Friday, February 24, 2012

Kebohongan, Angelina Sondakh


BERCERMIN PADA LA BOCCA DELLA VERITA

Kesaksian Angelina Sondakh yang meragukan dan dianggap bohong dalam sidang kasus suap Wisma Atlet SEA Games 2011 di Pengadilan Tipikor, Jakarta (15/02) terus menjadi pemberitaan di Media Massa. Terakhir, sebagaimana banyak diwartakan, M. Nazaruddin melaporkan Angie ke polisi terkait kebohongan tsb.

Seorang pastor yang mempunyai reputasi baik dan dikenal memiliki dedikasi yang tinggi pernah berkata: “Saya malu bahwa saya tidak bisa melakukan apa yang saya kotbahkan. Namun, saya akan lebih malu bila saya meng-kotbahkan apa yang saya lakukan…!”. Ucapan yang bernada seloroh ini menyiratkan betapa tidak gampangnya menyampaikan kebenaran, apalagi kalau harus mempertaruhkan nama baik.

La Bocca Della Verita

Di kota Roma ada banyak hal yang menarik. Salah satu yang unik dan menarik adalah La Bocca Della Verita. La Bocca Della Verita yang berarti Mulut Kebenaran adalah sebuah patung wajah yang dibuat dari marmer tebal dengan diameter sekitar 2 meter dan berbobot 1300 Kg. Mulut La Bocca terbuka lebar. Menurut legenda Romawi kuno, orang yang diragukan kebenarannya, akan dibawa ke tempat ini. Disaksikan oleh banyak orang, dia diminta memasukan tangannya ke dalam mulut La Bocca. Bila ia berbohong, La Bocca akan menggigit putus tangannya. Patung wajah ini sejak abad ke 17 dipasang di teras dinding sebuah Gereja di jantung kota Roma, tidak jauh dari Colloseum. Sampai sekarang, tempat ini banyak dikunjungi turis mancanegara. Mereka datang untuk berfose sambil memasukkan tangan ke dalam mulut La Bocca sebagai kenang-kenangan.

Pastilah orang Romawi kuno mempunyai alasan mengapa mereka amat menghargai kebenaran. Harkat seseorang pertama-tama tidak ditentukan oleh penampilan, harta atau apapun, tetapi kebenaran yang keluar dari mulutnya. Bila orang sudah tidak bisa dipercaya lagi, tamatlah riwayatnya. Dalam banyak aspek kehidupan, kebenaran memegang peranan penting. Mengapa Harian Suara Pembaruan banyak dicari orang dan dijadikan referensi?, karena Koran ini memiliki reputasi di bidang penyampaian kebenaran berita.

Dalam hal bisnis, kebenaran juga memegang peran utama. Sering orang menduga, dunia bisnis adalah dunia tipu-menipu. Rupanya tidak! Bisnis yang sehat, maju dan bertahan lama adalah bisnis yang bisa dipercaya! Demi mempertahankan kepercayaan konsumen, pebisnis sering rela berbuat apa saja. Sebaliknya, pebisnis yang tidak bisa dipercaya omongannya, dalam waktu singkat akan ditinggalkan para kliennya. Pebisnis ulung di seluruh dunia sangat menyadari pentingnya faktor kepercayaan dalam dunia bisnis. Timbulnya kepercayaan berawal dari kebenaran ucapannya.

Soal kebenaran ini merupakan persoalan serius. Orang Belanda, sejak awal sangat menekankan pada anak-anak mereka untuk tidak berbohong. Soal “nyontek” di kelas, misalnya, bagi mereka sama sekali bukan soal sepele. Bila seorang anak sejak kecil sudah terbiasa tidak jujur lewat tindakan nyontek, maka dia juga akan tidak jujur dalam banyak hal lain. Celakanya, dalam dunia pendidikan kita, nyontek sudah dianggap lumrah. Kita pernah dikejutkan dengan berita tentang nyontek massal yang terjadi di SD II Gadel, Tandes Surabaya. Alif (13) siswa yang tidak mau memberi contekkan justru dimusuhi teman-temannya. Demikian juga ibunya, Siami, yang membeberkan kecurangan di sekolah anaknya, harus mengungsi dari kampungnya karena dikucilkan (Suara Pembaruan, 16 Juni 2011).

Partai Demokrat saat ini sedang menjadi bulan-bulanan berita karena dugaan kasus korupsi yang menimpa beberapa kader utamanya. Rakyat merasa dikecewakan bahwa partai yang sempat mereka percayai membawa kebenaran, dengan slogan anti korupsinya, justru menjadi biang kerok kepalsuan. Sebagaimana kasus nyontek yang sudah mewabah ke seantero sekolah kita, demikian juga nampaknya kepalsuan telah menjadi sesuatu yang amat biasa di hampir semua lapisan masyarakat. Dalam konteks ini, kebohongan Angelina Sondakh, kalau itu terbukti, nampaknya bukanlah sesuatu yang luar biasa.

Timothy Radcliffe, OP, mantan pengajar di Oxford University, pernah mengatakan bahwa akar dari suatu krisis sosial sebenarnya terletak pada krisis kebenaran (Timothy Radcliffe, OP, “Sing a New Song”, Dublin, June 2001). Pendapat Radcliffe ini amat terasa kebenarannya manakala kita melihat krisis sosial yang sedang marak dalam masyarakat kita.

