Monday, August 25, 2008

Diana



MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DALAM KEKELAMAN

Tujuh tahun yang lalu, ia harus berjuang menemani suaminya yang terkena penyakit jantung koroner. Tak disangka, kali ini giliran dirinya harus menerima kenyataan divonis menderita penyakit kanker!

Pada saat divonis terkena kanker (21/09/2007), dunia rasanya runtuh, hancur berkeping-keping. Bagi Dianawati Darmawan, vonis kanker ibarat lonceng kematian, tinggal menghitung hari. Sebelumnya, Diana sempat menyaksikan sendiri beberapa rekannya yang terkena kanker, akhirnya meninggal dunia dengan penuh penderitaan.

Seorang sahabat yang mengenal Diana sebagai aktivis yang banyak berkecimpung di lingkungan gereja sempat berkata: ”Diana tidak pantas menerima cobaan seberat itu!”. Diana memang tergolong aktif. Selain sibuk dengan pekerjaannya di bidang akunting, Diana terlibat dalam banyak kegiatan, antara lain sebagai bendahara PGAK paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Buahbatu-Bandung, pengajar sekolah minggu, Koordinator Marriage Encounter paroki bersama suaminya. Diana sendiri tidak pernah menggugat Tuhan namun ia memang mengalami pergolakan batin yang dahsyat. Ia merasa dirinya begitu lemah, tak sanggup harus menjalani semua treatment dengan kekuatan sendiri. Dukungan dari saudara-saudara maupun kawan-kawan dekatnya, tidak mengurangi pergumulan batinnya.

Kesedihan hati Diana bertambah manakala ia melihat anak-anaknya yang masih memerlukan bimbingannya. “Aku sangat sedih memikirkan nasib anak-anak-ku, Vicario 17 tahun, Monica 14 tahun dan si bungsu Axel 11 tahun. Aku tak mau mereka kehilangan kasih sayang seorang ibu”, ujar Diana.

Pantang Menyerah

Kendati shock atas vonis kanker, Diana tidak begitu saja menyerah. Ia mulai mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang segala hal yang berkaitan dengan penyakit tersebut. Ia juga mendatangi dokter-dokter yang dikenal ahli dalam soal kanker untuk konsultasi. Dengan bantuan teman-temannya, Diana menjalin kontak dengan sesama penderita kanker. Ia ingin mengetahui bagaimana pengalaman mereka dalam menyikapi kenyataan pahit tersebut, apa saja yang mereka lakukan.

Dengan beberapa pertimbangan, Diana memutuskan untuk berobat di Rumah Sakit National Cancer Centre, Singapura. Di Singapura pula Diana dioperasi pada 4 Oktober 2007. Sesudahnya ia masih menjalani kemo terapi selama 16 kali serta radio terapi 15 kali. Itu semua membuat badannya menjadi kurus dan rambutnya rontok semua.

Diana melihat bahwa sakit kankernya membuat banyak hal berubah. Perubahan itu tidak saja terjadi pada dirinya semata, melainkan juga pada suami dan anak-anaknya. Kegembiraan keluarga seolah-olah hilang lenyap diganti kemurungan. Suami harus menghabiskan banyak waktu mendampinginya, anak-anak tidak lagi ceria karena melihat mama tercinta sakit parah. Situasi ini tentu saja melukai hatinya. Ia tidak menginginkan hal itu terjadi berlarut-larut. Maka Diana menyarankan suaminya untuk tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Suaminya, Benny Handoyo, adalah juga seorang aktivis. Di lingkungan Gereja, Benny adalah seorang prodiakon dan ketua lingkungan. Di masyarakat, ia Presiden Lions Club Bandung Lestari. Benny juga mempunyai hobi bermain golf. Atas desakan Diana, akhirnya Bennypun kembali menjalankan kegiatan serta kegemarannya lagi. Kenyataan ini ternyata berdampak positif bagi semua pihak.

Menemukan Pencerahan

Ketakutan Diana akan kematian, bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Kecemasan serta ketakutan itu muncul begitu saja. Segala kekalutan itu memuncak pada Natal 2007 yang lalu, saat ia masih dalam pengawasan ketat dokter. Waktu itu, sepulang misa Natal, ia bertanya-tanya dalam hatinya: “Apakah tahun depan aku masih bisa merayakan Natal?”. Memikirkan hal ini hatinya menjadi begitu terpuruk. Iapun menangis sejadi-jadinya.

Saat tangisnya mereda, Diana mengambil rosario dan mulai berdoa dalam keheningan seorang diri. Masih teringat dengan jelas dalam memorinya, saat ia sedang berdoa, ia mendengar sebuah suara yang begitu jelas dan jernih: “Mengapa engkau begitu takut pada kematian? Bukankah kematian berarti pertemuan dengan Bapa di surga? Mengapa pula harus takut pada nasib anak-anak? Seandainya engkau tetap hidup, apakah ada jaminan bahwa anak-anakmu pasti sukses?”.

