Friday, June 1, 2012
Devie Kusumaputri
Monday, May 28, 2012
Ludovicus Doewe 2
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/91630
Saturday, May 5, 2012
Ludovicus Doewe
Monday, April 16, 2012
Cathy Sharon, Perkawinan


PERKAWINAN CATHY DAN INFORMASI TUKANG PARKIR
Cathy Sharon dan Eka Kusumaputera resmi menjadi suami istri. Perkawinannya berlangsung di Gereja St.Fransiskus Xaverius, Kuta, Bali (Sabtu, 14 April 2012). Gereja, sejak dari bagian luar, sudah dihias amat bagus. Bagian dalam apalagi, penuh dengan bunga-bunga istimewa. Ada dua pohon imitasi berwarna putih dengan pernak-pernik meriah, menghias bagian kiri dan kanan tengah Gereja.
Misa belangsung hikmat dipimpin Uskup Denpasar didampingi beberapa Monsinyur dan Imam. Uskup dan Imam yang datang adalah sahabat-sahabat keluarga Ganda Kusuma, orang tua Eka. Yang menarik, perkawinan ini juga dihadiri anak-anak yatim piatu Panti Asuhan Palasari, Bali. Mereka datang sebagai ungkapan terima kasih karena selama ini mereka mendapat santunan dari keluarga Ganda.
Sebelum kotbah ada pengantar dari Romo Pitoyo SJ, kawan baik Eka sewaktu di Boston, USA. Rm.Pitoyo sempat mengutip wejangan ayah pak Ganda yang dikutip dari buku Memoirs Kersaning Allah. Pak Ganda terlihat meneteskan air mata, mungkin ingat sang ayah yg memberi petuah itu.
Selesai Misa, acara dilanjutkan dengan makan siang dan Tea Pai sesuai adat Tionghoa di Grand Hyatt Hotel. Resepsi resmi baru diadakan malam harinya di Khayangan Estate yang terletak di tepi pantai. Banyak juga selebriti yang hadir dalam resepsi seperti Ridho Rhoma, Aming, Sarah Sechan, Rianti Cartwright, VJ.Daniel, Christopher Abimanyu, Evan Sanders..
Satu hal yang mengesankan, semua acara dipersiapkan dengan sangat baik. Panitia berjumlah lebih dari 30 orang. Panitia mengeluarkan Buku Panduan setebal 60 halaman. Semua detail acara, dari penjemputan para tamu, penanggung jawab dll, lengkap tertulis. Terkesan kuat bahwa keluarga ini sungguh menyiapkan perkawinan dengan amat serius.
Sebagai orang Katolik yang baik, keluarga Ganda menginginkan agar upacara perkawinan berlangsung khidmat. Dan memang, upacara berjalan tertib dan khidmat. Dalam rangka menjaga ketertiban itu semua wartawan baik TV maupun koran dilarang masuk. Sebagai gantinya, panitia menyiapkan dokumentasi pilihan untuk mereka sesudah acara berlangsung. Sebagian wartawan yang tidak sabar menunggu berita resmi, mulai mencari-cari informasi. Tukang parkir dan Satpampun mereka wawancarai. Alhasil, tersiarlah berita bahwa upacara perkawinan ini dipimpin oleh 17 Uskup. Sayangnya, tanpa konfirmasi, berita ini dikutip begitu saja oleh media lain, termasuk Televisi Nasional dan Kompas.com yang mustinya terpercaya itu.
Lepas dari beberapa berita yang tidak akurat, rangkaian upacara dan resepsi perkawinan Eka dan Cathy telah berjalan baik sesuai dengan rencana panitia. Pengantin baru juga terlihat bahagia.
