Sunday, January 3, 2010

Anna Sri Harti Sunaryo


NDILALAH…SELALU ADA REJEKI!

Dunia serasa kiamat ketika suaminya dipanggil Tuhan secara tiba-tiba. Sri merasa amat kehilangan, tambahan lagi ia juga bingung bagaimana harus menghidupi 8 anaknya yang masih kecil-kecil….

Sri yang berasal dari Purworejo, menikah pada usia 17 tahun. Suaminya, Sunaryo adalah seorang polisi. Ia adalah anak tunggal dari seorang haji. Keluarga Sri sendiri adalah penganut aliran kepercayaan atau Kejawen. Sri adalah anak ke delapan dari 12 bersaudara. Empat kakak Sri menjadi Katolik karena dimasukan orang tua ke asrama Katolik di Mendut dan Muntilan. Sri sering melihat kakaknya berdoa rosario. Diam-diam Sri tertarik untuk mengikuti jejak kakak-kakaknya.

Sesudah menikah, keinginan untuk masuk Katolik tetap tersimpan di dalam hatinya. Pada suatu hari, ketika Sri belum lama melahirkan anaknya yang keempat, ia menyampaikan keinginannya untuk masuk Katolik. Di luar dugaan, Sunaryo, sang suami tidak menghalanginya. Dengan hati gembira Sri mendaftarkan diri menjadi katekumen di paroki terdekat, yaitu paroki St.Paulus, Bandung. Waktu itu suaminya sendiri mengantarkannya ke gereja. Sripun dibaptis setelah genap satu tahun mengikuti pelajaran agama (1959). Sejak saat itu ia mulai rajin berdoa dan pergi ke gereja.

Selang hanya beberapa bulan sesudah Sri dibaptis, Sunaryo, suaminya, menyatakan diri ingin masuk katolik juga. Tentu saja Sri amat berbunga-bunga hatinya. Sri tak pernah mengajak suaminya untuk masuk Katolik. Keinginan Sunaryo untuk masuk Katolik adalah murni keluar dari hatinya sendiri. Sunaryopun mengikuti pelajaran agama dan dibaptis di paroki yang sama.

Dunia Serasa Kiamat

Pada tahun 1974, Sunaryo diangkat sebagai Kapolres Kota Cirebon. Sebagai istri seorang Kepala Polisi, Sri mempunyai peranan khusus di lingkungan kepolisian, khususnya dalam kegiatan bhayangkari. Sri sekeluarga amat betah tinggal di kota udang ini.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Peribahasa ini dialami Sri dalam kenyataan hidupnya. Kegembiraannya tinggal di kota Cirebon tak berlangsung selamanya. Pada tanggal 21 Desember 1980 terjadi musibah yang membuat hidupnya berubah total. Pada hari itu suaminya meninggal dunia secara mendadak dalam suatu kecelakaan lalu lintas. Sri yang amat mencintai suaminya, merasa amat terpukul. Baginya seolah-olah dunia kiamat. Ia sulit menerima kenyataan bahwa suaminya tidak ada lagi bersamanya. Persoalan lain muncul. Delapan anaknya masih kecil-kecil. Anak yang paling kecil baru berusia 9 tahun sementara si sulung masih kuliah. “Bagaimana saya harus menghidupi mereka? Saya tidak tahu mencari uang!”, kenang Sri dengan nada haru.

Untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya, uang pensiun dari suaminya jelas tidak memadai sama sekali. Padahal, Sri bercita-cita untuk menyekolahkan semua anaknya hingga ke perguruan tinggi. Sripun mulai menjual barang-barang miliknya mulai dari piano, meja-kursi hingga segala yang bisa dijual. Ketika barang-barang telah habis terjual, Sripun mulai mencoba macam-macam usaha, antara lain menerima pesanan makanan, menyewakan kamar untuk kost dll. Sri bekerja keras untuk dapat membesarkan dan menyekolahkan semua anaknya. “Ibu memang memiliki semangat yang luar biasa dan pantang menyerah!”, ujar Prasetyo salah satu anaknya.

