Friday, June 1, 2012

Devie Kusumaputri


TERSENTUH NENEK PENJUAL KUE







Saat masih kecil, setiap kali diajak ke pasar dan melihat nenek-nenek berjualan kue di emperan, ia pasti minta dibelikan kue itu. Bukan karena pengen makan kue itu tapi kasihan melihat nenek tua penjualnya.



Tidak mudah membujuk gadis yang satu ini untuk bersedia ditulis. "Mengapa saya? Saya tidak pantas dan tidak layak untuk ditulis!", ujar Devie Kusumaputri yang akrab disapa Noni. Jawaban yang spontan ini menggambarkan kerendahan hatinya. Padahal, banyak orang melihat sosok Noni sebagai pribadi yang mengesankan. "Bagi saya Noni adalah model dari seorang muda, sukses, jenius, rendah hati dan tangkas", tutur Pastor Dany Sanusi OSC ketika diminta kesannya. Kesan senada juga disampaikan Ibu Rosiany dan Prisca Nuriati (penanggung jawab Komunitas Sant’Egidio Indonesia) yang mengenal Noni dengan baik.


Noni yang mengenyam pendidikan di Amerika sejak usia 15 tahun ini, sehari-harinya bekerja sebagai Direktur PT. Imeco Inter Sarana (Corporate Planning and Development Director). Ia bertugas mengkoordinir kegiatan usaha Imeco di berbagai bidang (energi, perminyakan, properti). PT. Imeco yang dirintis ayah Noni, Ganda Kusuma, tahun ini memasuki usia ke-40. “Sebagai salah satu generasi penerus, bersama dengan direksi yang lain, saya ditantang untuk dapat terus mengembangkan Imeco untuk kesejahteraan banyak orang”, papar lulusan S2 dari Rice University, Houston, Texas ini.

1000 Sahabat Miskin
Kendati mempunyai kedudukan tinggi, Noni tetap memiliki kepedulian sosial yang besar. Akhir tahun 2011, misalnya, bersama Komunitas Sant’Egidio, Noni mengadakan acara Makan Siang Natal bersama sahabat miskin. Tidak tanggung-tanggung, ada 1000 gelandangan, pemulung, anak jalanan, anak panti asuhan dan anak keluarga kurang mampu yang mereka undang. Sebanyak 750 volunteer dari pelbagai komunitas kategorial dan BPK PKK KAJ turut mensukseskan acara ini. Noni mengaku tidak mudah menyelenggarakan kegiatan akbar seperti ini, mulai dari ijin pemakaian lokasi, penyiapan 1000 bingkisan, menjemput para undangan, menggelar 300 meja dengan 1260 kursi! Dalam kepanitiaan, Noni bersama Prisca Nuriati dan Teguh Budiono, memang  bertugas mengkoordinir seluruh seksi.. Untunglah semuanya dapat berjalan dengan baik. Mgr. Ign. Suharyo, Uskup Agung Jakarta hadir pada acara ini hingga selesai.

Makan Siang Natal bersama sahabat miskin merupakan salah satu tradisi Komunitas Sant’Egidio di seluruh dunia. Di Jakarta, acara ini sudah dilakukan sejak tahun 1996. Noni sendiri mengenal Komunitas Sant’Egidio sejak tahun 1999 saat ia kuliah di Boston College, Boston, Massachusetts. Hingga kini ia masih terus terlibat aktif dalam komunitas ini.

Kedekatan Noni dengan anak-anak kurang mampu, tidak hanya terlihat pada acara makan siang bersama yang sensasional itu. Disela-sela kesibukannya, Noni bergabung dengan Sekolah Damai di daerah Sunter setiap Minggu. Dalam kegiatan ini Noni dan kawan-kawan Sant’Egidio tidak hanya memberikan bimbingan belajar atau permainan namun lebih-lebih uluran persahabatan. Karena itu anak-anak miskin mereka sebut dengan istilah sahabat. Sekedar contoh, ketika Pendi, salah seorang pemulung mati tertabrak metromini (30/5), dalam waktu singkat anggota Sant’Egidio berdatangan. Secara spontan mereka ikut mengurus segala sesuatunya hingga ke pemakaman.

Dua minggu sekali pada hari Jum’at, Komunitas Sant’Egidio mengadakan Pelayanan Jalanan. Kegiatan ini dimulai dengan memasak bersama, membungkus makanan dan kemudian membagikannya kepada sahabat-sahabat miskin yang kerap mereka temui di jalan dan kolong-kolong jembatan. Tentang kegiatannya ini, ia sempat berkomentar: "Seringkali saya merasa justru pada saat pelayanan bersama teman-teman, Tuhan memberikan kepada saya banyak hal. Bukan saya yang memberi kepada sahabat yang berkekurangan, tetapi justru saya yang mendapatkan banyak hal dari mereka!", ujar Noni yang juga aktif di komunitas Aksi Relawan Kasih dan Entrepreneurs’ Organization ini.

