dengan mengambil contoh kutipan dari kaisar Bizantium, jelas mengundang resiko”, ujar Prof. Daniel A.Madigan, dari Universitàs Gregoriana, Roma.

Dan memang, orang lebih terfokus pada penggalan kutipan (yang banyak dilansir media massa) lepas dari konteks keseluruhan. Tentang hal ini, Kardinal Paul Poupard, pejabat Vatikan yang membidangi dialog dengan umat Islam berkata: “Saya mengundang sahabat-sahabat Islam yang mempunyai kehendak baik untuk mengambil dan membaca teks Paus dengan seksama. Akan sangat jelas bahwa pidato Paus sama sekali tidak bisa digolongkan menyerang Islam, sebaliknya merupakan suatu ajakan untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam budaya agama, termasuk Islam”, jelas Kardinal dalam wawancara dengan koran Italia Corriere della Sera.

Kanselir Angela Merkel dan beberapa politisi Jerman menyampaikan komentar senada. Dalam wawancara yang dimuat harian Bild, Angela mengatakan: “Pidato tersebut merupakan undangan untuk berdialog bagi agama-agama. Apa yang ditekankan Paus Benediktus adalah penolakan yang tegas dan tanpa kompromi terhadap segala bentuk kekerasan atas nama agama”, ujar Angela.

Beberapa komentator di Roma mengusulkan agar teks pidato Paus diterjemahkan ke dalam bahasa Arab agar orang dapat membaca dan menentukan sendiri penilaiannya atas kutipan yang diucapkan Paus berdasarkan konteksnya.

Pembicaraan tentang kekerasan dalam agama sebenarnya bukan yang pertama kali disampaikan Paus Benediktus XVI. Minggu sebelumnya, dalam pertemuan antar tokoh agama di kota Asisi (Italia) yang dihadiri juga oleh tokoh Islam, Paus menyatakan bahwa tak seorangpun boleh menggunakan motif agama sebagai pembenaran atas tindakan permusuhan terhadap sesamanya.

Heri Kartono. (dimuat majalah HIDUP, edisi...Oktober, 2006)


Friday, June 19, 2009

Tahun Imam


DUKUNGAN BAGI PARA IMAM

Di hadapan relikwi Pastor Yohanes Vianney yang dibawa langsung dari Ars, Perancis, Paus Benediktus XVI membuka Tahun Imam (19/06/09). Ribuan imam turut hadir pada acara yang diselenggarakan di Basilika Santo Petrus, Vatikan ini.

“Terima kasih kepada anda semua para imam, yang datang begitu banyak, memenuhi undangan saya untuk hadir pada pembukaan Tahun Imam ini. Secara khusus untuk Kardinal Claudio Hummes, Prefek Kongregasi Klerus dan Mgr. Guy Claude Bagnard, uskup Belley-Ars”, ujar Paus pada Ibadat Agung pembukaan Tahun Imam.

Tahun imam yang baru pertama kalinya dicanangkan ini mulai berlangsung resmi pada tanggal 19 Juni 2009. Paus membuka Tahun Imam bertepatan dengan Pesta Hati Kudus dan Hari Doa Sedunia. Tahun Imam ini diadakan untuk menandai peringatan 150 tahun kematian Pastor yang saleh dari Ars, Perancis, St. Yohanes Maria Vianney, pelindung para imam.

Ikut Terluka

Tahun Imam yang baru saja dimulai ini, sebenarnya telah diumumkan oleh Paus sejak pertengahan Maret yang lalu. Waktu itu Paus menyampaikannya dalam Sidang Umum Konggregasi Klerus. Dalam sambutannya, Paus menyinggung empat aspek yang terkait dengan hidup seorang imam. Pertama, seorang imam tidak mewartakan dirinya sendiri, melainkan Allah. Umat hendak menemukan Allah lewat imam yang mereka jumpai. Kedua, seorang imam tak dapat dilepaskan dalam keterikatannya dengan Gereja. Tugas perutusan seorang imam bukanlah berasal dari dirinya melainkan selalu berkaitan dengan Gereja. Ketiga adalah unsur hirarkis. Dalam lingkungan gereja, tingkatan wewenang telah diwariskan sejak awal berdirinya gereja. Paus, sebagai pengganti Petrus merupakan pimpinan yang kuasanya diakui dan ditaati. Dan tentu saja, imam menyadari juga unsur ini. Keempat adalah unsur doktrinal, sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan seorang imam.