(Foto-foto hasil jepretan Pak Andi)
Heri Kartono
Tuesday, April 3, 2012
Alex Gosyanto

Saturday, March 31, 2012
Kamis Putih


CUCI KAKI DAN MARAKNYA DEMO BBM
Sebelum rapat paripurna DPR (31/3) berita-berita soal demo anti kenaikan harga BBM banyak mendominasi pemberitaan di Media Massa. Tidak sedikit orang yang menjadi korban dan terluka akibat aksi yang disana-sini menjadi anarkis.
Menarik menyimak berita dibalik demo anti kenaikan BBM ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagaimana diberitakan banyak Media, mengeluh bahwa isyu BBM telah dipolitisasi. Pernyataan Presiden wajar, karena di masyarakat isyu kenaikan harga BBM memang berkembang menjadi isyu politik. Seorang pembicara, dalam suatu acara di salah satu Stasiun Televisi Nasional dengan gamblang menyebut bahwa partai tertentu memanfaatkan isyu BBM demi kepentingan mereka. Pembicara lainnya mengatakan bahwa bantuan untuk orang miskin yang direncanakan pemerintah, sebetulnya rekayasa penguasa untuk menarik hati rakyat. Singkatnya, pembicaraan seputar kenaikan BBM pada akhirnya bermuara pada pemilu 2014. Dari pembicaraan tersebut, orang mendapat kesan gamblang, bahwa untuk memenangkan pemilu, memperebutkan kekuasaan, banyak pihak mau menghalalkan segala cara.
Senandung Orang Tua
Banyak orangtua, khususnya para ibu, biasa bersenandung saat meninabobokan anaknya. Tak jarang senandung tersebut berisi suatu doa atau harapan. Harapan agar kelak sang anak menjadi orang yang sukses, kaya raya dan berkuasa. Harapan seperti ini adalah wajar. Bukankah kita menyaksikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa orang yang kaya dan berkuasa itu menyenangkan, dihormati dan menikmati pelbagai kemudahan? Lantas apa yang salah dengan keinginan atau harapan menjadi penguasa dan kaya raya? Tidak ada yang salah, hanya saja keinginan itu sering dapat membutakan mata dan hati manusia.
Sejarah mencatat banyak orang yang demi merebut atau mempertahankan kekuasaan, bisa berbuat apa saja. Raja Herodes, misalnya, tega membunuh ratusan bayi di bawah usia 2 tahun gara-gara ketakutan akan muncul Raja lain yang sudah diramalkan kelahirannya (Injil Matius 2: 16). Ketakutan akan kehilangan kekuasaan membuat Raja Herodes menjadi gelap mata. Ia tidak peduli ratusan bayi tak berdosa mati sia-sia. Yang penting kedudukannya, posisinya, kekuasaannya tidak terusik. Hal yang sama terjadi pada Muammar Khadafi di Lybia. Khadafi demi mempertahankan kekuasaannya, mau berbuat apa saja termasuk menghabisi lawan-lawan politiknya. Membunuh baginya menjadi seolah-olah hal yang biasa. Rakyat yang sudah lelah dan marah akhirnya menurunkan paksa Khadafi secara tragis. Melihat contoh-contoh tersebut tak heran bahwa orang kerap mengidentikkan kekuasaan dengan kesewenang-wenangan bahkan kelaliman.
Kerinduan Kita Semua
Orang Kristiani menyebut hari Kamis menjelang kematian Yesus, dengan sebutan Maundy Thursday, Holy Thursday, atau Kamis Putih. Pada hari ini umat menyaksikan suatu ritual yang tergolong aneh. Imam yang biasanya berdiri memimpin upacara, turun dari altar, membuka jubah kebesarannya dan mulai membasuh 12 pasang kaki perwakilan jemaat. Yang dilakukan imam ini sebenarnya sekedar mengulang apa yang pernah dilakukan Yesus terhadap kedua belas muridNya. Waktu itu, dalam acara jamuan makan menjelang hari Raya Paskah, tiba-tiba Yesus berdiri dan mulai mencuci kaki murid-muridNya satu per satu. Para murid, kecuali Petrus, terdiam karena kaget. Saking kagetnya, mereka membiarkan Yesus yang mereka hormati mencuci dan membersihkan kaki mereka yang kotor. Pekerjaan tersebut, menurut adat Yahudi biasanya dilakukan oleh seorang budak terhadap tamu yang memasuki rumah. Kali ini Yesus sendiri yang mencuci kaki mereka. Petrus memang sempat protes dan menolak namun akhirnya mau juga dicuci kakinya.
