Saturday, May 30, 2009

Sr. Melanie CB.


DILAMAR DI TENGAH PASAR

Saat ini Sr.Melanie Giniyati CB duduk sebagai Pemimpin Umum Kongregasi Carolus Boromeus periode kedua. Kongregasi yang berpusat di kota Maastricht Belanda ini memiliki anggota yang tersebar di empat benua. Di Indonesia suster-suster CB berkarya di pelbagai tempat, mulai dari ibu kota Jakarta hingga pelosok Papua.

Hampir 20 tahun yang lalu, saat bertugas di Tanzania, Afrika, suster Melanie pernah dilamar seorang pemuda setempat. Waktu itu ia sedang berbelanja di sebuah pasar tradisional. Ketika ia sedang asyik memilih-milih sayuran, seorang pemuda gagah berkulit gelap, berambut keriting, datang menghampirinya. Tanpa basa-basi pemuda tersebut menyatakan senang padanya dan berniat untuk melamarnya. Tak lupa, pemuda tersebut menjanjikan 50 ekor sapi sebagai mas kawinnya.

Rupanya, Sr.Melanie yang berkulit terang dan berambut lurus, dianggap lebih cantik dibanding gadis-gadis setempat. Dengan tenang Sr.Melanie mengucapkan terima kasih seraya menjelaskan bahwa dirinya telah terikat. Ia juga menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya sebagai tanda ikatan itu. Menolak suatu lamaran di muka umum di Tanzania dapat berbahaya. Sebab, sang pemuda bisa merasa direndahkan atau terhina. Namun dengan sikap Sr.Melanie yang tenang dan ramah, pemuda itupun dapat menerima penolakan tersebut. Orang-orang yang menyaksikan adegan tersebut dan yang mengenal Melanie sebagai seorang suster, bertepuk tangan dengan riuhnya.

Peristiwa kecil di atas, menunjukkan sebagian kepribadian Sr.Melanie. Ia mampu menghadapi pelbagai situasi tak terduga dengan ketenangan serta kearifan yang mengagumkan. Karenanya tidak heran bahwa sepanjang hidupnya sebagai seorang biarawati, ia kerap dipercaya sebagai pimpinan.

Dari Keluarga Non Katolik

Suster kelahiran Magelang, 26 Nopember 1943 ini berasal dari keluarga non Katolik. Pada waktu Melanie kecil duduk di bangku SD Negeri di Magelang, ia melihat bahwa siswa-siswi sekolah Katolik kelihatan lebih lincah, cerdas dan rapih. Sekolah mereka memang berdekatan. Ia meminta pada orang tuanya untuk disekolahkan di sekolah Katolik. Setelah lulus SD, orang tuanya mengijinkan Melanie masuk SMP Katolik. Lewat sekolah ini, Melanie tertarik pada agama Katolik dan mengikuti pelajaran agama. Awalnya orang tuanya tidak setuju. Maklum, dari keluarga Melanie, waktu itu, tidak ada satupun yang beragama Katolik. Meski demikian, sesudah lulus SMP, Melanie yang tetap berkeras ingin menjadi Katolik, akhirnya diijinkan dibaptis.

Setelah tamat SMA, Melanie melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Fakultas Ekonomi. Kampus UGM terletak tidak jauh dari Rumah Sakit Panti Rapih yang dikelola para suster Carolus Boromeus. Penampilan para suster CB yang kerap dilihatnya, rupanya menarik perhatiannya. Di matanya, para suster tampak selalu gembira, ramah dan siap membantu orang lain.

Suatu hari, Melanie berkenalan dengan Moeder Yvon CB, pemimpin biara Panti Rapih. Lewat suster Yvon ini, Melanie menyatakan ketertarikannya untuk menjadi seorang biarawati (karena ketidak tahuannya, waktu itu Melanie mengatakan ingin menjadi seorang romo!). Moeder Yvon kemudian memperkenalkan Melanie dengan Sr.Louise CB, pemimpin Novisiat. Atas saran Sr.Louise, Melanie meminta ijin orang tuanya untuk meninggalkan bangku kuliah dan masuk biara. Tentu saja orang tuanya terkejut, kecewa dan marah. Ayah Melanie bahkan tidak bersedia menanda-tangani surat persetujuan. Sesudah dibujuk-bujuk, akhirnya dengan berat hati bapak memberi tanda tangan juga. Meski demikian, kedua orang tidak bersedia mengantar saat Melanie masuk Novisiat.

Demikian juga, saat prasetya kekal di Bandung, 9 Juli 1972, tak seorangpun dari keluarga Melanie hadir. Meski demikian, bapak mengirim surat, menyatakan bahwa ia telah merelakan Melanie anaknya, menempuh jalan hidup membiara. Tentu saja surat tersebut melegakan Melanie.

Bakat Pemimpin

Setelah profesi, Sr.Melanie ditugaskan membantu di bagian administrasi RS.Panti Rapih sambil kuliah di IKIP Sanata Dharma jurusan ekonomi. Setelah itu, Sr.Melanie nyaris selalu bertugas sebagai pemimpin. Di RS.Boromeus Bandung, Sr.Melanie ditugaskan sebagai Direktris Administrasi dan Personalia. Demikianpun saat ditugaskan selama 10 tahun di RS.Carolus, Jakarta, Sr.Melani dipercaya sebagai Direktris Administrasi dan Rumah Tangga yang mengurus para karyawan serta penunjang pelayanan Rumah Sakit.