Suara di Padang Gurun

Umat Katolik baru saja memulai Masa Pertobatan (Rabu, 22/02/2012). Masa Pertobatan tersebut ditandai dengan pengurapan abu pada dahi umat dalam suatu upacara di Gereja. Karenanya, hari itu disebut Rabu Abu. Masa Pertobatan ini berlangsung selama 40 hari hingga Hari Raya Paskah. Selama kurun waktu tersebut, umat diajak dengan pelbagai cara untuk memperbaiki hidupnya ke arah yang benar.

Masa Pertobatan diulangi setiap tahunnya. Nampaknya disadari bahwa pertobatan bukanlah sesuatu yang dapat terjadi satu kali untuk selamanya. Tidak jarang, ajakan untuk bertobat seperti suara yang berseru-seru di Padang Gurun, tak digubris.

Angelina Sondakh dapat dengan tenang mengumbar kebohongan. Anak-anak sekolah dapat terus menyontek dan kita tetap mengeluh atas bobroknya masyarakat kita. Kalau kita menghendaki perubahan, tak ada jalan pintas selain mengadakan perubahan bersama, pertobatan kolektif!

(Heri Kartono.OSC, dimuat di Suara Pembaruan 23 Februari 2012. Foto hasil jepretan Pak Wili Nggai)

Rabu Abu



RABU ABU VERSUS SEMARAK KARNAVAL

Sekitar setengah juta turis berdatangan ke Rio de Janeiro, Brasil, pada minggu ini untuk menyaksikan semarak Karnaval yang gila-gilaan. Puncaknya adalah hari Selasa kemarin (22/02/12), atau satu hari menjelang Rabu Abu. Di New Orleans, pesta yang sama dikenal dengan nama Mardi Gras. Kota-kota lain di dunia pada saat yang bersamaan juga tidak ketinggalan, saling berlomba mengadakan acara serupa seperti Toronto, London, Salvador, Trinidad, Nice dan Cologne.

Pesta Pora Menjelang Puasa

Pada abad kedua, Gereja Katolik, khususnya di kota Roma memulai suatu kebiasaan menyelenggarakan pesta sehari menjelang hari Rabu Abu atau saat dimulainya Masa Puasa Umat Katolik. Umat memanfaatkan saat-saat sebelum puasa untuk berpesta-ria makan-minum sepuasnya. Konon kebiasaan ini diambil dari tradisi lama (Pra-Kristiani) yang sudah ada sebelumnya. Dalam perkembangannya, pesta ini menjadi pesta Karnaval, yaitu perayaan publik dalam bentuk parade di jalanan, lengkap dengan tontonan ala sirkus.

Karnaval sendiri berasal dari dua kata Latin: Carnis yang berarti daging dan vale yang berarti selamat tinggal (di masa lalu, selama 40 hari masa puasa orang Katolik tidak makan daging). Di Perancis, pesta sejenis disebut Mardi Gras. Mardi Gras (berasal dari bahasa Perancis) berarti Selasa Lemak. Maksudnya, hari Selasa menjelang Rabu Abu, orang berpesta pora makan daging/lemak sepuas-puasnya. Selain itu, Mardi Gras juga merupakan kesempatan terakhir orang untuk menikah dan berpesta. Sebab sesudahnya, orang dilarang menikah sampai berakhirnya masa Puasa.

Di antara pesta sejenis, Karnaval di Rio de Janeiro, Brasil, dikenal sebagai Karnaval paling sensasional, paling spektakuler dan paling banyak dikunjungi turis. Awalnya pesta ini dilakukan di jalanan selama tiga hari menjelang Rabu Abu. Pada waktu itu kota-kota di Brasil dipadati orang-orang yang berpesta-ria dengan mengenakan topeng-topeng, saling melempar bubuk tepung, bahkan saling semprot cairan busuk. Pada tahun 1840 seorang istri pemilik hotel di Rio de Janeiro yang berasal dari Italia, mengubah kebiasaan pesta liar ini menjadi lebih berbudaya. Pada pesta tersebut ia mengundang para pemain musik, menyediakan guntingan kertas warna-warni pengganti bubuk tepung. Ia juga menyelenggarakan pesta tarian mewah dan mewajibkan orang-orang mengenakan topeng. Itulah awal mula dari Baile de Carnaval yang terkenal hingga kini.

Untuk menampung kegiatan yang semakin populer ini, pada tahun 1984 pemerintah Brasil membangun panggung pinggir jalan yang disebut Sambodromo. Tempat ini menampung sekitar 80 ribu penonton dan membuat Karnaval Rio makin terkenal. Harga tiket masuknya bisa sampai US$ 500 untuk satu tempat duduk yang agak strategis!

Karnaval di Rio benar-benar menjadi Pesta untuk semua orang. Bermacam-ragam orang berbaur bersama dalam keriuhan, kegembiraan dan kegilaan. Tidak sedikit para penari Samba, pria dan wanita, tampil dengan telanjang dada atau dengan pakaian super minim. Kesempatan ini juga digunakan para artis Brasil untuk tampil di muka publik. Umumnya mereka masuk salah satu kelompok Sekolah Samba.

Pentingnya Pertobatan

Permulaan masa Puasa atau Pra Paskah biasanya jatuh pada awal bulan Maret atau akhir Februari. Itu bertepatan dengan berakhirnya musim dingin yang melelahkan dan datangnya musim semi yang dinanti-nantikan. Karenanya tidak mengherankan bahwa Karnaval menjadi semacam ungkapan kegembiraan menyongsong musim kehidupan alias musim semi. Di masa lalu, hampir seluruh kota dan desa di Eropa merayakan kebiasaan ini. Masing-masing kota berlomba menunjukkan kehebatan serta kreasinya.

