Tuesday, March 10, 2009

Prof. Giovanni Giuriati.


MAESTRO GAMELAN DARI ITALI

Saat studi doktorat di Amerika Serikat, ia berkenalan dengan musik gamelan, baik gamelan Jawa maupun Bali. Kini, Profesor musik etnis ini tidak hanya mahir memainkan pelbagai instrumen gamelan, namun juga mengajarkannya.

“Saya masih ingat betul saat pertama kali memainkan gemelan dalam pentas resmi di KBRI di Massachussets Avenue, Washington DC. Waktu itu kami di bawah bimbingan seorang pengajar dari Bali. Sungguh suatu pengalaman yang amat menggembirakan sekaligus mengesankan”, kenang Professor Giovanni Giuriati, dosen Etnomusikologi pada Universitas La Sapienza, Roma.

Giovanni mengaku sudah tertarik pada seni sejak kanak-kanak. Tak heran bahwa saat remaja, ia memutuskan masuk sekolah menengah khusus bidang seni. Sesudahnya, ia juga meneruskan kuliah bidang seni hingga tingkat doktorat. Gelar doktornya ia peroleh dari Universitas Maryland, AS, dengan spesialisasi musik Asia Tenggara. Saat itu ia dibawah bimbingan Ki Mantle Hood, seorang professor yang ahli di bidang musik Jawa dan Bali.

Kerja-sama dengan KBRI Vatikan

Kecintaannya pada musik Indonesia terus berlanjut. Selesai meraih gelar doktorat di AS, ia kembali ke Roma. Di kota tempat kelahirannya ini, Giovanni mengajar di Universitas La Sapienza. Di universitas ini, selain memberi kuliah, Giovanni juga memimpin penelitian tentang musik Bali.

Pengetahuan serta kemahiran Giovanni di bidang musik gamelan, makin sempurna saat ia berkenalan dengan I Wayan Puspayadi, seorang musikus dan penari asal Bali yang saat itu bekerja di KBRI untuk Italia. Sekitar tahun 1990-an Giovanni bergabung dengan Gong Kebyar dibawah binaan I Wayan Puspayadi.

Sejak tahun 2005, Prof.Giovanni menjalin kerja sama dengan KBRI untuk Tahta Suci. Hal ini bermula dari perkenalannya dengan Hadsono Nasehotoen, seorang pencinta kesenian dan bekerja di KBRI Vatikan. Kebetulan KBRI Vatikan memiliki perangkat gamelan lengkap, bahkan memiliki seorang pengajar sendiri, yaitu bapak Widodo Kusnantyo, seorang dosen ISI Jogyakarta yang diperbantukan. Dalam perkembangannya kerja-sama KBRI dengan Universitas La Sapienza dikukuhkan dengan penanda-tanganan M.O.U (Memory of Understanding). Perjanjian tersebut memungkinkan sekitar 15 mahasiswa (terutama jurusan Sastra dan Filsafat) melakukan “stage” belajar gamelan atau tarian di KBRI Vatikan selama 50 jam dan mendapat dua angka kredit. Pada akhir semester, sebagai penutup stage, para mahasiswa menunjukkan kebolehannya bermain gamelan dalam suatu pertunjukan terbuka. Selesai semester resmi, beberapa mahasiswa masih meneruskan secara sukarela belajar gamelan, meski tidak mendapat kredit lagi.

“Kerja-sama ini sudah berjalan selama empat tahun. Secara pribadi saya merasa sangat bahagia mendapat kesempatan yang ditawarkan pihak KBRI Tahta Suci. Dengan demikian, para mahasiswa tidak hanya mengenal secara teoritis kesenian Indonesia namun juga berlatih memainkannya. Untuk itu, saya berterima kasih pada Duta Besar RI untuk Tahta Suci, Bambang Prayitno yang merintis kerja-sama ini dan pada Duta Besar Suprapto Martosetomo yang meneruskannya hingga kini”, ujar Giovanni dengan gembira. Pihak KBRI Vatikan sendiri memandang kerja-sama ini penting. “Promosi seni dan budaya Indonesia sesungguhnya merupakan bagian dari diplomasi publik. Dan ini merupakan salah satu pelaksanaan fungsi dan tugas KBRI”, ujar seorang pejabat KBRI Vatikan.