Menurut Kardinal Claudio Hummes, Prefek Kongregasi Klerus, tujuan tahun imam bukanlah sekedar seremonial belaka. Tahun Imam ada kaitannya dengan mencuatnya pemberitaan besar-besaran pelecehan seksual yang dilakukan oleh sejumlah imam. “Banyak imam di seantero dunia, ikut terluka atas peristiwa yang terjadi belum lama ini, yaitu kasus-kasus pedofilia yang dilakukan oleh sejumlah imam dan diberitakan oleh media massa secara luas”, papar Kardinal sebagaimana dimuat sejumlah media. Masih menurut Kardinal Hummes, demi keadilan, imam-imam yang bersalah harus diadili dan dihukum. Namun, demi keadilan juga, imam-imam yang tak bersalah, namun ikut menderita akibat pemberitaan luas, harus diperhatikan dan dihargai. “Kita harus mengatakan pada para imam bahwa kita bangga akan mereka dan mengakui mereka sebagai kelompok yang amat berarti, baik bagi gereja maupun masyarakat”, ujar Kardinal Hummes. Saat ini terdapat 408.000 imam di seluruh dunia.

Teladan Sejati

Tahun ini merupakan peringatan 150 tahun meninggalnya St.Yohanes Vianney. Adalah menarik bahwa Paus Benediktus XVI yang dikenal sebagai seorang intelektual besar menaruh perhatian luar biasa pada Pastor Vianney yang amat sederhana, khususnya sebagai teladan para imam. Paus Benediktus menyebut Vianney sebagai “Teladan sejati seorang gembala yang melayani kawanan Kristus”.

Sebenarnya tidak hanya Paus Benediktus XVI yang mengagumi Pastor Vianney. Paus Pius X (1903-1914) juga dikenal amat menghormati Vianney. Di meja kerja Paus X, selain terdapat salib, juga sebuah patung. Patung tersebut bukan salah satu Rasul atau Doktor Gereja, melainkan patung Yohanes Vianney, imam sederhana dari Ars. Siapakah gerangan Pastor Yohannes Maria Vianney?

Pastor Vianney lahir pada saat yang tidak menguntungkan bagi negerinya, Perancis. Tiga tahun sesudah kelahirannya di tahun 1786, pecah Revolusi Perancis. Revolusi ini antara lain ditandai semangat penuh kebencian terhadap gereja. Pada waktu itu banyak gereja dimusnahkan dan tidak sedikit Uskup, imam, suster yang menjadi korban pembantaian. 

Vianney sejak kecil sudah memiliki keinginan untuk menjadi imam. Saat di seminari, ia nyaris dikeluarkan karena kemampuan intelektualnya yang amat pas-pasan. Hanya karena Vianney dikenal amat baik, ia diijinkan untuk ditahbiskan. Saat itu Vikjen Keuskupan berkata: “Biarkanlah dia ditahbiskan. Rahmat Allah yang akan menyempurnakannya!”. Vikjen yang sama juga mengatakan: “Gereja tidak hanya membutuhkan imam-imam yang cerdas, tapi juga imam yang saleh!”.

Pastor Vianney ditugaskan di sebuah dusun kecil, Ars. Umat di paroki dusun ini hanya berjumlah 230 orang saja. Namun dalam beberapa tahun kemudian, dusun Ars menjadi terkenal di seluruh dunia justru karena semangat pelayanan serta kesucian imamnya yang sederhana, Yohanes Maria Vianney.