Di beberapa tempat, diadakan juga pesta Karnaval khusus untuk anak-anak. Sampai saat ini pesta Karnaval tetap diadakan menjelang Hari Rabu Abu (tahun ini jatuh pada hari Rabu ini, 22/02). Namun, Karnaval sendiri sekarang sudah menjadi bagian dari pesta budaya, bukan lagi pesta agama. Pada masa sekarang, Karnaval sering menjadi kesempatan untuk mengkritik, mengolok-olok para politisi, tokoh masyarakat bahkan tokoh agama. Tidak ketinggalan, Pesta Karnaval juga telah menjadi ajang promosi berbagai kepentingan, khususnya produk niaga.

Awal masa puasa Katolik dimulai pada hari Rabu Abu. Disebut Rabu Abu karena pada hari itu umat Katolik datang ke Gereja untuk menerima abu di kepalanya dari imam yang bertugas. Masa Puasa berlangsung 40 hari dan berakhir pada Perayaan Paskah atau Kebangkitan Tuhan Yesus.

Pengertian Masa Puasa dalam tradisi Katolik, amat berbeda dengan Puasa Umat Islam, misalnya. Pada Masa Puasa, umat Katolik tetap boleh makan dan minum hanya porsinya dikurangi. Selain itu, pada hari tertentu, khususnya Jumat, umat dilarang untuk makan daging. Diluar kewajiban puasa yang ditentukan, umat diminta untuk memilih sendiri jenis puasa dan pantang yang cocok dengan dirinya. Umpamanya, orang yang biasa merokok, pada masa puasa berhenti untuk tidak merokok.

Mengapa tradisi puasa Katolik begitu ringan dan sederhana? Barangkali karena tekanan dan latar belakangnya berbeda. Dalam ajaran Katolik yang pertama-tama ditekankan adalah aspek pertobatan, bukan mati raganya. Karenanya, Masa Puasa diawali dengan Rabu Abu, pengurapan dengan abu. Tradisi ini berasal dari kebiasaan kuno bangsa Yahudi. Dalam Kitab Perjanjian Lama, khususnya Kitab Nabi Yesaya dan Yeremia, dikisahkan tentang ritual penyesalan atas dosa: orang berpakaian kain kasar dan duduk di atas abu serta menaburi diri dengan abu.

Tradisi abu orang Yahudi ini mirip dengan tradisi lumpur suku Asmat di pedalaman Papua. Orang Asmat, bila sedang berkabung, akan membanting diri kedalam lumpur sambil berguling-guling serta menangis meraung-raung. Dalam bahasa Jawa ada istilah Gulung Koming, berguling-guling di atas tanah sebagai ekspresi kesedihan. Nampaknya ada benang merah di antara ketiganya!

Abu, lumpur dan tanah adalah simbol kefanaan, sesuatu yang tak berharga, tak berarti. Manusia memang tak ada artinya dibanding alam semesta ini. Ketika memberi pengurapan abu, imam berkata: Manusia berasal dari abu dan kembali menjadi abu!. Kata-kata yang dikutip dari Kitab Kejadian ini dimaksud untuk mengingatkan kita akan kefanaan kita manusia.

Pertobatan Kolektif

Puasa dan Pertobatan adalah dua hal yang tak terpisahkan dalam tradisi Puasa Katolik. Kedua hal ini masih dilengkapi dengan aksi nyata umat untuk sesama. Maksudnya, sebagai perwujudan tobat, umat diharap menyisihkan sebagian miliknya untuk kepentingan sesamanya. Uang atau barang-barang yang dikumpulkan selama masa Puasa, pada gilirannya akan dibagikan lagi kepada mereka yang membutuhkan.

Pada Masa Puasa, umat Katolik diingatkan untuk bertobat. Sebagai suatu kelompok, umat diajak untuk bertobat secara bersama-sama. Agar pertobatan kolektif dapat lebih terarah, pimpinan Gereja menentukan suatu tema setiap tahunnya. Tahun 2012 ini, tema yang dipilih adalah DIUTUS UNTUK BERBAGI. Lewat tema ini, kita diajak untuk menyadari bahwa segala yang kita miliki hendaknya tidak melulu untuk kepentingan pribadi. Ada orang-orang di sekitar kita yang mungkin jauh lebih membutuhkan, lebih susah hidupnya dari kita. Karenanya, kita disadarkan untuk rela berbagi dengan mereka yang kekurangan.

Semarak Karnaval yang begitu meriah di Brasil atau di tempat lain, menjadi kehilangan artinya ketika dipisahkan dari makna spiritual Rabu Abu. Selamat memulai Masa Puasa bagi umat Katolik sambil menyadari bahwa kita Diutus Untuk Berbagi.

(Heri Kartono, dimuat di Koran Jakarta, 22 Februari 2012. Foto: Jepretan Jo Hanafie, upacara Rabu Abu di St.Helena)

Saturday, February 18, 2012

Teresia Sri Listyati


LUKISAN FAVORIT

Ketika Gereja St.Helena Curug mulai dirancang, terlintas dalam pikiran Teresia Sri Listyati untuk mempersembahkan lukisan Jalan Salib. Wanda Basuki, salah satu arsitek Gereja, menyambut baik keinginan Teresia. Maka jadilah karya lukis Jalan Salib yang menjadi kebanggaan umat paroki.