Kakak Asuh dan Karina
Sejak beberapa tahun yang lalu, Noni menjadi kakak asuh. Aktivitas Noni yang satu ini dimulai dari keputusan keluarga untuk mendukung pendidikan adik-adik di Panti Asuhan Maria Goretti, Palasari, Bali Barat. Saat ini Noni memiliki 65 adik asuh, baik di Bali maupun di Jakarta, dari kelas TK sampai kuliah. Secara teratur Noni menjaga hubungan rutin dengan adik-adik asuhnya melalui surat, email, kunjungan dan pertemuan di saat libur. Selain mendukung dalam kebutuhan mereka dalam pendidikan, Noni juga selalu mencoba untuk men-sharingkan motivasi dan nilai-nilai kepribadian dengan harapan adik-adik asuh tersebut dapat menjadi orang yang berguna di masyarakat. Menjadi kakak asuh, baginya bukanlah sekedar basa-basi belaka. Ia ingin sungguh menawarkan persahabatan yang tulus.

Keterlibatan Noni yang memiliki kepedulian besar pada sesamanya yang kurang beruntung, nampaknya dilirik juga oleh Yayasan Karina. Sejak Januari 2012, Noni diangkat sebagai anggota Badan Pengurus Yayasan Karina (Caritas Indonesia atau yang dikenal juga sebagai Karina KWI). Karina adalah yayasan kemanusiaan milik KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), yang dibentuk tahun 2006. Karina merupakan pusat koordinasi gereja Katolik dalam merespon segala bentuk bencana dan pembangunan kapasitas (capacity building) bagi 37 keuskupan di Indonesia. Karina didukung oleh Caritas International, yang adalah konfederasi dari 165 badan kemanusiaan Gereja Katolik di dunia.

Di Yayasan Karina, Noni yang cenderung perfeksionis ini, merupakan anggota termuda dan ingin menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Dalam pertemuan Forum Direktur Karitas Keuskupan se-Indonesia di Puncak belum lama ini (akhir Mei 2012) Noni bersama dengan Pastor Padmaseputra SJ, Ibu Murni dan Ibu Rina (para anggota dewan pengurus) memberikan presentasi singkat tentang fundraising. Tentang presentasinya itu, Pastor Dany Sanusi berkomentar: “Karina memerlukan orang seperti Noni yang ahli dan memiliki kemampuan pada soal finansial sesuai dengan pendidikannya!”

Maria Florentina Devie Kusumaputri, waktu kecil sempat bercita-cita menjadi dokter supaya dapat menolong orang yang sakit. Cita-citanya tak pernah terwujud. Namun, keinginannya untuk membantu orang yang sakit dan miskin masih terus tertanam kuat di hatinya. Dari kedua orang tuanya pula Noni belajar untuk memberi dan berbagi sejak ia masih kecil. Dalam perjalanan hidupnya, ia merasa mendapat berkat berlimpah lewat kedua orang tuanya yang begitu baik dan murah hati. Karenanya, ia ingin membagikannya kembali kepada orang-orang lain yang kurang beruntung. Saat akhirnya Noni bersedia untuk ditulis, ia masih berpesan: “Tolong romo, tulisannya simple saja yaa, saya tidak mau di-expose dengan hebat karena saya bukan orang hebat, cuma noni kecil saja…!” (dimuat di majalah HIDUP edisi 17 Juni 2012)
Heri Kartono, OSC




Monday, May 28, 2012

Ludovicus Doewe 2






SAMPAI LUPA PERNAH MENULIS

Hari Sabtu (26/5/2012) ada yang istimewa di Gedung Fakultas Filsafat Unpar, Bandung. Sejak pagi hari ruangan aula ditata secara berbeda. Ada panggung dengan karpet merah, ada bunga-bunga cantik, juga ada banner besar menyolok dengan tulisan: Launching Buku “Ludovicus Doewe, Pelopor Sunda Katolik”. Ya, sore harinya, memang diadakan acara launching. Sekitar 135 undangan hadir, diantaranya keluarga besar Doewe dan rombongan dari Ciledug. Selain mereka, terlihat juga  Mgr.Glen Lewandowski, OSC, pimpinan OSC yang berkedudukan di Roma, Pst.Agust Surianto Pr, direktur Penerbit OBOR, Pst.Harimanto OSC, dekan Fak.Filsafat Unpar dan Keluarga Ganda Kusuma.

Prof.Jakob Sumardjo (budayawan, sastrawan) dan Pst.Agus Rachmat OSC (mantan Rektor Unpar), yang termasuk kontributor/ penulis dalam buku Pak Doewe, tampil sebagai pembicara. Pembicara ketiga adalah Pst.Wirasmo Hadi Pr, vikjen Keuskupan Bandung. Acara launching ini dimeriahkan juga dengan hiburan yang dibawakan Ance Parera, gitaris ternama di Bandung.

Acara launching diprakarsai oleh alumni Sekolah Santo Thomas, sekolah yang dirintis oleh Pak Doewe di Ciledug. Pemandu acara Ayu dan Njoto, adalah juga alumni St.Thomas. Njoto, mungkin karena gugup, berkali-kali menyebut pastor Heri dengan sebutan 'bapak' yang membuat hadirin tertawa geli. Njoto antara lain meminta pastor Heri OSC, penggagas dan editor buku, menceriterakan seluk beluk penulisan buku pak Doewe. Menurut Pastor Heri, buku ini mulai direncanakan sejak tahun 2007. Saat itu pastor Heri mulai menghubungi beberapa penulis, antara lain Prof.Jakob Sumardjo. Namun, karena berbagai kendala, buku ini baru selesai Mei 2012.

