Sunday, December 13, 2009

Sani Suwanta





Berkat Terus Mengalir..

Sejak duduk di kelas I SMA, Irene Sani Sumawi telah bertaut hati dengan Josephat Suwanta Sinarya, teman karib kakaknya.

Setiap kali Suwanta mengunjungi kakaknya, Sani ikut menemuinya. Dari untaian perjumpaan itu, cinta pun bersemi di hati mereka. Saat itu Suwanta sudah menganut agama Katolik. Sementara Sani belum dibaptis.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya 14 Maret 1982, setelah Suwanta lulus sebagai seorang dokter dan Sani menamatkan studinya di IKIP Jurusan Bahasa Inggris, akhirnya mereka saling menerimakan Sakramen Perkawinan.

Seminggu sebelum menikah, Sani dibaptis menjadi Katolik. Kerinduannya menjadi pengikut Kristus pun akhirnya terwujud……….

Penuh Semangat

Berbekal ijazah IKIP, Sani bekerja sebagai guru bahasa Inggris di SMA St. Maria Cirebon. Dengan bersemangat, ia pun mengajar. Sementara sebagai dokter muda, sang suami bertugas di Ciwaringin, sebuah desa kecil sekitar 25 kilometer dari Kota Cirebon.

Sani pun ikut mendampingi suaminya. Mereka tinggal di sebuah rumah dinas yang serba sederhana. Waktu itu, Ciwaringin adalah sebuah desa yang lengang dan masih belum dialiri listrik. Penerangan di desa itu umumnya diperoleh dari petromaks, tak terkecuali rumah keluarga dokter Suwanta.

Setiap hari Sani harus pergi-pulang mengajar di Kota Cirebon. Meski aktivitasnya relatif padat, ia melakukannya dengan gembira. Ia bahagia bisa melebur di antara murid-muridnya.

Meski kesehariannya senantiasa sibuk, Sani tak kunjung putus merindukan kehadiran anak. Seiring waktu, kecemasan mulai menyergapnya karena tanda-tanda kehamilan tak kunjung datang. Padahal, usia perkawinan mereka sudah menginjak tahun ketiga.

Sesuai saran beberapa kerabatnya, dengan berat hati Sani berhenti mengajar. Ia berusaha untuk tidak kelelahan dan menjaga kesehatannya dengan seksama. Semua itu ia lakukan demi keinginannya memperoleh momongan.

Suwanta, sang suami, ikut berupaya secara maksimal. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan medis, akhirnya diketahui ada kekurangan pada Sani dan Suwanta. Mereka pun berobat ke pelbagai tempat, antara lain ke Surabaya dan Jakarta.

Sebuah tim dari Universitas Indonesia yang terdiri dari lima dokter dibentuk untuk membantu pasangan muda ini. Nyatanya, semua usaha yang mereka tempuh tidak membuahkan hasil sebagaimana mereka dambakan. Sani tetap tak kunjung mengandung.

Sani pun dirundung stres hingga ia mengidap penyakit asma. Ia sempat terpukul ketika mendengar seorang kerabatnya menyebut dirinya gabug (bahasa Cirebon, artinya mandul).

Syukurlah, meski tak mempunyai keturunan, Sani dan Suwanta tetap saling mencintai. Kendati demikian, sebagai suami-istri, ada saat-saat di mana mereka tidak sepaham. Pertengkaran pun tak terhindarkan. Pada saat-saat demikian, Sani sungguh merasa sendirian.

Dalam hati, ia sering berkata, “Jika aku memiliki anak, tentu aku dapat bermain-main dengan anakku dan tidak merasa sendirian seperti ini!” Keluh-kesah serta permohonan senantiasa ia lambungkan ke hadirat-Nya, terutama di tengah keheningan malam.

Yang terbaik

Sani bersyukur, keluarganya maupun keluarga sang suami tidak menuntut mereka harus memiliki keturunan. Sikap mereka itu melegakan batinnya. Perlahan-lahan Sani belajar menerima kenyataan bahwa perkawinannya memang tidak dikaruniai anak.

“Perkawinan tidak mutlak harus mempunyai keturunan. Tuhan memberi yang terbaik bagi kami,” begitu Sani kerap meyakinkan diri.

Tahun 1991, Sani bersama Suwanta mengikuti Seminar Hidup Baru dalam Roh. Melalui acara tersebut, mereka memperoleh kesegaran rohani. Sejak itu, perlahan-lahan Sani mulai melibatkan diri dalam aktivitas Gereja. Sani aktif di Stasi Jamblang dan di Paroki St. Joseph, Cirebon.

Nyatanya, dari hari ke hari, aktivitas Sani di lingkunagn Gereja semakin bertambah. Saat ini, ada beberapa kegiatan yang ia geluti secara rutin. Selama dua periode, ia dipercaya sebagai Koordinator Karismatik Paroki St. Joseph, Cirebon. Ia juga menjadi penanggung jawab toko paroki, aktif di seksi liturgi, menjadi penggerak Stasi Jamblang dan terlibat dalam sejumlah kegiatan insidental lainnya.

Karena Sani begitu aktif di lingkungan Gereja, suaminya pun berseloroh, “San, kamu aktif sekali di Gereja, mestinya kamu kos saja di Gereja!” Gelak tawa Sani pun pecah menanggapi komentar Suwanta.

Menemukan jawaban

Dari serangkaian permenungannya, Sani menemukan jawaban mengapa dirinya aktif di lingkungan Gereja. Pertama, ia merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu demi Gereja. Kedua, ia mendapat dukungan penuh dari sang suami. “Bagi saya, persetujuan dan dukungan suami penting sekali artinya,” ujar Sani dengan logat Cirebon yang kental.