Teresia yang hobi melukis sejak masa sekolah memang ingin mempersembahkan sesuatu yang berharga untuk Gerejanya. Keinginannya ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Markus Parmadi, suami tercinta yang saat itu menjabat sebagai Presdir Lippobank. Bapak Karman, salah satu guru lukis Teresia, juga memberikan dukungan penuh. Pak Karman jugalah yang banyak memberi saran, arahan dan kritikan dalam proses penyelesaian lukisan. Karena pembangunan Gereja berlangsung cukup lama, Trees, sapaan akrab Teresia, memiliki waktu cukup untuk menyelesaikan lukisannya dengan tenang. Lukisan Jalan Salib yang berukuran 80 x 80 cm tsb ia garap dengan menggunakan Cat Minyak.

Sungguh tak terlukiskan perasaan saya boleh membuat gambar Jalan Salib. Ada rasa bahagia, senang dan bangga mendapat kesempatan ini namun juga perasaan takut dan was-was. Semua perasaan itu bercampur aduk. Yang pasti, saya lakukan semuanya dengan sepenuh hati dan bersemangat!”, ujar anak ketiga dari tujuh bersaudara ini.

Bukan Sekedar Kegiatan Seni

Entah berapa lukisan yang pernah dibuat Trees. Wanita Jawa kelahiran Ambon (14/05/54) ini mengaku tak pernah menghitung lukisan karyanya. “Kurang-lebih sekitar seratus lukisan!”, jelasnya. Kendati telah banyak melukis, Trees mengaku bahwa membuat lukisan Jalan Salib itu beda. “Pada waktu akan mulai melukis Jalan Salib ini, saya berdoa dan mohon kepada Tuhan agar apa yang saya lukis akan baik dan berkenan kepada Tuhan. Saya juga mohon agar lukisan Jalan Salib ini dapat makin membawa kekhusukan bagi umat”, papar ibu tiga anak ini. Baginya, melukis Jalan Salib bukanlah sekedar kegiatan seni semata melainkan ekspresi imannya.

Teresia bersyukur bahwa ia dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang sungguh beriman Katolik. Ibunya, Robertine Sudarinah (alm) dahulu sekolah di Mendut, sedangkan ayahnya, Mayjen Drs. Johanes Ratna Atmadja (alm) sekolah di Van lith Muntilan. Trees yang melewatkan masa remajanya di Jakarta, dididik di lingkungan Sekolah Katolik sejak SD hingga SMA, yaitu di Sekolah Tarakanita Kebayoran. Latar belakang keluarga dan sekolah itu pada gilirannya menumbuhkan kecintaan serta iman Katolik yang kuat pada diri Trees.

Kecintaan Trees pada Gereja ia tunjukan dengan pelbagai cara. Ia pernah menjadi ketua lingkungan selama dua periode, kerap membantu merangkai bunga di Gereja dan bergabung dengan paduan suara ibu-ibu di lingkungannya. Lukisan Jalan Salib yang ia garap tentu saja merupakan salah satu bukti nyata kecintaannya pada Gereja.

Trees memang gemar melukis. Kegemarannya itu dimulai saat Trees masih sekolah. “Saat di SMP saya suka menggambar dengan cat air. Sejak itu timbul niat saya untuk memdalaminya”, kenang wanita yang ramah ini. Selain dibimbing bapak Karman, Trees pernah juga berguru pada Ibu Ruliati. Lewat ibu Ruliati, Trees mendapat banyak pelajaran teknik-teknik melukis, sketsa dan melukis dengan bermacam media. Ia juga mulai nyaman melukis dengan cat minyak. Umumnya Trees membuat lukisan di rumahnya, sendirian. Kendati demikian, ia juga amat menikmati melukis bareng teman-teman. “Kami kerap melukis bersama di rumah Ibu Yvonne di Permata Hijau”, tutur Trees dengan nada riang.

Lukisan Trees amat beragam: ada lukisan Bunga, Pemandangan di Bali, Penjual Ikan Bakar, Mbok Jamu, Hiruk-pikuk Pasar dan banyak lagi. “Saya menyukai hampir semua lukisan saya. Meski demikian, Jalan Salib merupakan lukisan favorit saya karena paling bersinggungan dengan keimanan saya”, ujar Sarjana Ekonomi lulusan Trisakti ini.

Tidak Neko-neko

Ayah Teresia adalah seorang polisi dengan pangkat tinggi. Meski ayah mempunyai kedudukan terhormat di masyarakat, namun Trees bersaudara dididik hidup sederhana, dan tidak neko-neko. Saat kuliah di Trisakti, misalnya, Trees tidak ingin menggantungkan sepenuhnya pada pemberian orang tuanya. Karena itu, disela-sela kesibukan kuliah, ia menyempatkan diri mengikuti kursus menjahit. Dengan ketrampilannya itu, Trees tidak saja mampu membuat pakaiannya sendiri, tapi juga pakaian teman-teman yang meminta jasanya. “Lumayan, saya jadi punya uang saku sendiri!”, ujar Trees bangga.