Saat giliran Prof. Jakob Sumardjo berbicara, ia berkata: "Beberapa hari yang lalu saya menerima buku ini!”, ujarnya sambil menunjukkan buku pak Doewe. “Saya terkejut bahwa di dalamnya ada tulisan saya. Saya sampai lupa pernah diminta romo Heri menulis tentang suku Sunda dalam kaitan dengan kesundaan bapak Doewe!", ujar Jakob Sumardjo disambut tawa hadirin.

Pak Frans Soesmojo, salah satu anak pak Doewe yang masih hidup, menyatakan kepuasannya atas acara launching buku tentang ayah kandungnya ini. "Kami sungguh terharu bahwa orang tua kami masih dikenang dan dihargai jasa-jasanya", ujar pak Frans. Pst.Wirasmo Hadi Pr, Vikjen Keuskupan Bandung, dalam kesempatan itu menghimbau agar umat Katolik Ciledug memikirkan untuk mengadakan acara peringatan Pak Doewe setiap tahun. "Bapak-ibu dapat memperingati pak Doewe, misalnya setiap tanggal dibaptisnya beliau, 25 Mei". Anjuran Vikjen ini disambut tepuk tangan hadirin, terutama umat Ciledug yang banyak hadir juga.

Secara keseluruhan, acara launching berjalan menarik. Stefanus Tjetje Wirjadi yang hadir bersama istri dan 3 anaknya mengatakan: "Sungguh suatu moment yang meriah dan mengharukan. Keluarga saya bisa mengikuti dengan baik. Suatu pengalaman penting buat mereka!", ujar pengusaha sukses asal Ciledug ini.
Heri Kartono.

NB:
Acara launching buku ini diberitakan juga di KORAN JAKARTA:
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/91630





Saturday, May 5, 2012

Ludovicus Doewe



PELOPOR SUNDA KATOLIK

Bermula dari suatu pertemuan di Belo Horizonte, Brasil tahun 2007. Saya dan Pastor Agus Rachmat OSC kebetulan mengikuti pertemuan tersebut. Saat break, kami berbincang-bincang tentang masa kecil, terutama tentang kota kecil Ciledug, Cirebon. Kami memang berasal dari kampung yang sama.
Saat berbicara tentang Ciledug, kami mengenang kembali jasa-jasa Pak Doewe Prawiradisastra, pionir Katolik di sana. Kebetulan baik orang tua pastor Agus maupun orang tua saya, menjadi Katolik adalah berkat jasa dan pengaruh Pak Doewe.

Dari perbincangan informal itu terbetik keinginan untuk menerbitkan sebuah buku tentang Pak Doewe. Buku ini ditulis pertama-tama sebagai bentuk penghargaan yang setinggi-tingginya atas jasa-jasa beliau. Selain itu, kami yakin pula bahwa semangat serta keteladanan Pak Doewe yang luar biasa dapat ditularkan kepada siapa saja yang membaca riwayat hidupnya.
Gagasan penulisan buku mendapat respons positif dari pelbagai kalangan. Selain berisi tulisan tentang riwayat Pak Doewe, buku ini juga diperkaya dengan tulisan lain, masih berkaitan dengan Pak Doewe. Dengan demikian, gambaran tentang Pak Doewe, disoroti juga dari sisi pendidikan, kekatolikan dan ke-sundaan.

Ada banyak orang yang turut berperan aktif dalam proses penerbitan buku ini. Untuk itu, kami menghaturkan penghargaan serta limpah terima kasih. Secara khusus kami ingin mengucapkan terima kasih: Pertama, kepada keluarga besar Pak Doewe, khususnya bapak FX. Soesmoyo, anak ke-4 alm Pak Doewe. Sebagian besar informasi tentang Pak Doewe diperoleh lewat tangan Pak Soesmoyo. Kedua, kepada Mgr.Pujasumarto Pr, Uskup Bandung (periode 16 Juli 2008 s/d 12 Nopember 2010) yang menyambut baik gagasan penulisan buku ini serta bersedia menyampaikan sambutan tertulisnya. Ketiga, kepada para kontributor: Prof. Jacob Sumardjo, Pastor Agus Rachmat OSC, mas Doni Koesumo, ibu Theresia Soestiati. Keempat, kepada Anjar Anastasia yang telah merangkum dengan baik tulisan kisah pak Doewe. Selanjutnya juga kepada Mbak Retno editor senior KKG dan Pak Winarto yang telah bersedia meng-edit naskah akhir. Last but not least, kami ucapkan terima kasih kepada Penerbit OBOR yang bersedia  menerbitkan buku ini.

Heri Kartono, OSC

Monday, April 16, 2012

Cathy Sharon, Perkawinan




PERKAWINAN CATHY DAN INFORMASI TUKANG PARKIR

Cathy Sharon dan Eka Kusumaputera resmi menjadi suami istri. Perkawinannya berlangsung di Gereja St.Fransiskus Xaverius, Kuta, Bali (Sabtu, 14 April 2012). Gereja, sejak dari bagian luar, sudah dihias amat bagus. Bagian dalam apalagi, penuh dengan bunga-bunga istimewa. Ada dua pohon imitasi berwarna putih dengan pernak-pernik meriah, menghias bagian kiri dan kanan tengah Gereja.