Selesai mencuci kaki, Yesus berkata: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kaki. Aku telah memberi teladan supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Injil Yohanes 13: 13-15). Tindakan Yesus mencuci kaki para murid adalah simbolis. Dalam kesempatan lain secara eksplisit, Yesus pernah juga mengatakan: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu!” (Injil Matius 20: 26). Hal ini dikatakan Yesus ketika Ia melihat dua muridnya berebut posisi penting sebagai muridNya.
Apa yang dilakukan Yesus, meski tidak lazim, sebenarnya dirindukan banyak orang, hingga kini. Seorang pemimpin mustinya mau melayani dan bekerja keras demi kebaikan yang dipimpinnya.
Mengapa Joko Wi, walikota Solo populer? Karena ia mau dan tanpa canggung, memperjuangkan nasib orang-orang yang dipimpinnya. Ia rela memilih mobil Esemka yang sederhana daripada mobil mewah yang dengan mudah dapat ia peroleh. Alasannya jelas, Joko Wi berpihak pada usaha mandiri rakyatnya. Mengapa tindakan Dahlan Iskan yang turun dari mobil dan membuka palang pintu Tol banyak dipuji dan diberitakan Media Massa? Alasannya sama. Orang menghargai dan mengharapkan pemimpin yang mau melayani, mau bersusah-susah demi orang yang dilayaninya. Bukankah sebagai menteri, pak Dahlan sebenarnya bisa minta dikawal polisi, lancar, nyaman. Beres.
Terlalu sering kita menyaksikan ulah para pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri, memperkaya diri dan sekaligus menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya. Orang merindukan pemimpin yang sungguh mau melayani. Joko Wi dan Dahlan Iskan telah sedikit memenuhi kerinduan rakyat.
Hari ini, Kamis Putih, kita diingatkan kembali akan ajaran dan teladan Yesus tentang sosok seorang pemimpin sejati. Rasanya tidaklah lengkap bila kita tidak mengetahui konsekuensi dari ajaran radikal tersebut. Pemimpin yang mau total melayani bukanlah pemimpin yang populer. Sebaliknya, ada banyak 'pemimpin' lain yang justru berang dan terganggu oleh sosok pimpinan ini. Para pemimpin jahat ini pada akhirnya mencari upaya untuk menyingkirkan sang pemimpin sejati. Karena kedengkian merekalah akhirnya Yesus harus menderita dan mati di kayu salib. Kematiannya kita kenang pada hari Jumat besok. Umat Kristiani menyebutnya sebagai Jumat Agung. Yesus yang mengajarkan pelayanan sebagai seorang pemimpin rela menerima konsekuensinya, mati di kayu salib.
Nampaknya setiap orang yang merayakan Hari Raya Kamis Putih, harus siap juga merayakan Jumat Agung. Dua hal yang tak terpisahkan satu sama lain.(Foto: Pembasuhan kaki, oleh Jo Hanafi. foto demo anonim).
Heri Kartono, OSC (Dimuat di Koran Jakarta edisi Kamis, 5 April 2012)
Sunday, March 25, 2012
Agus Rachmat OSC (2)

PASTOR YANG EKSENTRIK
Tidak mudah menjadi Rektor saat terjadi kemelut sengit. Pastor yang eksentrik ini dapat melalui dan menyelesaikan krisis dengan amat baik. Lantas apa saja kiatnya?