Sikap tidak ingin menggantungkan diri pada orang lain, tertanam kuat pada diri Teresia. Belum selesai kuliah, baru sarjana muda, Trees bekerja di perusahaan minyak PT. Stanvac Indonesia. “Usaha” menjahit ditinggalkannya karena ingin konsentrasi pada kerja dan kuliah. Ternyata kuliah sambil bekerja itu tidak mudah. Kegairahan di tempat kerja menyita hampir seluruh waktunya, padahal saat itu tinggal satu langkah lagi, menyusun skripsi. Akhirnya Trees harus melupakan kuliah saat menikah dengan Markus Parmadi (20/04/80). Setelah menikah, Trees tetap melanjutkan kerja di Stanvac sementara suaminya, saat itu di Citibank.

Perkawinannya dengan Markus Parmadi, membuahkan tiga orang anak: Priska Iswari, Thomas Radityo dan Andre Laksono. Kendati sibuk kerja, mengurus suami dan anak-anak, sesungguhnya Trees tak pernah benar-benar melupakan keinginannya untuk menyelesaikan kuliah. Diam-diam ia masih manaruh harapan, suatu saat kelak, ia dapat merampungkan kuliahnya. Sepertinya Tuhan mendengar doanya. Pada akhir tahun 1991, terbetik berita bahwa Trisakti membuka kesempatan bagi mahasiswa lama untuk menyelesaikan kuliahnya. Kesempatan emas ini dimanfaatkan Trees sebaik-baiknya. Dengan dukungan seluruh keluarganya, Trees berhasil menyelesaikan kuliah dan mendapat gelar Sarjana Ekonomi (SE). “Wah….betapa leganya hati ini…! Akhirnya.., setelah lebih 20 tahun, saya bisa juga menyelesaikan kuliah…..!”, ujar Trees dengan haru.

Saat wisuda (1993), Priska Iswari, anak Trees yang saat itu masih duduk di bangku SD berkomentar: “Ibu kok capek-capek sekolah terus untuk apa? Ibu kan nggak kerja lagi?”. Ketika anaknya mulai masuk sekolah, Trees memang memutuskan berhenti kerja (1986). Mendengar komentar polos anaknya, Trees tertawa saja. Namun kelak Trees menjelaskan pada anak-anaknya betapa pentingnya sekolah. Menurutnya, sekolah itu bukan sekedar untuk mencari ijasah atau kerja melainkan untuk melatih cara berfikir dan lebih-lebih menjadi bekal hidup yang berguna. Keyakinannya ini ia tanamkan betul pada ketiga anaknya.

Syukur Tiada Akhir

Teresia mensyukuri atas banyak karunia yang ia peroleh sepanjang hidupnya: orang tua yang mendidik dalam iman Katolik, suami yang begitu baik penuh kasih, anak-anak yang sehat serta teman-teman yang memberi warna kehidupan. Kebahagiaan Trees serasa menjadi lengkap saat cucu pertamanya lahir di Sydney, Australia, Januari 2011.

Teresia ingin membalas kebaikan Tuhan dengan segala talenta yang ia miliki, sebagaimana ia tunjukan selama ini. Baginya, mengabdi Tuhan dapat dilakukan dengan pelbagai cara, sesuai keadaan orang masing-masing (dimuat di Majalah HIDUP, edisi 18 Maret 2012).

Heri Kartono, OSC

St.Helena, Lippo Karawaci,

17 Februari 2012.

Tuesday, November 15, 2011

Ny.M.A.S. Teko


TETAP PRODUKTIF DI USIA SENJA

Usianya sudah 80 tahun, namun wanita sepuh ini masih aktif diminta berceramah keliling Indonesia. Penerima pelbagai penghargaan ini juga masih bermain tenis hingga kini. Ibu Teko yang gemar memakai topi, tetap produktif di usia senja.

Pada tanggal 16 Oktober 2011, Anna Maria Sutirah atau lebih populer disebut Ibu Teko diundang berceramah di Polda Kalimantan Barat, Pontianak. Di tempat ini, wanita bersuara lantang ini memberikan dua kali ceramah, kepada para istri polisi dan kepada para Polwan (Polisi Wanita).

Ibu Teko dikenal sebagai seorang MC (Master of Ceremony) sekaligus pembicara yang handal. Padahal, saat ia masih kecil, ia sulit untuk berbicara alias gagap. Sebagai MC, wanita Jawa kelahiran Purworejo (9 Oktober 1931) ini sempat dipercaya selama 14 tahun memperkenalkan Sundanese Cultural Performances di hotel Panghegar dan Hotel Savoy Homann, dua hotel bergengsi di Bandung. Pada acara tsb, bu Teko bertindak sebagai Host dalam bahasa Inggris dan Belanda. Pengunjung acara ini memang sebagian besar turis. Kemampuan berbahasa Belanda diperoleh bu Teko saat ia duduk di bangku HIS sementara bahasa Inggris ia pelajari secara otodidak.

Kenangan dari Presiden Megawati.

Tahun 2004 Presiden Megawati berkunjung ke Bandung. Salah satu agenda kunjungan tsb adalah pertemuan Presiden dengan seluruh Organisasi Wanita. Untuk acara yang penting ini, ibu Teko mendapat kehormatan menjadi Pembawa Acara. Nampaknya Presiden Megawati terkesan atas penampilan bu Teko. Karenanya, seusai acara, Megawati menghadiahkan jam tangan bergambar dirinya untuk ibu Teko sebagai kenangan.