Tanggapan Positif dan Antusias

Tahun Imam yang dicanangkan Paus Benediktus XVI mendapat tanggapan positif dan antusias di banyak tempat. Konferensi Para Uskup Amerika Serikat langsung menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Para Uskup AS ini bahkan membuka web-site khusus di http://www.usccb.org/yearforpriests

Mgr. Mauro Piacenza , menyatakan bahwa ide Tahun Imam adalah amat tepat. Menurutnya, Tahun Imam merupakan kebutuhan untuk menguatkan diri para imam dari dalam. “Tahun Imam dapat memperkokoh identitas diri imam sekaligus dapat membaharui motivasi imam”, ujarnya dalam wawancara dengan Radio Vatikan (2/6/09).

Keuskupan Phoenix, Arizona menandai Tahun Imam dengan pelbagai cara. Pada hari yang sama (19/6/09) Tahun Imam dirayakan juga di Katedral Phoenix. Menurut uskupnya, Mgr. Thomas J. Olmsted, Tahun Imam akan membawa banyak berkat. “Secara khusus, Tahun Imam akan membawa banyak berkat panggilan baru”, ujar Mgr. Thomas ( The Catholic Sun, 4/6/09). Bulan Juni ini, ada 3 imam baru ditahbiskan di keuskupan Phoenix.

Kardinal Claudio Hummes, perfek Kongregasi Klerus menyatakan bahwa Tahun Imam merupakan momentum penting. Para imam, menurutnya, layak untuk mendapat pengakuan baik dari Gereja maupun masyarakat. Kongregasi Klerus juga mensponsori retret Internasional para Imam di Ars, Perancis yang akan diadakan pada tanggal 27 September hingga 3 Oktober 2009.

Di tanah air, Tahun Imam juga mendapat perhatian cukup besar. Uskup Bandung, Mgr. Pujasumarta Pr, lewat Multiply-nya, mengajak para imam maupun umat untuk mengisi Tahun Imam dengan pelbagai kegiatan. Pembukaan Tahun Imam, ditandai dengan perayaan Ekaristi di Katedral Bandung maupun di paroki-paroki keuskupan Bandung. Sedangkan Surat Edaran dari Kongregasi Klerus tentang Tahun Imam, menjadi bahan pertemuan para imam di keuskupannya (3/6/09). Sementara itu, di Keuskupan Tanjung Karang, para imam menandai Tahun Imam dengan mengadakan retret bersama (2-8 Juni 2009).

Menurut rencana, Tahun Imam akan ditutup pada tanggal 19 Juni 2010 dengan acara utama Pertemuan Para Imam seluruh dunia di lapangan Santo Petrus, Vatikan. (Foto: Fr. Julio, Br. Ngazi, Pst. Rudy dan tukang potret keliling).

Heri Kartono, OSC. (Dimuat di majalah HIDUP edisi 5 Juli 2009).

 

Saturday, May 30, 2009

Sr. Melanie CB.


DILAMAR DI TENGAH PASAR

Saat ini Sr.Melanie Giniyati CB duduk sebagai Pemimpin Umum Kongregasi Carolus Boromeus periode kedua. Kongregasi yang berpusat di kota Maastricht Belanda ini memiliki anggota yang tersebar di empat benua. Di Indonesia suster-suster CB berkarya di pelbagai tempat, mulai dari ibu kota Jakarta hingga pelosok Papua.

Hampir 20 tahun yang lalu, saat bertugas di Tanzania, Afrika, suster Melanie pernah dilamar seorang pemuda setempat. Waktu itu ia sedang berbelanja di sebuah pasar tradisional. Ketika ia sedang asyik memilih-milih sayuran, seorang pemuda gagah berkulit gelap, berambut keriting, datang menghampirinya. Tanpa basa-basi pemuda tersebut menyatakan senang padanya dan berniat untuk melamarnya. Tak lupa, pemuda tersebut menjanjikan 50 ekor sapi sebagai mas kawinnya.