Pada tahun 1991, Sr.Melanie diutus ke Tanzania, Afrika. Di sana ia bertugas sebagai Administrator Ndala Hospital yang letaknya di pelosok, sekitar 1000 km dari Dar Es Salaam, Ibu Kota Tanzania. Di manapun bertugas, jiwa kepemimpinan Sr.Melanie nampaknya tetap menonjol. Hal ini diakui oleh para suster yang lain. Sr.Melanie juga dikenal sebagai sosok yang sabar dan pandai dalam bergaul. Karenanya tidak heran bahwa pada Kapitel Umum CB bulan Agustus 1999, Sr.Melanie terpilih sebagai Pemimpin Umum Konggregasi yang berpusat di kota Maastricht ini.

Saat dipilih sebagai Pemimpin Umum, Sr.Melanie mengaku sama sekali tidak bangga atau bahagia. Ia malahan merasa diri kecil, takut dan sedih. Ia juga merasa kurang berpengalaman untuk memimpin para suster tingkat internasional. Konggregasi Carolus Boromeus memang tersebar di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika. Di Indonesia, CB ada di 58 komunitas tersebar di Jawa, Bali, Papua, Flores, Timor hingga Timor Leste. Kendati pada awalnya merasa diri kecil dan takut, nyatanya Sr.Melanie dapat memimpin Konggregasi ini dengan baik. Pada Kapitel Umum tahun 2005, untuk kedua kalinya Sr.Melanie terpilih sebagai Pemimpin Umum hingga tahun 2011 yang akan datang.

Kreatif dan Profesional

Sebagai seorang pemimpin Kongregasi internasional, Sr.Melanie menyadari pentingnya komunikasi yang baik. Untuk itu, penguasaan bahasa menjadi mutlak. Penguasaan bahasa yang baik amat membantu untuk saling mengerti sekaligus mengurangi kemungkinan salah faham. Pengalaman bertugas di Tanzania amat menguntungkannya dalam penguasaan bahasa. Di Tanzania digunakan dua bahasa, yaitu bahasa Swahili dan bahasa Inggris. Sr.Melanie menguasai kedua bahasa tersebut. Di lingkungan suster CB Internasional, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa resmi dalam berkomunikasi. Meski demikian, karena pusat konggregasi ada di kota Maastricht, maka penguasaan bahasa Belandapun diperlukan. Berkat semangat belajarnya yang tak pernah padam, Sr.Melanie dapat juga menguasai bahasa Belanda dengan baik.

Konggregasi CB banyak berkecimpung di bidang kesehatan dan pendidikan. Beberapa Rumah Sakit ternama di Indonesia seperti RS.Borromeus di Bandung, RS.Panti Rapih di Yogya dan RS.Carolus di Jakarta dimulai dan dikelola oleh para suster CB. Demikian juga beberapa sekolah berkualitas seperti Sekolah Tarakanita di Jakarta dan Stella Duce di Yogya, dikelola CB. Di luar Jawa, seperti di Bengkulu dan Lahat, sekolah yang dikelola para suster CB banyak diminati masyarakat. Selain pendidikan dan kesehatan, CB juga berkecimpung di bidang pastoral, sosial dan kategorial lainnya.

Salah satu keprihatinan Sr.Melanie sebagai pemimpin umum adalah berkurangnya panggilan. Jumlah calon anggota dari tahun ke tahun menurun, juga di Indonesia. “Mencermati kenyataan ini, kami harus kreatif, professional dan efisien”, ujar suster yang senang berkebun ini. Di samping itu, peningkatan kualitas hidup religius yang sesuai dengan spiritualitas pendiri Kongregasi, menjadi perhatiannya juga.

Ada banyak tantangan yang harus dihadapi Sr. Melanie sebagai Pemimpin Umum CB. Ia mengaku tak pernah gentar. Pertama karena ia merasa didukung oleh para suster CB di seluruh dunia. Selain itu, ia sendiri mempunyai komitmen kuat atas tugasnya. Di atas segalanya Sr.Melanie mempunyai prinsip, “Asal Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas”. Prinsip ini sesuai dengan semangat pendiri Konggregasi Carolus Borromeus yaitu Elisabeth Gruyters.

Heri Kartono OSC. (Dimuat di majalah HIDUP edisi 5 Juli 2009).

4 comments:

Rosiany T.Chandra said...

Saya amat kagum dengan riwayat perjalanan pengabdian beliau sebagai seorang CB.Tak heran beliau telah terpilih dua kali sebagai pemimpin tertinggi kongregasi CB.Salam hangat dan doa saya untuk anda.Rosiany T.Chandra

triastuti said...

Indahnya kisah hidup panggilan dan pelayanan Rm Melanie,CB ini. Lagian lucu ada kisah dilamarnya juga, hahaha. Makasih banyak ya Romo Heri. Bila Tuhan sudah memanggil, ada saja jalan yang dapat dipakaiNya ya, bahkan melalui peristiwa yang kecil dan sederhana. Dan ternyata peran orangtua sangat besar ya dalam ikut menentukan arah perjalanan hidup anak-anaknya. Orangtua Sr Melanie amat demokratis ya. Semoga kita bisa peka buat menanggapi panggilanNya dalam keseharian hidup. Salut utk Sr Melanie, salam dan doa baginya ya Romo, trimakasih Romo Heri

Ria Dhian said...

hihihi... ternyata biar kata sudah terikat denganNya, selalu ada juga ilalang yg menganggu :)

thanks ya romo... sharing ttg semangat Sr.Melanie untuk selalu setia... (setia kepadaNya & tulus menjalankan profesi nyaaaa...)... PROFICIAT SUSTER!!!

Lucas Nasution said...

curious - waktu dilamar itu sang suster apa pakai baju preman ? atau disana orang tidak tahu bahwa ybs itu biarawati ?