Misa belangsung hikmat dipimpin Uskup Denpasar didampingi beberapa Monsinyur dan Imam. Uskup dan Imam yang datang adalah sahabat-sahabat keluarga Ganda Kusuma, orang tua Eka. Yang menarik, perkawinan ini juga dihadiri anak-anak yatim piatu Panti Asuhan Palasari, Bali. Mereka datang sebagai ungkapan terima kasih karena selama ini mereka mendapat santunan dari keluarga Ganda.

Sebelum kotbah ada pengantar dari Romo Pitoyo SJ, kawan baik Eka sewaktu di Boston, USA. Rm.Pitoyo sempat mengutip wejangan ayah pak Ganda yang dikutip dari buku Memoirs Kersaning Allah. Pak Ganda terlihat meneteskan air mata, mungkin ingat sang ayah yg memberi petuah itu.

Selesai Misa, acara dilanjutkan dengan makan siang dan Tea Pai sesuai adat Tionghoa di Grand Hyatt Hotel. Resepsi resmi baru diadakan malam harinya di Khayangan Estate yang terletak di tepi pantai. Banyak juga selebriti yang hadir dalam resepsi seperti Ridho Rhoma, Aming, Sarah Sechan, Rianti Cartwright, VJ.Daniel, Christopher Abimanyu, Evan Sanders..

Satu hal yang mengesankan, semua acara dipersiapkan dengan sangat baik. Panitia berjumlah lebih dari 30 orang. Panitia mengeluarkan Buku Panduan setebal 60 halaman. Semua detail acara, dari penjemputan para tamu, penanggung jawab dll, lengkap tertulis. Terkesan kuat bahwa keluarga ini sungguh menyiapkan perkawinan dengan amat serius.

Sebagai orang Katolik yang baik, keluarga Ganda menginginkan agar upacara perkawinan berlangsung khidmat. Dan memang, upacara berjalan tertib dan khidmat. Dalam rangka menjaga ketertiban itu semua wartawan baik TV maupun koran dilarang masuk. Sebagai gantinya, panitia menyiapkan dokumentasi pilihan untuk mereka sesudah acara berlangsung. Sebagian wartawan yang tidak sabar menunggu berita resmi, mulai mencari-cari informasi. Tukang parkir dan Satpampun mereka wawancarai. Alhasil, tersiarlah berita bahwa upacara perkawinan ini dipimpin oleh 17 Uskup. Sayangnya, tanpa konfirmasi, berita ini dikutip begitu saja oleh media lain, termasuk Televisi Nasional dan Kompas.com yang mustinya terpercaya itu.

Lepas dari beberapa berita yang tidak akurat, rangkaian upacara dan resepsi perkawinan Eka dan Cathy telah berjalan baik sesuai dengan rencana panitia. Pengantin baru juga terlihat bahagia.

(Foto-foto hasil jepretan Pak Andi)