Bermain Tanpa Notasi

“Hampir semua orang Barat bermain instrumen dengan notasi. Demikian juga para mahasiswa di sini, semua bermain gamelan dengan notasi. Tanpa notasi, mereka akan kebingungan. Tapi, Prof. Giovanni sudah bisa memainkan hampir semua instrumen gamelan Jawa yang ada di KBRI Vatikan, tanpa notasi. Ia mampu memainkan gamelan dengan perasaan, seperti layaknya orang Jawa”, tutur Widodo Kusnantyo, pengajar gamelan.

Widodo yang sudah lebih 4 tahun bergaul dekat dengan Prof.Giovanni, merasa terkesan akan kepribadiannya. “Giovanni adalah sosok yang ulet, pekerja keras dan memiliki rasa seni yang tinggi. Ia sangat antusias mempelajari kebudayaan serta kesenian lain”, paparnya. Lepas dari keahliannya dalam bidang musik, Widodo menilai Giovanni sebagai pribadi yang ramah, supel dan tanggap akan situasi. Lebih dari itu, lewat Giovanni pula banyak orang Italia mulai mengenal dan menyukai kesenian Indonesia, khususnya gamelan.

Bersama para mahasiswa binaannya dan bekerja sama dengan pihak KBRI Vatikan, Prof.Giovanni beberapa kali mengadakan pentas kesenian Indonesia, antara lain di kota Trento, Cremona, Como, Polignano al Mare dan berkali-kali di kota Roma. Mereka tidak hanya menampilkan kesenian gamelan tapi juga beberapa tarian Indonesia seperti Tari Merak, Tari Bondan, Tari Golek Ayun-ayun, Tari Saman dan Tari Pertobatan. Yang terakhir adalah tarian ciptaaan Diakon Mammouth OSC yang sedang bertugas di Roma. Pentas kesenian Indonesia ini memang kerap juga melibatkan para rohaniwan-wati Indonesia yang ada di kota Roma. Pada umumnya tanggapan dari publik Italia amat baik. Tidak sedikit di antara penonton berkeinginan untuk melancong ke Indonesia seusai menyaksikan keindahan kesenian yang mereka nikmati.

Penghargaan dan Pengakuan

Kiprah Prof. Giovanni di bidang etnomusikologi secara bertahap mendapat pengakuan serta penghargaan pelbagai pihak. Saat ini, misalnya, ia menjabat sebagai presiden European Society for Ethnomusicology (Esam), suatu kedudukan yang amat bergengsi. Selain itu, Giovanni saat ini juga duduk sebagai direktur Intercultural Institute for Comparative Music Studies yang berpusat di Venezia.

Dari pihak pemerintah Italia, lewat Menteri Pendidikan dan Menteri Luar Negeri, Prof. Giovani mendapat  sejumlah grant (dana) untuk memimpin penelitian musik di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Kamboja. Dalam kaitan ini, pria penggemar olah raga ski ini berulang kali melawat ke Indonesia, terutama Bali. Selain ke Indonesia, ia juga kerap pergi ke Kamboja. Ia masih teringat, saat pertama kalinya ke Kamboja (1986), situasi di sana masih porak-poranda akibat perang jaman pemerintahan Pol Pot. “Makanan, air dan keperluan sederhanapun sulit di dapat”, kenang penggemar masakan rendang ini. Selama tiga kali liburan musim panas, Giovanni pergi ke Kamboja untuk mengajar di Universitas Phnom Pehn, Kamboja. Bidang yang ia ajarkan adalah metodologi pengembangan sumber daya lingkungan serta budaya. Kendati demikian, dengan tinggal selama 3 kali di Kamboja, Giovanni mengaku dirinya banyak belajar dari kehidupan orang-orang di sana.

Keahlian sekaligus kegemaran Prof. Giovanni Giuriati dapat berkembang dengan baik antara lain karena mendapat dukungan penuh istrinya, Grabriella. Maklum, sang istri adalah juga seorang musikus. Grabriella mengajar musik di Sekolah Menengah di Roma, bermain piano dan ikut bermain gamelan di bawah bimbingan sang suami tercinta.