Rupanya, Sr.Melanie yang berkulit terang dan berambut lurus, dianggap lebih cantik dibanding gadis-gadis setempat. Dengan tenang Sr.Melanie mengucapkan terima kasih seraya menjelaskan bahwa dirinya telah terikat. Ia juga menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya sebagai tanda ikatan itu. Menolak suatu lamaran di muka umum di Tanzania dapat berbahaya. Sebab, sang pemuda bisa merasa direndahkan atau terhina. Namun dengan sikap Sr.Melanie yang tenang dan ramah, pemuda itupun dapat menerima penolakan tersebut. Orang-orang yang menyaksikan adegan tersebut dan yang mengenal Melanie sebagai seorang suster, bertepuk tangan dengan riuhnya.

Peristiwa kecil di atas, menunjukkan sebagian kepribadian Sr.Melanie. Ia mampu menghadapi pelbagai situasi tak terduga dengan ketenangan serta kearifan yang mengagumkan. Karenanya tidak heran bahwa sepanjang hidupnya sebagai seorang biarawati, ia kerap dipercaya sebagai pimpinan.

Dari Keluarga Non Katolik

Suster kelahiran Magelang, 26 Nopember 1943 ini berasal dari keluarga non Katolik. Pada waktu Melanie kecil duduk di bangku SD Negeri di Magelang, ia melihat bahwa siswa-siswi sekolah Katolik kelihatan lebih lincah, cerdas dan rapih. Sekolah mereka memang berdekatan. Ia meminta pada orang tuanya untuk disekolahkan di sekolah Katolik. Setelah lulus SD, orang tuanya mengijinkan Melanie masuk SMP Katolik. Lewat sekolah ini, Melanie tertarik pada agama Katolik dan mengikuti pelajaran agama. Awalnya orang tuanya tidak setuju. Maklum, dari keluarga Melanie, waktu itu, tidak ada satupun yang beragama Katolik. Meski demikian, sesudah lulus SMP, Melanie yang tetap berkeras ingin menjadi Katolik, akhirnya diijinkan dibaptis.

Setelah tamat SMA, Melanie melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Fakultas Ekonomi. Kampus UGM terletak tidak jauh dari Rumah Sakit Panti Rapih yang dikelola para suster Carolus Boromeus. Penampilan para suster CB yang kerap dilihatnya, rupanya menarik perhatiannya. Di matanya, para suster tampak selalu gembira, ramah dan siap membantu orang lain.

Suatu hari, Melanie berkenalan dengan Moeder Yvon CB, pemimpin biara Panti Rapih. Lewat suster Yvon ini, Melanie menyatakan ketertarikannya untuk menjadi seorang biarawati (karena ketidak tahuannya, waktu itu Melanie mengatakan ingin menjadi seorang romo!). Moeder Yvon kemudian memperkenalkan Melanie dengan Sr.Louise CB, pemimpin Novisiat. Atas saran Sr.Louise, Melanie meminta ijin orang tuanya untuk meninggalkan bangku kuliah dan masuk biara. Tentu saja orang tuanya terkejut, kecewa dan marah. Ayah Melanie bahkan tidak bersedia menanda-tangani surat persetujuan. Sesudah dibujuk-bujuk, akhirnya dengan berat hati bapak memberi tanda tangan juga. Meski demikian, kedua orang tidak bersedia mengantar saat Melanie masuk Novisiat.

Demikian juga, saat prasetya kekal di Bandung, 9 Juli 1972, tak seorangpun dari keluarga Melanie hadir. Meski demikian, bapak mengirim surat, menyatakan bahwa ia telah merelakan Melanie anaknya, menempuh jalan hidup membiara. Tentu saja surat tersebut melegakan Melanie.

Bakat Pemimpin

Setelah profesi, Sr.Melanie ditugaskan membantu di bagian administrasi RS.Panti Rapih sambil kuliah di IKIP Sanata Dharma jurusan ekonomi. Setelah itu, Sr.Melanie nyaris selalu bertugas sebagai pemimpin. Di RS.Boromeus Bandung, Sr.Melanie ditugaskan sebagai Direktris Administrasi dan Personalia. Demikianpun saat ditugaskan selama 10 tahun di RS.Carolus, Jakarta, Sr.Melani dipercaya sebagai Direktris Administrasi dan Rumah Tangga yang mengurus para karyawan serta penunjang pelayanan Rumah Sakit.