Heri Kartono

Tuesday, April 3, 2012

Alex Gosyanto


DIBAKAR SEMANGAT PELAYANAN
Kariernya terus menanjak, kesibukanpun makin padat. Namun itu semua ia tinggalkan agar memiliki lebih banyak waktu bekerja untuk pelayanan.
Lewat konsorsium minyak Pertamina, Alex Gosyanto mendapat beasiswa studi di Amerika Serikat (1985-1988). Ia beruntung diterima di Colorado School of Mines, salah satu Universitas terbaik di bidang tambang dan perminyakan. Di tempat yang sama ini ia berkenalan dengan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan, yang kala itu sedang mengambil jenjang S2 dan S3.
Selesai studi, ia kembali ke Indonesia dan mendapat pekerjaan yang baik. Dengan penghasilannya yang lumayan, ia bisa membantu adiknya kuliah dan memberi hadiah-hadiah pada orang tuanya. Dengan tekun Alex terus meniti kariernya dan menikmati jerih payahnya.
Alexander Eddy Gosyanto, lahir di Makasar 4 September 1964. Sejak kecil Alex sudah menunjukkan prestasi yang mengesankan. Saat ia di SMP, ia menjadi juara umum dan Ketua Osis. Padahal, di SMP Negeri III Makasar itu, Alex adalah minoritas baik dalam agama maupun suku. Prestasinya yang menonjol membuat teman-teman dan pihak sekolah menghargainya. Alex yang berasal dari keluarga Konghocu tertarik dan dibaptis menjadi Katolik saat ia sekolah di SD St.Yacobus, Makasar. “Saya sudah tidak ingat katekese masa kecil itu, namun suasana kebersamaan dalam kegiatan-kegiatan di Gereja serta lagu-lagu yang gembira, masih membekas dalam ingatan”, ujar pria 10 bersaudara ini.
Tertarik Karya Pelayanan
Kebahagiaan Alex menjadi lengkap saat dipertemukan dengan Margaretha Suanning Tanardi yang kemudian dinikahinya (9 September 1992). Alex selalu merasa bersyukur memiliki Suanning sebagai istrinya. Baginya, kehadiran Suanning dalam hidupnya merupakan berkat yang tak terhingga. “Banyak hal dan sifat-sifat dalam diri saya yang sudah berubah berkat kehadiran Suanning, sebaliknya juga demikian”, aku pria berwajah teduh ini. Dari perkawinannya ini mereka dikaruniai tiga anak laki-laki: Vincentius Ivan Gosyanto, Laurensius William Gosyanto dan Benediktus Albert Gosyanto.
Sebagai pasangan suami-istri, suatu saat Alex dan Suanning berkenalan dengan kelompok Couples for Christ (CFC), suatu komunitas suami-istri Kristiani. Dalam Komunitas ini Alex juga istrinya, disadarkan betapa banyak hal dapat dilakukan untuk membangun sebuah keluarga Kristiani. “Dalam gerak komunitas kami bisa melihat tiga poros yang menjadi arah dasar KAJ: Iman dalam Yesus Kristus, Persaudaraan sejati, dan Pelayanan yang murah hati, bertumbuh secara selaras”, papar Alex serius.
Ketertarikan serta keterlibatan Alex dalam pelayanan, khususnya lewat CFC semakin lama semakin mendalam. Ia juga bertekad untuk memajukan CFC, khususnya di Dekenat Tangerang. Selain di CFC, Alex juga aktif di parokinya, St.Helena Curug sebagai pengurus SKK (Seksi Kerasulan Keluarga) dan di Komisi Keluarga KWI. Aktivitasnya dalam pelayanan semakin menyita waktunya.
Keputusan Nekad
Semangat untuk bekerja di ladang Tuhan telah membakar jiwa Alex. Semakin hari ia merasa kesulitan membagi waktu antara kerja dan pelayanan. Saat itu ia bekerja di grup Media Indonesia/Metro TV sebagai GM IT. Alex mulai berfikir, seandainya ia berhenti bekerja dan berganti dengan usaha bisnis sendiri, tentu ia akan lebih leluasa membagi waktunya. Sebenarnya Alex belum sepenuhnya yakin bisnis apa yang akan digelutinya secara mandiri namun semangat pelayanan tak bisa dibendungnya lagi. Sesudah bulat tekadnya, disampaikannya niatnya itu pada Suanning, istrinya. Suanning sempat tertegun namun sejurus kemudian ia berkata: "Jika engkau merasa bahwa Tuhan memanggilmu, lakukanlah, saya mendukung niatmu!". Alex merasa terharu atas tanggapan istrinya yang begitu tulus. Sejak itu Alexpun berhenti dari kerjanya (2003). Sejak itu pula waktunya untuk pelayanan menjadi lebih gencar.
Alex sadar, untuk bekerja di ladang Tuhan, butuh bekal ilmu yang memadai. Padahal, pengetahuan serta kepandaian yang ia geluti selama ini adalah bidang perminyakan. Karena itu, sambil melanjutkan pelayanan, Alex giat memperdalam ilmunya, khususnya berkaitan dengan Kitab Suci. Ia mengikuti Kursus Pendidikan Kitab Suci (KPKS) program 3 tahun di LBI Tebet. Ia juga kuliah Filsafat di STF Driyarkara (sejak 2009). Atas jasa Rm.Robby Wowor OFM, Alex mendapat kesempatan mengikuti Biblical Pastoral Training (2010) di Ateneo, Manila. "Suatu pengalaman yang mengesankan bahwa saya belajar di antara 40 romo, 40 suster dan 8 awam secara cukup intensif", ujar Alex dengan nada bangga. Masih dalam rangka menimba bekal, Alex sempat belajar kepemimpinan di Haggai Institute, Hawaii selama sebulan penuh (2011).
Sambil mengikuti kursus dan pelbagai pembekalan, Alex bekerja sama dengan Rm.Robby Wowor membuka kursus Kitab Suci di Biblika, Lippo Karawaci. Di tempat yang sama, Alex juga membuka toko rohani yang menyediakan macam-macam kebutuhan umat. Alex masih sempat membantu Stefan Leks melanjutkan Media Kerahiman Illahi. Sementara itu aktivitasnya di CFC dan di paroki tetap berjalan seperti semula bahkan semakin intensif. “Kalau dipikir-pikir, saya sendiri heran kok begitu nekat meninggalkan karir saya!”, tutur Alex seperti kepada dirinya sendiri.
Tuhan Memberikan Berlebih
Barangkali kita bertanya, dari mana uang diperoleh bila sebagian besar waktu digunakan untuk pelayanan? Sebenarnya itu juga keheranan Alex. Ia tidak mengerti, sejak memutuskan berhenti bekerja, rejeki justru mengalir makin lancar. “Tuhan telah memberikan berlebih. Kami tak pernah mengharapkan imbalan dalam pelayanan, sebaliknya, tidak jarang kami berbagi dengan rela hati!”, tegas Alex.
Bright Consulting, perusahaan yang dirintis istrinya dengan modal sangat minim berkembang amat baik. Beberapa usaha kecil yang dirintis Alex di bidang bimbingan belajar, toko sekolah dan tempat kost berjalan dengan baik pula. Alex, juga istrinya merasa yakin bahwa Tuhan telah membantu dan melindungi mereka lewat pelbagai cara dan lewat tangan-tangan orang lain.
Alexander Eddy Gosyanto tahu bahwa Allah begitu baik. Ia telah menerima berkat secara berlimpah dariNya. Ia mendapat istri yang begitu baik dan setia, dikaruniai tiga anak yang sehat dan cerdas. Anaknya yang pertama, Vincentius Ivan Gosyanto diterima di University of Colorado, Boulder. Alex menyadari, pelayanan yang ia lakukan selama ini tak lebih merupakan ungkapan iman dan syukurnya kepada Tuhan yang Maha Baik. (Dimuat di Majalah HIDUP edisi 29 April 2012)
Heri Kartono, OSC

Saturday, March 31, 2012

Kamis Putih



CUCI KAKI DAN MARAKNYA DEMO BBM

Sebelum rapat paripurna DPR (31/3) berita-berita soal demo anti kenaikan harga BBM banyak mendominasi pemberitaan di Media Massa. Tidak sedikit orang yang menjadi korban dan terluka akibat aksi yang disana-sini menjadi anarkis.