Pastor Agus Rachmat OSC hanya menduduki jabatan Rektor Universitas Katolik Parahyangan Bandung selama 17 bulan (1993-1995). Namun tugas yang diemban di pundaknya amat berat, menyelesaikan konflik yang panas dan berlarut-larut. Saat itu terjadi kemelut di Unpar. Universitas terbelah, separuh pro Yayasan, separuh lagi pro Rektor. Mahasiswa demo, karyawan bingung. Perselisihan antara Rektor dengan pihak Yayasan pada akhirnya berimbas ke semua aspek Civitas Academica Unpar.
Kiat Jitu Penyelesaian Kemelut
Pjs Rektor Unpar, Agus Rachmat berhasil meredam konflik dan memulihkan suasana menjadi kondusif lagi. Apa sebenarnya kiat pastor yang kutu buku ini? Sejak awal, Agus Rachmat memaklumkan bahwa dirinya tidak berambisi menjadi Rektor. Artinya, sesudah selesai kemelut, ia akan langsung lengser. Ternyata pernyataannya ini berdampak positif. Orang berhasil diyakinkan bahwa dirinya tdak memiliki vested interest, tidak ada yang harus dipertahankan mati-matian demi keuntungan pribadi.
Selanjutnya Agus mendekati Rektor saat itu, Dr. Pande Raja Silalahi, SE dan membuat gentlemen agreement. Ia manjanjikan bahwa penyelesaian kemelut akan bersifat legal dalam arti ditentukan oleh Dikti (Dinas Perguruan Tinggi) dan Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta). Meski demikian, Agus menolak penyelesaian lewat jalur Pengadilan yang dinilainya tidak pas. Sikap ini tidak hanya diterima oleh pihak Rektor tetapi juga diterima pihak Yayasan yang bersengketa.
Terhadap aktivis mahasiswa yang ikut bergolak, Agus melakukan pendekatan dengan meladeni mereka untuk berdebat. Disisi lain, Agus dengan sengaja mempermudah pelbagai bantuan dana untuk kegiatan mahasiswa. Keterbukaan sekaligus kemurahan Pjs. Rektor ini tentu saja ditanggapi dengan gembira oleh para mahasiswa.
Tak lupa, Agus Rachmat juga mengadakan pendekatan pada tenaga administratif dan akademik. Kepada mereka Agus meminta agar kegiatan dapat berjalan seperti biasanya. Agus menekankan pentingnya transparansi khususnya dalam proses penerimaan mahasiswa baru yang kerap menjadi sorotan saat itu. Singkatnya, sepak terjang Agus Rachmat didukung sepenuhnya oleh semua pihak yang menginginkan penyelesaian kemelut di tubuh Unpar. Secara khusus Senat Unpar berdiri di belakang Pjs Rektor.
Antara Kagum dan Bingung
Apa yang dilakukan Pjs Rektor mulai membuahkan hasil nyata. Suasana kehidupan kampus berangsur-angsur membaik. Saat-saat penting, seperti wisuda mahasiswa, Pjs. Rektor, Agus Rachmat, menyampaikan pidato yang didengarkan dengan cermat oleh semua pihak, termasuk para Dosen. Pasalnya, dalam pidatonya, Agus kerap menyampaikan wacana-wacana baru dan tak lupa menyisipkan istilah-istilah filsafat yang juga dianggap baru. “Orang mendengar pidato saya antara kagum dan bingung...hahaha….!”, ujarnya diselingi gelak tawanya yg khas.
Sikap Agus Rachmat yang bersahaja dan low profile disukai banyak kalangan. Sekedar contoh, sebagai Rektor sebuah Universitas bergengsi, pastor yang Sunda asli ini tetap memilih naik Honda bebeknya. Padahal, Universitas menyediakan fasilitas mobil lengkap dengan sopirnya. Melihat pak Rektor kerap naik sepeda motor, para pegawai berinisiatif menyediakan tempat parkir dengan tulisan khusus motor Rektor, di antara deretan mobil pejabat Unpar.