Giovanni memang patut bersyukur, karena keahlian, kegemaran serta kehidupan rumah-tangganya dapat berjalan seiring-sejalan. Dan sebenarnya tidak hanya Giovanni, namun juga semua orang yang menyaksikan sepak-terjangnya patut untuk bersyukur. Betapa tidak, lewat sosok yang ramah dan sederhana ini, keindahan musik Asia, khususnya gamelan, dapat dinikmati banyak orang. Dan lewat musik pula kerukunan kedua bangsa dapat terjalin dengan amat manisnya! 

Catatan: 

1. Foto: Prof.Giovanni bersama pak Hadsono dari KBRI Vatikan. 2. Terima kasih pada pak Hadsono yang memberi ijin saya menggunakan foto ini.

Heri Kartono, OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 29 Maret 2009).

 

 

7 comments:

triastuti said...

Tulisan yang sangat menggugah dan membuat perasaan saya terbelah, antara bangga dan sekaligus malu/prihatin. Senang sekali bahwa budaya Indonesia yang anggun dan kaya diperkenalkan di berbagai kesempatan di dunia, hanya bukan oleh anak bangsa sendiri, melainkan seorang Italia. Salut dan kagum buat Prof Giovanni, semoga menjadi teladan bagi anak-anak bangsa kita sendiri dan trimakasih Romo Heri.

Lilian said...

Tulisan Rm. selalu lengkap dan tuntas. Lengkap, karena dgn artikel ini kita jadi tahu latar belakang profl dan bagaimana timbulnya kecintaan itu.
Sedangkan mengenai gamelan sendiri.... hm.. di Indo sendiri masihkah dihargai oleh cukup banyak org ? Ataukah sering kita bercuap-cuap kalau sudah di akui oleh negara lain ? Pendidikan formal masih jarang mengajarkan untuk tuntas dalam musik, krn masih dianggap tambahan saja.

Sarimaya said...

Musik etnis .... banyak diantara kita yang mengatakan kalau musik etnis itu kuno & tidak bergengsi untuk dipelajari, tapi kita tidak menyadari kalau disitulah letak kekayaan suatu bangsa. Tapi ironisnya ... kok malah orang lain yang mau mempelajarinya sementara kita sendiri ogah ??????

eds said...

Hai Romo, pa kabar nih? masih dan semakin luwes saja mengukir kertas dengan pikiran dan tinta :)
saya baru tau ada yang namanya ethnomusicology ckckck...sungguh kosong otak saya ini. Romo, kapan2, ajak Prof Giovanni utk konser bareng di bali ato yogya, jadi kan seru, trs sinden nya pake bhs italy..pasti seru punya, tul gak?

isnar said...

Mo,
Gile bener tuh orang Itali. Salut deh...! Aku jadi malu, sebagai orang Ina/Jawa, malah gak kenal gamelan. Orang-orang asing malah memboyong kepiawaian itu. Malu.

Tapi ya mau bilang apa, wong kenyataannya begitu. Anak2ku baru denger gending saja udah buru-buru mematikan sumber bunyi itu. Tobat deh!

Rosiany T.Chandra said...

Kecintaan akan sesuatu harus dimulai semnejak dini,dengan demikian akan tersimpan dengan baik dan dia tak akan mudah tercemar oleh sesuatu yang baru yang demikian gencarnya di 'expose' oleh media massa.
Penilaianku tulisan ini demikian indahnya,baik materi maupun gaya penuturannya.Amat sarat dengan makna juga.Mungkin habis mendapat inspirasi 'besar' ya Romo.Selamat!

Ria Dhian said...

duile ini prof. bule satu ini... ckckckckckk.. hebring betz !!! mao donk, aku berkolaborasi dengannya... *sambil mengingat2 kenangan masa ber gamelan ria di sanur* wakakkakakk... btw, salut pisan yak ama beliau... apa kita gantian aja romo ? menyebarkan kebudayaan sphagetti nya.. 8daripada nasgor romo ?* wakkakaka.. *pisss*