Monday, December 14, 2009

Maria Ch. Pudji Suhartini



SEMPAT DICEMOOH DAN DICURIGAI

Menjadi saksi Kristus tidak harus pergi ke ujung dunia. Kita dapat bersaksi di lingkungan sekitar kita. Itulah yang dilakukan Maria Ch. Pudji Suhartini (55). Niat baiknya untuk membantu anak-anak terlantar tetap ia jalankan kendati sempat dicemooh, dicurigai bahkan dimata-matai.

Setiap kali ia keluar rumah, ia melihat banyak anak-anak berkeliaran di jalanan tak jauh dari tempat kediamannya. Beberapa di antara mereka tergolong masih amat kecil. “Jadilah terang dunia. Jadilah garam dunia dimanapun kamu berada”, begitu teriang-ngiang kotbah pastor di parokinya saat Pudji melihat kumpulan anak-anak jalanan tersebut. Sebagai seorang kristiani, sekaligus pendidik, hatinya tergerak untuk berbuat sesuatu.

Berawal dari Permen Coklat

Suatu sore, berbekal sekantung permen coklat, Pudji seorang diri mendekati anak-anak jalanan di perempatan jalan Terusan Pasteur, Bandung. Permen coklat yang dibawanya itu ia tawarkan pada kawanan anak-anak yang sedang bergerombol. Dalam waktu singkat, habislah permen-permen di tangannya. Setelah menerima permen, anak-anak itupun langsung berlalu. Beberapa di antara mereka sempat mengucapkan terima kasih. Keesokan harinya, Pudji melakukan hal yang sama. Anak-anak datang dan menerima permen namun segera pergi meninggalkannya.

Pada hari ketiga, sesudah membagi-bagi permen, Pudji mencoba berdialog dengan mereka. Ada satu-dua anak yang mau diajak berbicara. Mungkin mereka mengharapkan pemberian lebih darinya. Sesudah beberapa saat, Pudji menawarkan diri untuk memberi bimbingan belajar. Tak lupa, Pudji menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang guru. Rupanya ada beberapa anak yang tertarik dan bersedia mendapat pelajaran darinya.

Di ujung perempatan jalan, ada sebuah “gardu polisi” yang sedang dibangun. Bagian dasar gardu tersebut telah selesai disemen. Di tempat inilah pelajaran membaca, menulis dan berhitung dimulai (Januari 2004). Awalnya hanya sebagian kecil anak yang mengikutinya. Hari-hari selanjutnya semakin banyak anak yang ikut bergabung. Untuk menciptakan suasana gembira, sekali-kali Pudji mengajak ‘anak asuhnya’ menyanyikan lagu bersama-sama.

Lokasi Pudji mengajar, hanya beberapa ratus meter dengan kampus Universitas Kristen Maranatha. Kebetulan ada sejumlah mahasiswa Maranatha yang sedang membutuhkan penelitian anak jalanan untuk bahan skripsi mereka. Mahasiswa-mahasiswa ini kemudian bergabung membantu Pudji. Adanya para mahasiswa yang bersedia membantu makin memberi semangat Pudji sekaligus makin menghidupkan suasana. Tidak heran bahwa dari hari ke hari jumlah anak yang ikut bergabung makin banyak.

Beberapa anak memiliki semangat besar namun tak memiliki fasilitas. Buku dan alat tulispun mereka tak mampu membeli. Pudjipun tanpa pikir panjang merogoh koceknya untuk membantu mereka. Ketika jumlah anak yang ikut belajar makin besar, maka dibutuhkan dana yang lebih besar pula, terutama untuk alat tulis. Untunglah para mahasiswa Maranatha tergerak untuk ikut mencarikan dana. Pudji sendiri mendapat seorang sponsor yang bersedia membantu kegiatannya.

Dicemooh dan Dicurigai

Ketika gardu selesai dibangun dan mulai digunakan oleh polisi, maka Pudjipun kehilangan tempat mengajar. Kebetulan, pada saat yang sama, para mahasiswa Maranatha telah selesai juga dengan penelitian mereka. Adapun anak-anak sendiri masih bersemangat untuk mengikuti bimbingan. Melihat minat belajar anak-anak yang amat besar, Pudji akhirnya memutuskan menggunakan garasi di rumahnya sebagai tempat belajar (September 2005). Semula Euphrasius Budiyono, suami Pudji keberatan. Alasannya, kegiatan yang dilakukan istrinya dapat mengundang kecurigaan masyarakat sekitar. Maklumlah, Pudji sekeluarga beragama Katolik sementara hampir seluruh anak beragama Islam. Namun, melihat keteguhan hati sang istri, akhirnya Budiyonopun menyerah. Bahkan, setiap saat, Budiyono ikut membantu dengan mengeluarkan mobil dari garasi dan mengatur meja-kursi tempat bimbingan belajar anak-anak.