Agus Rachmat, sebagaimana layaknya seorang Rektor, memiliki seorang sekretaris. Sekretarisnya ini sempat menasehati agar ia rajin memakai sepatu. Maklum, Pak Rektor lebih bahagia memakai sandal sederhana daripada sepatu kulit yang mahal. Ia juga tanpa canggung ngobrol santai dengan para satpam di tempat parkir. Sementara itu, kebiasaannya untuk merokok “lintingan” tetap dibawanya dimanapun ia bertugas.
Lambat laun popularitas Pjs.Rektor ini makin meningkat. Tak heran, saat pencalonan Rektor baru, nama Agus Rachmat ikut disebut pelbagai kalangan. Namun, sesuai janjinya Agus memilih mengundurkan diri. Tugasnya telah diselesaikannya dengan baik.
Idola Frater
Selain sukses sebagai Rektor transisi, Pastor Agus Rachmat amat disegani di kalangan rekan setarekatnya. Saat usianya baru menginjak 33 tahun, ia terpilih sebagai Propinsial Ordo Salib Suci Indonesia. Dengan demikian ia memecahkan rekor sebagai Propinsial OSC termuda! Sesudahnya ia masih tiga kali terpilih lagi sebagai Propinsial, sesuatu yang amat jarang terjadi! Kendati kini tidak menjabat lagi sebagai pimpinan, Agus tetap berperan aktif dalam tarekatnya. Dalam pertemuan para Imam OSC belum lama ini di Pratista, Cimahi (medio Maret 2012) pastor Agus tampil sebagai nara sumber utama. Pengalaman serta pengetahuannya yang luas membuat Agus kerap diminta sebagai pembicara. Tentang pengetahuannya yang luas ini, Pastor Eddy Putranto OSC menyebut Agus Rachmat sebagai “Ensiklopedi Berjalan!”.
Kepemimpinan Agus Rachmat, dinilai oleh rekan setarekatnya, Pastor Dany Sanusi OSC, sebagai kepemimpinan yang formatif dan kuratif, membentuk dan menyembuhkan. “Banyak konfrater (sebutan untuk sesama rekan se-tarekat) merasa lega dan mendapat pencerahan sesudah berbicara dengan Pastor Agus!”, ujar Dany yang pernah bertugas di lingkungan KWI ini. Tak heran bahwa banyak imam muda dan frater OSC mengidolakan Pastor Agus, khususnya dalam cara merangkai kata-kata menjadi indah dan pas.
Di luar prestasi kerjanya yang meyakinkan, Pastor Agus tergolong pribadi yang eksentrik dan terkesan cuek. Salah satu contoh pengalaman tentang hal ini adalah saat ia studi di Leuven, Belgia. Setiap ada kesempatan libur, Agus memanfaatkannya untuk bepergian, naik Kereta Api. Maklum, dengan kartu mahasiswa yang ia miliki, Agus bisa bepergian dengan karcis murah. Sayangnya, saat bepergian, Agus jarang membawa paspor, sesuatu yang penting di negeri orang. Akibat kecuekannya ini, ia pernah tiga kali ditangkap polisi dan sempat masuk penjara selama beberapa jam.
Hidup Pastor Agus Rachmat terus menerus dibaktikan pada Ordo dan Gereja. Kini ia tak lagi menjabat sebagai pemimpin, baik sebagai Rektor maupun Propinsial. Namun itu tak penting baginya. Sebaliknya ia menikmatinya sebagai suatu anugerah. “Sekarang saya memiliki lebih banyak waktu untuk menyiapkan kuliah maupun membaca buku-buku kegemaran saya!”, ujar Dosen Filsafat yang ramah ini.
Heri Kartono, OSC (dimuat di Majalah HIDUP edisi 08 April 2012)