Pada tahun 1991, Sr.Melanie diutus ke Tanzania, Afrika. Di sana ia bertugas sebagai Administrator Ndala Hospital yang letaknya di pelosok, sekitar 1000 km dari Dar Es Salaam, Ibu Kota Tanzania. Di manapun bertugas, jiwa kepemimpinan Sr.Melanie nampaknya tetap menonjol. Hal ini diakui oleh para suster yang lain. Sr.Melanie juga dikenal sebagai sosok yang sabar dan pandai dalam bergaul. Karenanya tidak heran bahwa pada Kapitel Umum CB bulan Agustus 1999, Sr.Melanie terpilih sebagai Pemimpin Umum Konggregasi yang berpusat di kota Maastricht ini.

Saat dipilih sebagai Pemimpin Umum, Sr.Melanie mengaku sama sekali tidak bangga atau bahagia. Ia malahan merasa diri kecil, takut dan sedih. Ia juga merasa kurang berpengalaman untuk memimpin para suster tingkat internasional. Konggregasi Carolus Boromeus memang tersebar di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika. Di Indonesia, CB ada di 58 komunitas tersebar di Jawa, Bali, Papua, Flores, Timor hingga Timor Leste. Kendati pada awalnya merasa diri kecil dan takut, nyatanya Sr.Melanie dapat memimpin Konggregasi ini dengan baik. Pada Kapitel Umum tahun 2005, untuk kedua kalinya Sr.Melanie terpilih sebagai Pemimpin Umum hingga tahun 2011 yang akan datang.

Kreatif dan Profesional

Sebagai seorang pemimpin Kongregasi internasional, Sr.Melanie menyadari pentingnya komunikasi yang baik. Untuk itu, penguasaan bahasa menjadi mutlak. Penguasaan bahasa yang baik amat membantu untuk saling mengerti sekaligus mengurangi kemungkinan salah faham. Pengalaman bertugas di Tanzania amat menguntungkannya dalam penguasaan bahasa. Di Tanzania digunakan dua bahasa, yaitu bahasa Swahili dan bahasa Inggris. Sr.Melanie menguasai kedua bahasa tersebut. Di lingkungan suster CB Internasional, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa resmi dalam berkomunikasi. Meski demikian, karena pusat konggregasi ada di kota Maastricht, maka penguasaan bahasa Belandapun diperlukan. Berkat semangat belajarnya yang tak pernah padam, Sr.Melanie dapat juga menguasai bahasa Belanda dengan baik.

Konggregasi CB banyak berkecimpung di bidang kesehatan dan pendidikan. Beberapa Rumah Sakit ternama di Indonesia seperti RS.Borromeus di Bandung, RS.Panti Rapih di Yogya dan RS.Carolus di Jakarta dimulai dan dikelola oleh para suster CB. Demikian juga beberapa sekolah berkualitas seperti Sekolah Tarakanita di Jakarta dan Stella Duce di Yogya, dikelola CB. Di luar Jawa, seperti di Bengkulu dan Lahat, sekolah yang dikelola para suster CB banyak diminati masyarakat. Selain pendidikan dan kesehatan, CB juga berkecimpung di bidang pastoral, sosial dan kategorial lainnya.

Salah satu keprihatinan Sr.Melanie sebagai pemimpin umum adalah berkurangnya panggilan. Jumlah calon anggota dari tahun ke tahun menurun, juga di Indonesia. “Mencermati kenyataan ini, kami harus kreatif, professional dan efisien”, ujar suster yang senang berkebun ini. Di samping itu, peningkatan kualitas hidup religius yang sesuai dengan spiritualitas pendiri Kongregasi, menjadi perhatiannya juga.