Diana tersentak mendengar suara itu. Ia seperti disadarkan bahwa kecemasan dan ketakutan yang selama ini menghantuinya, sebenarnya tak beralasan. “Mengapa aku musti mencemaskan sesuatu yang berada di luar jangkauanku? Bukankah pada akhirnya Tuhan Allah juga yang menentukan segalanya?”. Peristiwa tersebut berlangsung hanya dalam hitungan detik. Namun, bagi Diana, tiba-tiba segalanya menjadi jelas. Ada beban berat yang seolah-olah terangkat dari hidupnya. Seketika hatinya menjadi ringan. Sambil mengatupkan kedua tangannya, ia berkata: “Tuhan, seandainya aku akan sembuh dan tetap hidup, aku patut bersyukur. Tapi, seandainya aku harus mati, aku juga tetap bersyukur. Apa yang akan terjadi pada diriku, terjadilah….!”

Sejak saat itu Diana menemukan kembali kegembiraan serta semangat hidup. Ada rasa damai yang mengalir dalam lubuk hatinya. Rasa damai yang melegakannya. Lewat sakit kanker yang harus ia derita, Diana memperoleh pelajaran berharga tentang kebaikan Tuhan. Tak putus-putusnya ia bersyukur dan berterima kasih atas pencerahan yang boleh ia alami. Tuhan sungguh baik adanya.

Ingin Berbuat Banyak

Kegembiraan Diana atas pengalaman rohani yang dialaminya, berdampak besar pada hidupnya. Kemurungan yang menghimpitnya sejak dinyatakan terkena kanker, hilang lenyap. Sebaliknya, Diana merasa terpanggil untuk membagikan kegembiraan itu kepada orang lain, khususnya kepada sesama penderita kanker. Kegembiraan Diana makin bertambah karena ia mendapat dukungan penuh sang suami tercinta.

Sejak saat itu Diana mulai sering menghubungi atau dihubungi penderita kanker, baik untuk saling tukar informasi maupun untuk saling menguatkan. Ia pernah amat terharu dan tertegun ketika ia dikontak oleh seorang penderita kanker yang tak dikenal sebelumnya. Kondisi orang tersebut jauh lebih buruk darinya: keadaan ekonomi yang amat sulit dan anak masih kecil-kecil. Tanpa terasa Diana menitikan air mata melihat keadaan orang tersebut yang memang mengenaskan.

Beberapa kali, Diana juga dikontak orang dari luar negeri. Pernah, seorang dari negeri tetangga yang mengenalnya lewat kerabatnya, menelponnya. Sesudah pembicaraan yang cukup lama, orang tersebut menangis tersedu-sedan. Ia merasa amat bersyukur dan terharu atas kata-kata penghiburan yang ia peroleh dari Diana. Dianapun ikut menangis bersamanya dalam telpon.

Belum lama ini Diana masuk kelompok Bandung Cancer Society, kumpulan penderita serta pemerhati penyakit kanker. Dalam kelompok ini Diana ingin dapat berbuat sesuatu, sekurangnya membagi pengalaman batinnya yang terdalam bagi orang lain.

Dianawati Darmawan masih dalam perawatan dokter. Ia masih memakai rambut palsu, karena rambut aslinya masih belum tumbuh. Tubuh Diana juga masih kurus, belum pulih seperti semula. Kendati demikian, itu semua tidak lagi merisaukannya. Baginya, kegembiraan karena disapa Tuhan melebihi apapun yang pernah dimilikinya.

Heri Kartono, OSC (Dimuat Majalah HIDUP edisi 21 September 2008).

 

 

9 comments:

adn@n said...

a sad story, tapi banyak hal yang bisa kita ambil dan jadikan pelajaran dan panutan. Tuhan Maha Tahu yang terbaik untuk ummat-Nya.

Sampaikan salam saya, pak. Semoga Beliau tetap tabah dan semangat. Never give up dan God bless her.

Heri Kartono said...

Terima kasih atas komentar anda. Saya akan sampaikan salam anda pada Diana.
Salam,
HK.

coconel@hotmail.com said...

Diana,dari awal aku tidak pernah ragu atas ketangguhanmu menghadapi
penyakit ini,baik sejak baru terdeteksi sampai pada akhir treatment.Dan ini sudah terbukti.Aku kagum atas perjuanganmu dan dukungan seluruh keluarga.

Dari sahabatmu,
Sian

Heri Kartono said...

Terima kasih Sian atas dukungannya.
Diana memang hebat, mungkin juga lantaran pernah punya guru hebat hehehe...
HK.

Anonymous said...

Mengharukan sekali, aku kagum atas ketabahan dan semangatmu menghadapi semua itu, Bunda Maria selalu bersamamu dan mempertegar semangatmu hingga terbebas dari segalanya. Keluarga dan teman²mu selalu mendukungmu.

dari
giants@melsa.net.id

Heri Kartono said...