Menarik menyimak berita dibalik demo anti kenaikan BBM ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagaimana diberitakan banyak Media, mengeluh bahwa isyu BBM telah dipolitisasi. Pernyataan Presiden wajar, karena di masyarakat isyu kenaikan harga BBM memang berkembang menjadi isyu politik. Seorang pembicara, dalam suatu acara di salah satu Stasiun Televisi Nasional dengan gamblang menyebut bahwa partai tertentu memanfaatkan isyu BBM demi kepentingan mereka. Pembicara lainnya mengatakan bahwa bantuan untuk orang miskin yang direncanakan pemerintah, sebetulnya rekayasa penguasa untuk menarik hati rakyat. Singkatnya, pembicaraan seputar kenaikan BBM pada akhirnya bermuara pada pemilu 2014. Dari pembicaraan tersebut, orang mendapat kesan gamblang, bahwa untuk memenangkan pemilu, memperebutkan kekuasaan, banyak pihak mau menghalalkan segala cara.

Senandung Orang Tua

Banyak orangtua, khususnya para ibu, biasa bersenandung saat meninabobokan anaknya. Tak jarang senandung tersebut berisi suatu doa atau harapan. Harapan agar kelak sang anak menjadi orang yang sukses, kaya raya dan berkuasa. Harapan seperti ini adalah wajar. Bukankah kita menyaksikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa orang yang kaya dan berkuasa itu menyenangkan, dihormati dan menikmati pelbagai kemudahan? Lantas apa yang salah dengan keinginan atau harapan menjadi penguasa dan kaya raya? Tidak ada yang salah, hanya saja keinginan itu sering dapat membutakan mata dan hati manusia.

Sejarah mencatat banyak orang yang demi merebut atau mempertahankan kekuasaan, bisa berbuat apa saja. Raja Herodes, misalnya, tega membunuh ratusan bayi di bawah usia 2 tahun gara-gara ketakutan akan muncul Raja lain yang sudah diramalkan kelahirannya (Injil Matius 2: 16). Ketakutan akan kehilangan kekuasaan membuat Raja Herodes menjadi gelap mata. Ia tidak peduli ratusan bayi tak berdosa mati sia-sia. Yang penting kedudukannya, posisinya, kekuasaannya tidak terusik. Hal yang sama terjadi pada Muammar Khadafi di Lybia. Khadafi demi mempertahankan kekuasaannya, mau berbuat apa saja termasuk menghabisi lawan-lawan politiknya. Membunuh baginya menjadi seolah-olah hal yang biasa. Rakyat yang sudah lelah dan marah akhirnya menurunkan paksa Khadafi secara tragis. Melihat contoh-contoh tersebut tak heran bahwa orang kerap mengidentikkan kekuasaan dengan kesewenang-wenangan bahkan kelaliman.

Kerinduan Kita Semua

Orang Kristiani menyebut hari Kamis menjelang kematian Yesus, dengan sebutan Maundy Thursday, Holy Thursday, atau Kamis Putih. Pada hari ini umat menyaksikan suatu ritual yang tergolong aneh. Imam yang biasanya berdiri memimpin upacara, turun dari altar, membuka jubah kebesarannya dan mulai membasuh 12 pasang kaki perwakilan jemaat. Yang dilakukan imam ini sebenarnya sekedar mengulang apa yang pernah dilakukan Yesus terhadap kedua belas muridNya. Waktu itu, dalam acara jamuan makan menjelang hari Raya Paskah, tiba-tiba Yesus berdiri dan mulai mencuci kaki murid-muridNya satu per satu. Para murid, kecuali Petrus, terdiam karena kaget. Saking kagetnya, mereka membiarkan Yesus yang mereka hormati mencuci dan membersihkan kaki mereka yang kotor. Pekerjaan tersebut, menurut adat Yahudi biasanya dilakukan oleh seorang budak terhadap tamu yang memasuki rumah. Kali ini Yesus sendiri yang mencuci kaki mereka. Petrus memang sempat protes dan menolak namun akhirnya mau juga dicuci kakinya.

Selesai mencuci kaki, Yesus berkata: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kaki. Aku telah memberi teladan supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Injil Yohanes 13: 13-15). Tindakan Yesus mencuci kaki para murid adalah simbolis. Dalam kesempatan lain secara eksplisit, Yesus pernah juga mengatakan: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu!” (Injil Matius 20: 26). Hal ini dikatakan Yesus ketika Ia melihat dua muridnya berebut posisi penting sebagai muridNya.