Sesudah kegiatan pengajaran berlangsung beberapa minggu, reaksipun mulai bermunculan. Warga Katolik sendiri umumnya merasa cemas dan tidak mendukung kegiatan Pudji. Bahkan, Pudji pernah difitnah dan dicemooh sebagai pahlawan kesiangan. “Saya sampai takut untuk ikut kegiatan di lingkungan sendiri”, ujar wanita kelahiran Yogyakarta ini sambil meneteskan air mata. Kegiatan Pudji sempat juga dicurigai oleh beberapa tokoh Islam. Pudji merasa selama pengajaran, selalu ada orang yang mondar-mandir di luar. “Nampaknya ada yang memata-matai kegiatan saya”, kenang Pudji. Kendati mendapat pelbagai reaksi negatif, Pudji tetap meneruskan kegiatannya. Ia amat bersyukur bahwa suami dan keempat anaknya mendukung aktivitasnya. Stefani, anak Pudji yang ketiga bahkan ikut membantu mengajar.

Anak-anak yang ikut pengajaran makin hari makin bertambah hingga mencapai 100 anak. Atas beberapa pertimbangan, Pudji akhirnya lebih memusatkan pada anak-anak usia dini, yaitu antara usia 2 hingga 6 tahun. Pudji tidak hanya mengajarkan calistung (baca-tulis dan berhitung) namun juga sopan santun dan tata krama pergaulan. Pudji merasa bersyukur bahwa anak-anak didiknya berubah menjadi santun, tidak lagi mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sedikit yang menjadi juara di sekolahnya.

Diakui Masyarakat

Adanya perubahan pada diri anak-anak dilihat juga oleh orang tua mereka. Tentu saja para orang tua menjadi gembira melihat anak-anak mereka menjadi pandai dalam pelajaran dan santun dalam pergaulan. “Saya sangat terharu ketika seorang tokoh masyarakat yang sebelumnya selalu menaruh curiga, akhirnya mengirim juga anaknya ikut bimbingan belajar”, papar Pudji dengan suara bergetar.

Pernah, pak Lurah bersama rombongan ibu-ibu PKK datang khusus menemui Pudji. Mereka menyatakan dukungannya sambil meminta Pudji untuk tetap melanjutkan bimbingan belajarnya. Pudji juga merasa gembira karena ada 5 wanita, semuanya beragama Islam, yang bersedia membantunya. Sebelumnya Pudji sempat dibantu muda-mudi Katolik dari paroki Pandu. Namun mereka tidak bertahan lama menghadapi tingkah anak-anak jalanan.

Untuk menyelenggarakan bimbingan belajar, diperlukan dana yang tidak sedikit. Biaya terutama dibutuhkan untuk membeli alat-alat tulis bagi anak-anak yang tidak mampu. Hal ini merisaukan hati Pudji. Penghasilannya sebagai Kepala TK Indriyasana tidaklah seberapa. Demikianpun tidak banyak donatur yang berminat membantu aktivitasnya. Suatu hari, dengan memberanikan diri, Pudji menemui pastor Agustinus Sudarno OSC, pastor parokinya. Pudji menceriterakan kegiatan yang dilakukannya sambil juga membeberkan kesulitan yang dihadapinya. Di luar dugaan, pastor paroki menaruh perhatian besar dan membantu sepenuhnya kegiatan Pudji. Sejak saat itu kegiatan menjadi makin teratur dan anak-anak yang tak mampu mendapat bantuan seperlunya.

Pada tanggal 3 Juli 2008, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, Pudji beserta anak asuhnya diundang Dinas Pendidikan ke Gubernuran. Pudji beserta anak-anak asuhnya diterima Dede Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Barat. Nampaknya Dede Yusuf amat terkesan atas kegiatan yang dilakukan Pudji. Bagi Pudji sendiri, undangan ke Gubernuran atas prakarsa Dinas Pendidikan ini merupakan pengakuan sekaligus penghargaan atas jerih payahnya selama ini.

Pudji memang patut bersyukur. Niat baiknya untuk membantu anak-anak terlantar tanpa membedakan agama, suku maupun status sosial akhirnya mendapat pengakuan. Maria Ch. Pudji Suhartini telah sungguh menjadi Terang dan Garam Dunia bagi masyarakat di mana ia tinggal.

Heri Kartono, OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 3 Januari 2010).

4 comments:

triastuti said...

Sungguh bersyukur mengikuti kiprah Ibu Pudji yang sangat terpuji dan tak kenal putus asa demi kebaikan anak-anak walau harus mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi. Selamat dan doa untuk Ibu Pudji, yang telah mempersembahkan talenta mengajar dan kepeduliannya sepenuh-penuhnya kepada Tuhan dan sesama sehingga terangNya bersinar melalui Ibu Pudji

Lucas Nasution said...

saya yakin ibu guru ini masuk orang yang paling beruntung - karena mengerjakan apa yang disukai dan dapat pahala pula :)

Rosiany said...

Nama Pudji memang nama yang pas dengan pelayanan ibu yang terpuji.Tidak banyak orang yg mau peduli dengan anak anak yang kurang beruntung ini.Paling2 jika pas berhenti di lampu merah,hanya uang receh yg diberikan.Padahal yang dibutuhkan mereka adalah kasih sayang yang telah ditunjukkan bu Pudji.Saya amat bangga dengan ibu!

Anonymous said...

Oh ..saya pernah dengar tentang Ibu ini, cuma dari segi negatif dari tabloid islami (Sabilli) dengan tuduhan pemurtadan

CMIIW (Correct Me If I Wrong)