Terima kasih untuk support anda yang simpatik.
Salam,
HK.

Heri Kartono said...

Keterangan Foto:
Diana dan Benny mengapit Uskup Bandung yang baru: Mgr.Johannes Pujasumarta Pr. Mgr.Puja kelahiran Solo, 27 Desember 1949. Ditahbiskan sebagai imam projo keuskupan Agung Semarang 25 Januari 1977. Pernah study Teologi Spiritual di Roma (1983-1987) kemudian juga study Kepemimpinan di Washington (1989-1990). Ditahbiskan sebagai Uskup Bandung pada 16 Juli 2008. Saya mengenal beliau sejak thn 1973 sebagai sub-pamong di Mertoyudan. Ia seorang yang rendah hati dan pekerja keras.

Anonymous said...

pastur, dulu aku murid 'Frater Karton' waktu SMA, sekarang aku ‘bukan siapa2’, bukan aktifis, tidak terkenal, tapi mau ikut dikit cerita:

aku kenal Diana sebagai tetangga dan teman kring yang luar biasa
umur kami beda dikit, tapi karena beliau adalah teman dari kakak sepupu ku, juga sebagai rasa respect ku padanya, jadi aku memanggil nya ‘ci’ Diana

boleh dibilang anak2ku kenal piano dari nya, karena ci Diana yang ajak [sedikit maksa] les piano. bahkan, selama 3 tahunan kami les piano bareng, [kira2 berjarak 30 menit dari rumah, karena saat itu belum ada les piano di sekitar area rumah kami] dan beliau yang selalu tiap minggu jemput anakku untuk berangkat les bersama, PP, tanpa pamrih, ga itungan!

Ruko nya pernah cukup lama kita pakai untuk bina iman anak di kring [waktu itu kita punya murid hampir 200, dan bukan hanya dari kring kita], kita tidak pernah kena omel, padahal pernah ada anak yang tidak kita ketahui menyalakan kran air di lantai paling atas, air membasahi barang2 saat ruko ditinggal selesai kita bina iman, dan baru ketahuan besoknya...

pandangan ku terhadap dunia pendidikan benar2 berubah total setelah ci Diana mengenalkanku pada seorang pakar pendidikan, yang tadinya bekerja sama dengan ci Diana dkk mau merintis sebuah sekolah ‘pendobrak’ di dekat rumah, yang sayangnya tidak terlaksana.

semangat belajar ku, semangat mendidik anak, semangat pelayanan, dan banyak semangat lain juga datang dari nya, terutama lewat cerita2nya mengajar/mendidik/ menghadapi anak2nya & keluarganya.



beliau sering punya kesempatan bepergian, tapi ga perna lupa bawa sedikit oleh2 buat teman2, malah kalau tidak bawa apa2, beliau yang minta2 maaf..

Tuhan sangat baik padanya, pada keluarganya, happy family, sukses, banyak hoki, punya anak2 yang boleh dibilang mendekati genius, sopan & ramah, supel, pokoknya mah bikin iri lah [pastur boleh ga percaya, anak2nya beda sekali dengan teman2 sebayanya, mereka ‘tau’ bagaimana menghormati orang yang lebih tua dari mereka]

menurut suami ku, itu karena mereka baik, jadi Tuhan kasih yang terbaik buat mereka

waktu Ko Benny kena serangan jantung kami sekeluarga berpikir, Tuhan kog kasih yang begitu berat buat Ci Diana & keluarga, betapa kami semua ikut sedih waktu itu.

waktu mereka dapat BMW, kami semua ikut gembira karena Tuhan kasih sedikit 'ganti' kesusahan mereka

Ci Diana kanker kita pikir tidak serius,
kupikir Tuhan ga akan kasih lagi sesuatu yang berat buat mereka, waktu itu kita masih berharap dokter salah diagnosa. waktu doa di rumahnya dia begitu tegar, beda dengan kami teman2nya yang lebih berpikir 'mati aja deh kita kalau dapet kanker mah', beliau hebat, mau tegar, mau hadapi semua yang ada didepannya, luar biasa, malah kita yang banyak menagis, beliau yang menghibur kita!

untuk Ci Diana: Kita percaya, Tuhan tidak pernah salah pilih, Dia pilih Ko Benny & Ci Diana, ada rencanaNya buat kalian, yang membuat kita semakin dan semakin memuliakan namaNya. teruskan, Never give up hope, Tuhan pasti kasih yang terbaik, indah pada waktunya, kita terus berdoa untuk kesehatan Ci Diana & Ko Benny sekeluarga

salam: Howardi & Sophi

Lhielhie said...

Diana memang huebat.Dalam gelap pun,dia masih menyemangati orang lain .Dalam keadaan treatment,dia masih mampu bersosialisasi dengan teman n lingkungannya.GBU always


From:Lhielhie