Apa yang dilakukan Yesus, meski tidak lazim, sebenarnya dirindukan banyak orang, hingga kini. Seorang pemimpin mustinya mau melayani dan bekerja keras demi kebaikan yang dipimpinnya.

Mengapa Joko Wi, walikota Solo populer? Karena ia mau dan tanpa canggung, memperjuangkan nasib orang-orang yang dipimpinnya. Ia rela memilih mobil Esemka yang sederhana daripada mobil mewah yang dengan mudah dapat ia peroleh. Alasannya jelas, Joko Wi berpihak pada usaha mandiri rakyatnya. Mengapa tindakan Dahlan Iskan yang turun dari mobil dan membuka palang pintu Tol banyak dipuji dan diberitakan Media Massa? Alasannya sama. Orang menghargai dan mengharapkan pemimpin yang mau melayani, mau bersusah-susah demi orang yang dilayaninya. Bukankah sebagai menteri, pak Dahlan sebenarnya bisa minta dikawal polisi, lancar, nyaman. Beres.

Terlalu sering kita menyaksikan ulah para pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri, memperkaya diri dan sekaligus menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya. Orang merindukan pemimpin yang sungguh mau melayani. Joko Wi dan Dahlan Iskan telah sedikit memenuhi kerinduan rakyat.

Hari ini, Kamis Putih, kita diingatkan kembali akan ajaran dan teladan Yesus tentang sosok seorang pemimpin sejati. Rasanya tidaklah lengkap bila kita tidak mengetahui konsekuensi dari ajaran radikal tersebut. Pemimpin yang mau total melayani bukanlah pemimpin yang populer. Sebaliknya, ada banyak 'pemimpin' lain yang justru berang dan terganggu oleh sosok pimpinan ini. Para pemimpin jahat ini pada akhirnya mencari upaya untuk menyingkirkan sang pemimpin sejati. Karena kedengkian merekalah akhirnya Yesus harus menderita dan mati di kayu salib. Kematiannya kita kenang pada hari Jumat besok. Umat Kristiani menyebutnya sebagai Jumat Agung. Yesus yang mengajarkan pelayanan sebagai seorang pemimpin rela menerima konsekuensinya, mati di kayu salib.

Nampaknya setiap orang yang merayakan Hari Raya Kamis Putih, harus siap juga merayakan Jumat Agung. Dua hal yang tak terpisahkan satu sama lain.(Foto: Pembasuhan kaki, oleh Jo Hanafi. foto demo anonim).

Heri Kartono, OSC (Dimuat di Koran Jakarta edisi Kamis, 5 April 2012)

Sunday, March 25, 2012

Agus Rachmat OSC (2)



PASTOR YANG EKSENTRIK

Tidak mudah menjadi Rektor saat terjadi kemelut sengit. Pastor yang eksentrik ini dapat melalui dan menyelesaikan krisis dengan amat baik. Lantas apa saja kiatnya?

Pastor Agus Rachmat OSC hanya menduduki jabatan Rektor Universitas Katolik Parahyangan Bandung selama 17 bulan (1993-1995). Namun tugas yang diemban di pundaknya amat berat, menyelesaikan konflik yang panas dan berlarut-larut. Saat itu terjadi kemelut di Unpar. Universitas terbelah, separuh pro Yayasan, separuh lagi pro Rektor. Mahasiswa demo, karyawan bingung. Perselisihan antara Rektor dengan pihak Yayasan pada akhirnya berimbas ke semua aspek Civitas Academica Unpar.

Kiat Jitu Penyelesaian Kemelut

Pjs Rektor Unpar, Agus Rachmat berhasil meredam konflik dan memulihkan suasana menjadi kondusif lagi. Apa sebenarnya kiat pastor yang kutu buku ini? Sejak awal, Agus Rachmat memaklumkan bahwa dirinya tidak berambisi menjadi Rektor. Artinya, sesudah selesai kemelut, ia akan langsung lengser. Ternyata pernyataannya ini berdampak positif. Orang berhasil diyakinkan bahwa dirinya tdak memiliki vested interest, tidak ada yang harus dipertahankan mati-matian demi keuntungan pribadi.

Selanjutnya Agus mendekati Rektor saat itu, Dr. Pande Raja Silalahi, SE dan membuat gentlemen agreement. Ia manjanjikan bahwa penyelesaian kemelut akan bersifat legal dalam arti ditentukan oleh Dikti (Dinas Perguruan Tinggi) dan Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta). Meski demikian, Agus menolak penyelesaian lewat jalur Pengadilan yang dinilainya tidak pas. Sikap ini tidak hanya diterima oleh pihak Rektor tetapi juga diterima pihak Yayasan yang bersengketa.

Terhadap aktivis mahasiswa yang ikut bergolak, Agus melakukan pendekatan dengan meladeni mereka untuk berdebat. Disisi lain, Agus dengan sengaja mempermudah pelbagai bantuan dana untuk kegiatan mahasiswa. Keterbukaan sekaligus kemurahan Pjs. Rektor ini tentu saja ditanggapi dengan gembira oleh para mahasiswa.