Dalam banyak kesempatan, bu Teko tampil dengan mengenakan salib besar di dada. Tentang hal ini, pastor Harimanto OSC pernah memberi komentar bernada guyon: “Salib bu Teko lebih besar dari salib Uskup!”. Bu Teko memang tidak pernah menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang Katolik. Meski demikian, karena pembawaannya yang santun dan hormat pada setiap orang, ia diterima di banyak kalangan. Sahabat-sahabatnya tidak sedikit dari kalangan muslim. Beberapa kali bu Teko diundang untuk berbicara di kalangan muslim. Yayasan Uswatun Hasanah bahkan pernah mengundangnya untuk berceramah tentang Public Speaking sebagai sarana da’wah! Bu Teko menyampaikan topik tsb tanpa canggung atau risi sedikitpun.

Tentang pengalamannya berkecimpung di kalangan umat lain, bu Teko mengatakan: “Bila kita membawa kasih dan persahabatan, saya rasa semua orang walaupun berbeda, akan menerima diri kita dengan baik”, ujar ibu dari 7 anak ini.

Surat Ijin Pendirian Gereja

Awal tahun 1980-an, bu Teko bersama beberapa anggota Legio Maria, aktif mengupayakan surat ijin pembangunan gedung Gereja di Buah Batu, Bandung. Pastor paroki memang memberi kepercayaan penuh pada bu Teko. Sebaliknya, banyak aktivis gereja, khususnya para bapak, memandang sinis usaha bu Teko. Mereka tidak percaya bahwa bu Teko mampu melakukan tugas itu. Selama tiga tahun, bu Teko mengupayakan segala sesuatunya dengan baik. Tanpa kenal lelah ia keluar masuk kantor Kota Madya Bandung untuk keperluan tersebut.

Seringnya bu Teko keluar masuk kantor Kodya Bandung, rupanya diperhatikan seorang pegawai di sana. Suatu hari, pegawai yang beragama Protestan ini menghampiri bu Teko. “Bu, sebenarnya surat ijin sudah keluar kok. Kalau ibu mau, saya bisa memfoto-copynya!”, bisik orang tsb. Bu Teko amat terkejut namun tentu saja gembira sekali. Saat pegawai itu sedang membuat copy, bu Teko yang didampingi seorang ibu lain, menyiapkan “uang terima kasih” dibungkus kertas tissue. Sangkanya, pegawai itu tentu mengharapkan imbalan jasa. Dugaan bu Teko meleset. Sang petugas menolak uang pemberian bu Teko. “Saya kasihan melihat ibu tiap hari bolak-balik ke kantor ini”, ujar bapak yang tidak bersedia menyebut identitasnya itu.

Tidak jelas mengapa Surat Ijin Membangun Gereja asli yang telah ditanda-tangani itu tidak kunjung diberikan. Surat tsb ada di tangan Kepala bagian Sospol, seorang tentara berpangkat Mayor. Berbekal fotocopy yang diperolehnya secara diam-diam itu, bu Teko menghadap bapak Raja Inal Siregar yang saat itu menjabat sebagai Wakil Pangdam Siliwangi. Dengan bekal yang sama, bu Teko juga menghadap bapak Sudarsono, Wakil Kapolda Jawa Barat saat itu. Atas bantuan mereka, akhirnya Surat Ijin Membangun Gereja Santa Maria Buah Batu keluar juga. Atas usahanya itu, bu Teko mendapat penghargaan khusus dari uskup Bandung, Mgr. P.M. Arnzt OSC. Perjuangan bu Teko dalam mengupayakan surat sakti tsb, diungkap kembali oleh Pastor Paulus Tri Prasetidjo Pr, (pastor paroki Buah Batu) pada perayaan HUT bu Teko yang ke 80 di aula paroki (09/10).

Berani Menyampaikan Kebenaran

Bu Teko yang aktif dalam pelbagai kegiatan, dikenal dan mengenal hampir semua pastor di Keuskupan Bandung. Maklum, ia juga pernah mengajar para frater di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Bu Teko dikenal sebagai figur yang santun, ramah dan hormat pada pimpinan Gereja. Kendati demikian, bu Teko juga dapat menyampaikan kritikan, bahkan kepada Uskup sekalipun!

Sekitar tahun 1985, beberapa tokoh awam merasa resah atas sejumlah komentar yang disampaikan Uskup baru Bandung secara publik. Namun, tidak ada satu orangpun yang berani menyampaikan pada Uskup bahwa komentar-komentarnya meresahkan. Akhirnya bu Teko diminta untuk menyampaikan keresahan itu pada Uskup. Bu Teko menyanggupinya asal didampingi dua orang sebagai saksi. Pada hari yang ditentukan, bu Teko diterima Uskup. Dengan sopan namun lugas, bu Teko menyampaikan keluhan umat atas ucapan-ucapan Uskup yang mereka nilai kurang pas. Bapak Uskup ternyata mau menerima bahkan menghargai keterbukaan bu Teko.

Kecintaan bu Teko pada Gereja membuatnya bersedia melakukan apapun. Kendati ia sudah tertarik pada agama Katolik sejak kecil, bu Teko sebenarnya baru dibaptis pada tahun 1960 ketika ia berusia 29 tahun. Kebahagiannya menjadi lengkap ketika 8 tahun kemudian, suaminya menyusul jejaknya dibaptis juga. “Saya tidak pernah menyuruh atau mendorong suami saya untuk dibaptis. Itu terjadi atas kemauan dan kesadaran suami saya!”, papar ibu dari 12 cucu dan 2 buyut ini.

Pada tanggal 9 Oktober yang lalu, usia bu Teko genap 80 tahun. Pada kesempatan itu, diluncurkan sebuah buku karangannya berjudul Wulan, Jangan Menyerah. Buku yang dicetak penerbit Kanisius ini bertutur tentang orang-orang usia lanjut. “Setiap manusia pasti menua. Namun jangan menyerah”, begitu tertulis dalam Prakata bukunya.