Ada banyak tantangan yang harus dihadapi Sr. Melanie sebagai Pemimpin Umum CB. Ia mengaku tak pernah gentar. Pertama karena ia merasa didukung oleh para suster CB di seluruh dunia. Selain itu, ia sendiri mempunyai komitmen kuat atas tugasnya. Di atas segalanya Sr.Melanie mempunyai prinsip, “Asal Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas”. Prinsip ini sesuai dengan semangat pendiri Konggregasi Carolus Borromeus yaitu Elisabeth Gruyters.

Heri Kartono OSC. (Dimuat di majalah HIDUP edisi 5 Juli 2009).

Sunday, May 24, 2009

Astuti Sastra Pratiwi


MEMBERI WARNA BARU

Astuti Sastra Pratiwi mempunyai kesan khusus dengan acara Festa dei Popoli. Waktu itu, selesai menari poco-poco, Pembawa Acara meminta Astuti untuk tampil sekali lagi di panggung. Kali ini ia diminta tampil sendirian, mewakili grup Indonesia untuk menerima penghargaan dari panitia. Pembawa Acara mengatakan bahwa Indonesia merupakan satu-satunya kelompok yang anggotanya tidak hanya beragama Katolik, tapi juga Protestan, bahkan Islam. Penampilan grup Indonesia dianggap memberi warna khusus pada Festa dei Popoli, (17/05/09). Pesta Rakyat yang diadakan di depan Basilika St.Yohanes Lateran, Roma, ini diikuti oleh kelompok-kelompok Imigran Manca Negara. Acara ini ditonton sekitar 10 ribu orang dan diliput televisi nasional Italia, RAI Tre.

Astuti mengaku, pada awalnya merasa was-was ikut tampil dalam acara orang Katolik ini. Ia sadar, bahwa dialah satu-satunya penari yang tampil mengenakan jilbab. Namun, sesudah melihat sambutan yang begitu hangat, ia merasa senang dan bersyukur. Saat menari, Astuti kelihatan amat luwes dan tidak canggung. Rupanya, ia memang seorang guru tari. “Waktu saya tinggal di Yordania, saya malah sempat mengajar tari poco-poco”, ujarnya.

Gadis ramping kelahiran Buton, Sulawesi Tenggara (25/12/87) ini menguasai pelbagai jenis tarian. Tarian favoritnya adalah Tari Lenggang Nyai dari Betawi dan Tari Saman dari Aceh. Ia pernah tinggal di Bombay, India selama 4 tahun dan sempat juga tinggal di Yordania. Saat ini ia tinggal di Roma bersama ayah-ibunya. Ayahnya, Musurifun Lajawa adalah seorang diplomat yang kerap berpindah-pindah tempat. Kini, ayah Astuti bertugas sebagai Kepala Penerangan KBRI untuk Italia sejak September tahun lalu.

Astuti mengaku senang tinggal di Roma. Ia juga merasa tidak canggung mengenakan jilbab di negara yang mayoritas beragama Katolik ini. “Orang di sini umumnya ramah dan bersahabat. Sekurangnya, mereka tidak pernah mengganggu saya. Sebaliknya, mereka amat menghargai saya, seperti pada acara Festa dei Popoli itu”, papar Astuti dengan nada gembira.

Heri Kartono OSC (Dimuat di majalah HIDUP edisi 21 Juni 2009).

Monday, May 18, 2009

Festa dei Popoli



PESTA UNTUK SEMUA ORANG

Latin Amerika, Rumania, Filipina, Cina serta sekitar 30 kelompok lain dari pelbagai negara, termasuk Indonesia berbaur dan berpesta bersama dalam acara Festa dei Popoli (17/05/09). Pesta kaum imigran yang bertempat di halaman Basilika St.Yohanes Lateran, Roma ini berlangsung meriah dan dihadiri ribuan orang.