Pada malam hari, ketika anak-anaknya telah tidur, Sri sering meratap dan berdoa seorang diri. “Tuhan, bantulah saya supaya mampu membesarkan anak-anak. Jangan biarkan saya dan anak-anak terlantar. Saya berjanji, kalau tugas saya membesarkan mereka telah selesai, saya akan membaktikan hidup dan waktu saya untuk gereja”, begitulah selalu ratapan dan doa Sri.

Rupanya Tuhan mendengarkan doa Sri yang dipanjatkan dari lubuk hati yang terdalam. Buktinya, Sri selalu saja mendapat rejeki. Kadang-kadang rejeki itu tak terduga-duga datangnya. “Kalau dipikir-pikir, saya tidak tahu dari mana rejeki itu datang. Ndilalah selalu saja rejeki datang pada waktunya”, ujar Sri penuh syukur. Sebagai contoh, suatu saat Sri sedang membutuhkan dana yang cukup besar. Saat ia sedang kebingungan, tiba-tiba datang seorang kenalan yang memesan 400 dus nasi. “Tuhan membantu dengan cara yang tak terduga!”, tutur Sri penuh keyakinan.

Seperti kata anaknya, Sri memang wanita yang pantang menyerah. Cita-citanya untuk menyekolahkan anak-anaknya terpenuhi. Kedelapan anaknya dapat menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi. Tidak hanya itu. Semua anaknya mendapat pekerjaan yang relatif cepat dan baik. “Semua anak saya menikah sesudah mereka mampu mencari nafkah sendiri”, ujar wanita yang terlihat sehat di usia 75 tahun ini.

Mengabdi Tuhan di usia Senja.

Kini Sri tinggal seorang diri. Semua anaknya telah pergi dengan istri atau suaminya masing-masing. Tugasnya telah selesai. Sri menikmati hasil kerja kerasnya di masa lalu. Ia tak perlu lagi membanting tulang karena semua kebutuhannya telah tercukupi. Tidak hanya itu, berkat kebaikan anak-anaknya, Sri sempat tiga kali berziarah ke Lourdes dan ke Tanah Suci, Israel.

Sri tak melupakan janjinya kepada Tuhan yang sering ia ucapkan dalam doa-doanya. Sejak anak-anaknya telah dewasa dan mandiri, Sri menghabiskan banyak waktunya untuk gereja. Ia secara rutin pergi ke gereja, paroki Bunda Maria Cirebon. Sri juga ikut Legio Maria dan aktif menghias gereja. Tak jarang Sri juga membantu kegiatan yang berkaitan dengan gereja dengan kekayaan yang ia miliki. “Mobil saya kerap digunakan untuk keperluan gereja”, ujar Sri.

Sri merasa bahwa Tuhan sungguh amat baik. Ia yakin bahwa karena bantuan Tuhanlah ia mampu membesarkan anak-anaknya. Sebagai tanda syukur, ia membuat sebuah Gua Maria kecil di belakang rumahnya. Gua Maria ini diberkati oleh pastor MA. Yuwono OSC, pastor yang kerap datang mengunjunginya.

Di depan Gua Maria ini Sri kerap berdoa, mensyukuri anugerah serta kemurahan Allah dalam hidupnya.

Heri Kartono, OSC (dimuat di Majalah HIDUP edisi 14 Februari 2010).

3 comments:

Rosiany said...

Tuhan tak pernah melupakan janjiNYA pada kita.Segala kerja keras pasti akan diberkatiNYA,jika kita berada dekat padaNYA.

triastuti said...

Terimakasih Rm Heri atas kisah yang indah perjalanan hidup Ibu Sri bersama Tuhan. Bagaikan kisah seorang santa yg setia berjuang bersama Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dg segala perjuangannya. Kesederhanaan, kepasrahan yang diiringi ikhtiar yang teguh, menyatakan iman ibu Sri yang dalam, bahwa Tuhan memegang kendali atas semuanya. Terimakasih atas teladannya Ibu Sri, yang membuat kasih Tuhan sungguh nyata bagi kita semua

Lucas Nasution said...

Sri merasa bahwa Tuhan sungguh amat baik

pertanyaan: Allah yang tidak baik - apakah ini mungkin ? by definition : Allah itu ya baik

nuwun