Selain itu, ia mengaku aktif di gereja karena ingin sedikit membalas kasih Tuhan. Sani memang patut bersyukur kepada Tuhan. Karier suaminya sebagai dokter melesat. Saat ini, selain menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Waled Cirebon, Suwanta berhasil membangun sebuah rumah sakit pribadi bernama RS Sumber Waras di Ciwaringin. Sementara Sani mempunyai usaha apotik yang terbilang maju.

Dengan kian terlibat di lingkungan Gereja, Sani kian merasakan kebaikan Tuhan. Banyak hal tak terduga ia alami. Semisal, ketika ia menjadi Ketua Pembangunan Gereja Stasi Jamblang (2001-2002). Saat mengalami kesulitan dana, tiba-tiba muncul seorang bapak dari Jakarta yang menyumbang semen yang dibutuhkan.

Lewat mimpinya, bapak ini mendapat pesan untuk membantu pembangunan Gereja Stasi Jamblang. “Padahal, saya tidak tahu menahu di mana letak Stasi Jamblang,” ujar bapak yang murah hati itu. Beberapa kali kejadian semacam itu terjadi, membuat Sani terheran-heran sekaligus makin percaya bahwa Tuhan sungguh baik.

Sejak aktif di lingkungan Gereja, Sani merasa lebih tenang dan pasrah. “Dulu, kalau bepergian, saya tak bisa tenang karena terus memikirkan usaha saya. Sekarang saya dapat mempercayakan usaha saya kepada orang lain dan saya dapat bepergian dengan nyaman,” tutur wanita yang gemar melancong ke luar negeri ini.

Isu Miring

Tidak selamanya berkarya di lingkungan Gereja menyenangkan Sani. Ia pernah merasakan pengalaman getir, ketika dirinya difitnah menyalahgunakan dana Gereja. Peristiwa itu terjadi saat Sani sedang giat membangun Gereja Stasi Jamblang.

Pada saat bersamaan, Sani memang sedang membangun apotik dan rumah pribadi. Sementara insinyur yang membangun rumah Sani juga membantu pembangunan gereja. Kondisi ini sempat memunculkan isu miring dari sekelompok orang. “Saya dan suami saya merasa terkejut dan terpukul ketika fitnah itu sampai di telinga kami,” ujar Sani mengenang pengalaman pahitnya itu.

Pastor J. Widyasuhardjo OSC yang menjadi pastor parokinya saat itu, mengetahui bahwa isu tersebut sama sekali tidak benar. “Justru Ibu Sani bersama Pak Suwanta bekerja keras mencari dana. Bahkan, tak jarang mereka mengeluarkan dana dari kantong pribadi. Soalnya, paroki hanya memberi dana 10% saja dari anggaran keseluruhan. Sisanya dicari oleh panitia pembangunan,” tutur pastor yang kini bertugas di Paroki St Monika, Serpong, Tangerang ini.

Menurut Pastor Widya, Sani tergolong orang yang amat teliti di bidang keuangan. “Laporan keuangannya selalu rapih dan terinci sampai hal-hal kecil,” kenang pastor yang murah senyum ini. Pastor Widya menilai Sani sebagai sosok yang murah hati dan peduli pada kebutuhan Gereja.

“Pastor Blessing OSC, Penanggung Jawab Stasi Jamblang yang sudah sepuh, pernah diantar berobat mata ke Singapur, bahkan diajak berziarah ke Yerusalem atas biaya keluarga Ibu Sani,” tambah Pastor Widya.

Padre Pio

Di usia menjelang 50 tahun, Sani makin menyadari segala yang ia peroleh adalah anugerah Tuhan. Termasuk seisi keluarganya yang mengikuti jejaknya menjadi Katolik. “Yang terakhir menjadi Katolik adalah papi,” ujar wanita kelahiran Cirebon, 3 November 1957 ini terharu.

Belum lama ini, Sani bersama Suwanta berkunjung ke San Giovanni Rotondo Italia, tempat Padre Pio berkarya semasa hidupnya. Sebelumnya, mereka memang sangat terkesan pada kisah Padre Pio, imam Kapusin yang telah menyembuhkan banyak orang.

Dengan berjalannya waktu, Sani makin merasakan kebaikan Tuhan. Meski ia dan sang suami tak memperoleh keturunan, banyak berkat mengalir dalam hidupnya………

Heri Kartono, OSC (Dimuat di majalah HIDUP edisi 4 Maret 2007).

3 comments:

Rosiany said...

Tulisan ini mampu menggugah pasutri lainnya untuk turut mensyukuri berkat anugerah yang diperoleh dalam pernikahan masing-masing,entah itu apapun wujudnya.Kisah ini juga bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi pasutri untuk 'menemukan' kembali pasangannya yang tak jauh2 keberadaannya!Angkat topi untuk bu Sani dan pak Suwanta.Salam hormat dari Sian dan Andy

triastuti said...

Romo Heri yang terkasih, trimakasih buat kisah Ibu Sani dan Pak Suwanta yang romantis ini, karena selalu melibatkan Tuhan dan bergantung kepada Tuhan, Sang Sumber Keromantisan utama dalam hidup suami istri, dengan atau tanpa anak-anak. Teriring doa dan salam untuk Ibu Sani dan pak Suwanta, semoga cara hidup yg telah membuahkan banyak berkat indah bagi sesama dan Tuhan itu menjadi bunga-bunga yg selalu menyegarkan kehidupan perkawinan berdua bersama Yesus.

Lucas Nasution said...

bapak yang mimpi itu apa bernama yosep :)