Kelompok Indonesia menampilkan tarian poco-poco. Para penarinya mengenakan busana tradisional dengan aneka warna menarik. Banyak di antara penonton ikut bergoyang di tempatnya masing-masing, terbuai irama musik yang memang menawan. Selain penampilannya yang menarik, kelompok Indonesia mendapat sambutan khusus dari Pembawa Acara. Dikatakan oleh Pembawa Acara bahwa Indonesia merupakan satu-satunya kelompok yang anggotanya tidak hanya beragama Katolik, tapi juga Protestan, bahkan Islam. Pengumuman dari MC ini disambut tepuk-tangan meriah para penonton.

Festa dei Popoli (Pesta Rakyat) adalah pesta bersama kaum imigran yang diadakan setahun sekali di Roma. Tahun ini merupakan pesta yang ke XVIII dengan topik Roma con altri occhi (Roma dengan mata yang lain). Acara ini diselenggarakan oleh Kongregasi Misionaris Scalabriani, bekerja sama dengan Pusat Migran Caritas Roma. Acara ini juga mendapat dukungan pemerintah setempat serta Vikariat Roma.

Festa dei Popoli yang pertama diadakan pada tanggal 3 Mei 1992 dengan tema Insieme senza frontiere (Bersama-sama tanpa batas). Tema-tema yang diusung hampir selalu berkaitan dengan integrasi serta multi etnik yang merupakan hal penting bagi kaum pendatang. Selama 13 tahun pertama, pesta ini diadakan di halaman gereja paroki Redentore di Valmelaina. Baru sejak tahun 2005, acara meriah ini diselenggarakan di halaman Basilika Santo Yohanes Lateran yang merupakan gereja Keuskupan Roma.

Pertemuan Antar Budaya

Ada beberapa tujuan dari pesta khas kaum imigran ini. Pertama-tama, pesta ini memungkinkan adanya pertemuan budaya yang berbeda dari kaum imigran yang berada di kota Roma. Dengan mengenal budaya masing-masing, diharap juga timbul sikap untuk saling menerima serta menghargai. Selain itu, pesta ini juga merupakan ajang dialog serta tukar informasi. Maklum, sebagai imigran, informasi yang tepat, terutama berkaitan dengan masalah hukum, amat diperlukan.

Festa dei Popoli dimulai pada jam 09.00 pagi dengan pembukaan pelbagai stand. Ada sekitar 40 stand berupa tenda-tenda dari pelbagai negara. Setiap stand memamerkan barang-barang khas negaranya masing-masing, kerajinan tangan serta makanan. Indonesia yang baru pertama kalinya berpartisipasi, mendapat stand nomor 34. Nasi goreng yang dijual seharga 5 Euro (sekitar Rp.70.000,-) per porsi, habis dalam waktu singkat, pada saat makan siang. Penjualan dilakukan dengan menggunakan kupon yang diatur oleh panitia.

Acara ini juga menampilkan ceramah dan diskusi seputar masalah Imigran. Pada jam 12.00 siang, diadakan misa bersama di Basilika St.Yohanes Lateran. Basilika yang begitu besar, penuh sesak dengan umat yang hadir. Misa dilaksanakan dalam pelbagai bahasa dengan 3 paduan suara berbeda serta beberapa kelompok musik etnik. Julio Cesar Resende, seorang frater asal Brasil merasa tersentuh saat mengikuti misa yang meriah namun hikmat ini.

Selesai misa, acara dilanjutkan dengan makan siang dan hiburan. Acara di panggung besar yang menampilkan acara dari pelbagai negara merupakan acara yang paling ditunggu penonton. Negara-negara Amerika Latin, seperti Bolivia, Peru dan Mexico tampil dengan pakaian khas dan dengan warna-warna menyolok. Tari-tarian yang mereka suguhkan amat dinamis dan cepat. Kelompok ini mendapat sambutan hangat penonton. Umumnya setiap negara menampilkan satu jenis tontonan atau paling banyak dua macam. Namun Filipina tampil 3 kali dengan acara dan kelompok yang berbeda-beda. Imigran Filipina memang banyak. Di seluruh Italia diperkirakan terdapat 100 ribu imigran asal Filipina. Dari jumlah itu, lebih dari separuhnya tinggal di kota Roma. Konon dalam satu tahun, tak kurang dari 11 juta dolar AS uang yang dikirim para migran Filipina ke kampung halamannya.