Tak lupa, Agus Rachmat juga mengadakan pendekatan pada tenaga administratif dan akademik. Kepada mereka Agus meminta agar kegiatan dapat berjalan seperti biasanya. Agus menekankan pentingnya transparansi khususnya dalam proses penerimaan mahasiswa baru yang kerap menjadi sorotan saat itu. Singkatnya, sepak terjang Agus Rachmat didukung sepenuhnya oleh semua pihak yang menginginkan penyelesaian kemelut di tubuh Unpar. Secara khusus Senat Unpar berdiri di belakang Pjs Rektor.

Antara Kagum dan Bingung

Apa yang dilakukan Pjs Rektor mulai membuahkan hasil nyata. Suasana kehidupan kampus berangsur-angsur membaik. Saat-saat penting, seperti wisuda mahasiswa, Pjs. Rektor, Agus Rachmat, menyampaikan pidato yang didengarkan dengan cermat oleh semua pihak, termasuk para Dosen. Pasalnya, dalam pidatonya, Agus kerap menyampaikan wacana-wacana baru dan tak lupa menyisipkan istilah-istilah filsafat yang juga dianggap baru. “Orang mendengar pidato saya antara kagum dan bingung...hahaha….!”, ujarnya diselingi gelak tawanya yg khas.

Sikap Agus Rachmat yang bersahaja dan low profile disukai banyak kalangan. Sekedar contoh, sebagai Rektor sebuah Universitas bergengsi, pastor yang Sunda asli ini tetap memilih naik Honda bebeknya. Padahal, Universitas menyediakan fasilitas mobil lengkap dengan sopirnya. Melihat pak Rektor kerap naik sepeda motor, para pegawai berinisiatif menyediakan tempat parkir dengan tulisan khusus motor Rektor, di antara deretan mobil pejabat Unpar.

Agus Rachmat, sebagaimana layaknya seorang Rektor, memiliki seorang sekretaris. Sekretarisnya ini sempat menasehati agar ia rajin memakai sepatu. Maklum, Pak Rektor lebih bahagia memakai sandal sederhana daripada sepatu kulit yang mahal. Ia juga tanpa canggung ngobrol santai dengan para satpam di tempat parkir. Sementara itu, kebiasaannya untuk merokok “lintingan” tetap dibawanya dimanapun ia bertugas.

Lambat laun popularitas Pjs.Rektor ini makin meningkat. Tak heran, saat pencalonan Rektor baru, nama Agus Rachmat ikut disebut pelbagai kalangan. Namun, sesuai janjinya Agus memilih mengundurkan diri. Tugasnya telah diselesaikannya dengan baik.

Idola Frater

Selain sukses sebagai Rektor transisi, Pastor Agus Rachmat amat disegani di kalangan rekan setarekatnya. Saat usianya baru menginjak 33 tahun, ia terpilih sebagai Propinsial Ordo Salib Suci Indonesia. Dengan demikian ia memecahkan rekor sebagai Propinsial OSC termuda! Sesudahnya ia masih tiga kali terpilih lagi sebagai Propinsial, sesuatu yang amat jarang terjadi! Kendati kini tidak menjabat lagi sebagai pimpinan, Agus tetap berperan aktif dalam tarekatnya. Dalam pertemuan para Imam OSC belum lama ini di Pratista, Cimahi (medio Maret 2012) pastor Agus tampil sebagai nara sumber utama. Pengalaman serta pengetahuannya yang luas membuat Agus kerap diminta sebagai pembicara. Tentang pengetahuannya yang luas ini, Pastor Eddy Putranto OSC menyebut Agus Rachmat sebagai “Ensiklopedi Berjalan!”.

Kepemimpinan Agus Rachmat, dinilai oleh rekan setarekatnya, Pastor Dany Sanusi OSC, sebagai kepemimpinan yang formatif dan kuratif, membentuk dan menyembuhkan. “Banyak konfrater (sebutan untuk sesama rekan se-tarekat) merasa lega dan mendapat pencerahan sesudah berbicara dengan Pastor Agus!”, ujar Dany yang pernah bertugas di lingkungan KWI ini. Tak heran bahwa banyak imam muda dan frater OSC mengidolakan Pastor Agus, khususnya dalam cara merangkai kata-kata menjadi indah dan pas.

Di luar prestasi kerjanya yang meyakinkan, Pastor Agus tergolong pribadi yang eksentrik dan terkesan cuek. Salah satu contoh pengalaman tentang hal ini adalah saat ia studi di Leuven, Belgia. Setiap ada kesempatan libur, Agus memanfaatkannya untuk bepergian, naik Kereta Api. Maklum, dengan kartu mahasiswa yang ia miliki, Agus bisa bepergian dengan karcis murah. Sayangnya, saat bepergian, Agus jarang membawa paspor, sesuatu yang penting di negeri orang. Akibat kecuekannya ini, ia pernah tiga kali ditangkap polisi dan sempat masuk penjara selama beberapa jam.

Hidup Pastor Agus Rachmat terus menerus dibaktikan pada Ordo dan Gereja. Kini ia tak lagi menjabat sebagai pemimpin, baik sebagai Rektor maupun Propinsial. Namun itu tak penting baginya. Sebaliknya ia menikmatinya sebagai suatu anugerah. “Sekarang saya memiliki lebih banyak waktu untuk menyiapkan kuliah maupun membaca buku-buku kegemaran saya!”, ujar Dosen Filsafat yang ramah ini.

Heri Kartono, OSC (dimuat di Majalah HIDUP edisi 08 April 2012)