St.Helena, Lippo Karawaci, 18 Oktober 2011 (Dimuat di Majalah HIDUP edisi 13 November 2011)

Tuesday, July 19, 2011

Susanna Ari Herdi Wibowo


I LOVE YOU, BU GURU!

Ban mobil sebelah kanan belakang pecah. Semua tercekam dan panik. Maklumlah, saat itu mereka sedang berada di tengah hutan belantara, hujan dan pada malam yang gelap gulita. Beberapa jam sebelumnya salah satu ban sudah pecah juga akibat jalan yang amat buruk. Tak ada lagi ban serep yang tersedia dan perjalanan masih memakan waktu 2 jam lagi.

“Perjalanan kali ini sungguh penuh tantangan. Sejak subuh kami sudah terbang ke Pontianak. Sampai di sana tidak ada satu pun bagasi kami. Menurut petugas, bagasi masih tertinggal di Jakarta. Terpaksa kami harus menanti penerbangan berikutnya, menunggu koper. Selanjutnya, selama 9 jam kami terguncang-guncang di dalam mobil karena kondisi jalan yang berlubang dan berbatu. Kepala kami saling beradu atau beradu dengan kaca jendela. Kami semua mual dan lelah!”, papar Susanna Ari Herdi Wibowo tentang perjalanannya ke Kalimantan. Bersama tim Pelita (Pelatihan Pembina Iman Anak), Ari memenuhi undangan Keuskupan Sintang. Selama satu minggu (3-10 Juli 2011) mereka berkeliling ke tiga lokasi yang berjauhan dengan kondisi jalan yang sangat rusak itu. Tujuannya satu: melatih para Guru Bina Iman di paroki-paroki terpencil.

Ari bergabung dengan Tim Pelita pimpinan Pauline Rosita, sejak tahun 2000. Sejak itu pula ia berkeliling Indonesia memenuhi undangan pelatihan. “Saya tidak ingat lagi berapa daerah di Indonesia yang pernah kami datangi. Yang jelas, dari desa-desa di Sumatera Utara hingga Merauke di Papua, sudah kami kunjungi”, ujar wanita kelahiran Semarang ini.

Sekolah Montessori
Ari Wibowo adalah pendiri Sekolah Montessori di kawasan Lippo Karawaci. Ia bersama sahabatnya, Janti Susyana, mendirikan Sekolah Montessori pada tahun 1999 dengan nama Edu Play. Beberapa tahun kemudian berganti nama menjadi Sekolah Montessori Kiara Karitas, hingga kini.

Sekolah Montessori perdana didirikan oleh Dr. Maria Montessori. Dokter wanita pertama Italia ini lahir pada tahun 1870 di Ancona, Italia. Seluruh hidup Dr. Montessori diabdikan untuk pendidikan. Dr. Maria Montessori mengembangkan suatu metode pendidikan yang berpusat pada anak dan merupakan pendidikan seumur hidup. Metode ini membantu anak berkembang sesuai dengan kebutuhan mereka dan memaksimalkan potensi masing-masing individu. Tidak heran bahwa di sekolah Montessori, anak-anak terlihat mandiri. Mereka mendapat kebebasan untuk belajar sesuai dengan yang diminatinya. Para pendidik hanya mendampingi, mengarahkan serta memfasilitasi kebutuhan anak. Meski terkesan bebas, anak-anak tetap dididik bertanggung jawab, baik bagi diri mereka sendiri, lingkungan sekitar, maupun orang lain.

Ari, penulis buku Tangan Kecilku Bisa, mengaku amat tertarik dengan metode pendidikan ala Montessori sejak awal. Menurutnya, filosofi dasar Sekolah Montessori adalah pendidikan untuk perdamaian. Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris ini kemudian mempelajari dan lulus dari Montessori Center International, London (2003). Istri dari Trijono Wibowo ini kemudian masih memperdalam ilmunya melalui Seacoast Center for Montessori Education, Amerika Serikat (2009). Awalnya Sekolah Montessori yang dirintisnya hanya untuk anak-anak Pra-Sekolah. Namun atas permintaan beberapa orang tua murid, Ari membuka juga tingkat Sekolah Dasar. Bahasa pengantar di sekolahnya adalah Bahasa Inggris. Sebagian dari murid-murid adalah Warga Negara Asing, antara lain Argentina, Korea Selatan, Brazil, Russia dan Iceland.

Sebelum membuka sekolah sendiri, Ari pernah mengajar di SMA Sedes Sapientiae Semarang, TK Dian Asih Semarang, TK Sekolah Dian Harapan dan SD Sekolah Pelita Harapan, Lippo-Karawaci. Kini sebagai pengelola sekolah Kiara Karitas, Ari kerap turun tangan mengajar di kelas-kelas. Baginya, berada di antara anak-anak membawa kebahagiaan tersendiri.

Anak-anak Tanah Gocap
Kecintaannya pada anak-anak berawal dari kerinduannya untuk mempunyai adik. Ari memang bungsu dari 4 bersaudara. Semula ia bercita-cita ingin menjadi seorang dokter anak dengan harapan akan banyak bertemu anak-anak. Namun karena tidak lolos dalam tes masuk fakultas kedokteran, Ari beralih ke bidang pendidikan.