Kebutuhan Komunikasi

Krisis ekonomi yang parah kerap memaksa orang meninggalkan negerinya pergi ke negeri lain, mengadu nasib. Demikian juga situasi politik yang tak menguntungkan, dapat memaksa orang pergi meninggalkan negerinya. Italia adalah salah satu negara yang banyak dituju kaum imigran.

Di Roma, ada banyak migran yang sukses baik dalam pekerjaan maupun hidupnya. Namun, tidak sedikit juga yang bernasib sebaliknya. Sulit mendapatkan pekerjaan, apalagi jika mereka datang tanpa kelengkapan dokumen. Migran gelap akan terus merasa was-was karena sewaktu-waktu bisa saja petugas menangkapnya. Selain itu, terdapat masalah lain yang juga tidak kalah peliknya, seperti adaptasi dengan bahasa dan budaya setempat.  Mengingat pelbagai kesulitan tersebut, para migran ini butuh bantuan, dukungan serta perlindungan. Di samping itu, mereka juga butuh untuk bertemu dengan sesama bangsanya untuk saling menguatkan.

Di Roma ada sekitar 150 komunitas kaum migran. Komunitas-komunitas tersebut dibentuk berdasarkan agama, bahasa dan negara asal. Secara berkala para migran bertemu dalam kelompok-kelompok, baik untuk saling tukar informasi maupun sekedar berbagi suka dan duka. Frater Yance Guntur dari tarekat Scalabriani, mengatakan bahwa tarekatnya mempunyai perhatian besar terhadap nasib kaum migran. Salah satu bentuk perhatian tarekat ini adalah membentuk Gruppo Contatto, yaitu grup yang menjadi penghubung komunitas migran yang satu dengan yang lainnya. “Ada 6 frater kami yang bekerja dalam grup ini. Mereka bekerja sama dengan para relawan”, ujar frater asal Flores ini. Festa dei Popoli, merupakan bentuk nyata kepedulian Misionaris Scalabriani terhadap kaum migran.

Festa dei Popoli tidak mempunyai agenda politik namun memiliki relevansi politik yang tinggi. Pasalnya, saat ini Italia sedang menjadi sorotan dunia Internasional karena kebijakannya mengembalikan 227 imigran asal Libya yang hendak memasuki perairan Italia, awal Mei yang lalu.

Kaum migran memang tidak selalu bernasib baik. Di Italia, termasuk di Roma pernah beberapa kali timbul insiden antara penduduk asli dengan kaum migran. Pemukiman kumuh para Gypsi sempat dirusak dan dibakar para pemuda setempat. Pasalnya, kaum Gypsi, yang merupakan pendatang, dianggap mengotori serta mengganggu lingkungan sekitar. Pedagang gelap, pencuri-pencuri cilik, sering juga dilakukan para pendatang. Tidak heran bahwa penduduk setempat kerap jengkel dan marah.

Lepas dari beberapa akibat negatif yang sering muncul, kaum migran dimanapun membutuhkan perhatian serta perlindungan. Gereja Katolik secara umum memiliki kepedulian serta perhatian khusus kepada kaum migran. Hal ini tampak antara lain dengan ditetapkannya Hari Migran dan Perantau Sedunia. Bertepatan dengan hari tersebut, Paus biasanya mengeluarkan suatu pesan khusus yang disebarkan ke seluruh dunia. Tahun ini merupakan Hari Migran yang ke-95. Simpati yang ditunjukkan Gereja, seperti acara Festa dei Popoli yang diprakarsai Misionaris Scalabriani amat besar artinya bagi kaum migran, orang-orang yang harus berpisah dengan sanak-saudara serta tanah airnya. (Foto atas: Salah satu grup dari Amerika Latin, difoto sesudah berpentas. Bawah: Grup Indonesia saat menari poco-poco!).

Heri Kartono, OSC. (dimuat di majalah HIDUP, edisi 31 Mei 2009).