Ari tinggal bersama suami dan anaknya, Audrey Trisha, di kawasan Lippo Karawaci, paroki Santa Helena. Jauh sebelum paroki ini berdiri, Ari telah berinisiatif mengadakan Sekolah Minggu bagi anak-anak Katholik. Sebenarnya hal tersebut ia lakukan memenuhi permintaan banyak orang tua muridnya di Sekolah Dian Harapan saat itu (1996). Tempat mengajar berpindah-pindah. Tempat tinggal Ari sempat juga digunakan untuk mengajar anak-anak Sekolah Minggu (1998 – 2003).

Perhatian serta kecintaan Ari pada anak-anak patut diacungi jempol. Sebagai seorang pendidik sekaligus pengelola sekolah, Ari masih meluangkan waktu mengajar anak-anak gelandangan juga. Sejak September 2009 setiap Rabu dan Jumat sore, bersama dua rekannya, Ari pergi ke Tanah Gocap untuk mendidik anak-anak di sana. Rekan-rekannya adalah Ully yang berasal dari Aceh dan beragama Islam serta Airin yang memiliki darah Batak, beragama Protestan. Pada awalnya, di kalangan orang tua sempat muncul anggapan Kristenisasi. Namun anggapan itu dengan cepat sirna karena mereka memang tak pernah menyinggung masalah agama dalam mengajar.

Tanah Gocap adalah kawasan kumuh di tepi sungai Cisadane daerah Tangerang. Untuk mencapai tempat ini, harus melalui jalanan berdebu di musim kering dan becek di waktu hujan. Di antara kuburan Cina dan Sungai Cisadane, tinggallah para pemulung sampah di rumah-rumah liar. Anak-anak mereka ikut membantu orang tua mencari nafkah dengan menjadi pemulung, pengemis atau pengamen di jalan.

Proses belajar-mengajar dilakukan di tempat terbuka di tepi sungai dengan menggunakan alas tikar. Bila turun hujan, pengajaran berpindah ke salah satu tempat tinggal yang ada di situ. Usia anak-anak Tanah Gocap ini berkisar 4-14 tahun; mereka dididik untuk membaca, menulis dan berhitung. Setiap kali pelajaran berlangsung, hadir antara 20 hingga 25 anak. Mereka juga belajar bersikap sopan, menjaga kebersihan dan budi pekerti lewat cerita-cerita yang dibacakan. Tak lupa, Ari juga mengajarkan gerak dan lagu kepada mereka. Anak-anak di sana mengikuti tiap pelajaran dengan antusias. Antusiasme anak-anak itulah yang mengobarkan semangat Ari untuk datang dan mendidik mereka. Setiap kali Ari dan rombongan datang, anak-anak berlarian menyongsong dan berebut membantu membawakan barang bawaan Ari dkk. Tidak jarang Ari membawa hadiah-hadiah kecil atau makanan. Meski demikian, Ari mengaku amat berhati-hati dalam memberikan sesuatu. “Saya tidak ingin bahwa anak-anak belajar hanya karena mengharapkan hadiah!”, tegas wanita berparas cantik ini.
Sebelum memulai pelajaran, Ari mengajak anak-anak untuk berdoa. Demikian pula sesudah selesai pelajaran. Yang menakjubkan, hampir semua pelajaran, termasuk doa dan lagu, dilakukan dalam Bahasa Inggris.
I Love You, Bu Guru!
Salah satu ketrampilan yang digemari Ari adalah bahasa isyarat. Hal ini berawal dari peristiwa yang pernah terjadi di kelasnya. Salah seorang muridnya kebetulan kurang dalam hal pendengaran sehingga sulit untuk berkomunikasi. Anak ini gemar menjiplak dan menggunting kertas berbentuk tangannya. Ari sering mendapat “hadiah kecil” berupa potongan kertas berbentuk tangan di atas meja-nya. Anehnya, bentuknya tidak utuh, hanya menunjukkan 3 jari saja, yaitu jempol, telunjuk dan kelingking. Kendati tidak mengerti maksudnya, Ari menerima dan menghargai pemberiannya dengan tulus.

Pada suatu kesempatan penerimaan rapor, Ari menceriterakan kejadian itu kepada orang tua sang anak. Mereka kemudian menjelaskan artinya. Ternyata potongan kertas 3 jari itu mengandung arti: I LOVE YOU (I: kelingking; L: telunjuk dan jempol; Y: jempol dan kelingking). Ari terharu sekali mendengar penjelasan itu. Sejak menerima pesan cinta itulah Ari terdorong mempelajari bahasa isyarat. Sebagai pelengkap, Ari juga menerjemahkan lagu rohani anak-anak ke dalam bahasa isyarat ini. Kerinduannya adalah anak-anak dapat menyanyi dan memuji Tuhan sambil menggerakkan tangannya, dengan demikian mereka pun lebih memaknai setiap kata dari lagu tersebut.

Susanna Ari Herdi Wibowo bersyukur bahwa suami, anak, orang tua serta kakak-kakaknya mendukung penuh apa yang ia lakukan. Dukungan itu ia rasakan juga dari para pastor serta sahabat-sahabatnya. “Tanpa dukungan mereka dan tanpa campur tangan Tuhan, tak mungkin saya mampu melakukan itu semua!”, ujar Ari dengan sungguh-sungguh. (Foto Atas: Ari bersama keluarga. Bawah: Ari saat mengajar di Tanah Gocap).
Heri Kartono, OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 28 Agustus 2011)