Monday, January 12, 2009

Basilika St.Maria dei Angeli Assisi.


CIKAL BAKAL FRANSISKAN

Basilika Santa Maria dei Angeli (Maria para malaikat) adalah gereja yang terletak di kaki bukit Assisi. Basilika ini dibangun antara tahun 1569 hingga 1679 melingkupi gereja kecil, Porziuncola, tempat paling suci bagi para biarawan Fransiskan. Di tempat inilah Santo Fransiskus dahulu menyadari panggilan hidupnya, hidup dalam kemiskinan sekaligus memulai gerakan Fransiskan. Bagaimana sejarah dibangunnya basilika yang termasuk tujuh gereja terbesar ini?

Sesudah Fransiskus meninggal, 3 Oktober 1226, para pengikutnya membangun pondok-pondok di sekitar Porziuncola. Dalam perjalanan waktu, semakin banyak peziarah yang datang ke Porziuncola ini. Porziuncola yang sempit tak bisa lagi menampung banyaknya orang yang datang. Perlu dibangun sebuah gereja besar yang menyatu dengan Porziuncola. Untuk membangun gereja besar, maka bangunan-bangunan di sekitar tempat suci Porziuncola dirobohkan, atas perintah Paus Pius V (1566-1572). Kapel Transito, tempat dahulu Fransiskus meninggal dunia, tetap dipertahankan. Pembangunan basilika dimulai pada tanggal 25 Maret 1569.

Dua arsitek ternama masa itu, Galeazzo Alessi dan Vignola merancang basilika bersejarah ini. Pembangunan basilika ini amat lamban karena kekurangan dana. Maklum, dana hanya mengandalkan sumbangan para dermawan. Pembangunan baru selesai penuh pada tahun 1679, lebih dari 100 tahun. Panjang basilika 126 meter, lebar 65 meter dan tinggi kubah 75 meter. Pada tahun 1684 ditambahkan sebuah menara lonceng. Sebenarnya dirancang lonceng kembar namun lonceng kedua tak pernah sempat dibangun.

Dalam sebuah gempa kuat, sebagian basilika rusak parah. Itu terjadi pada tanggal 15 Maret 1832. Perbaikan dimulai pada tahun 1836 dengan arsitek Luigi Poletti. Renovasi selesai pada tahun 1840. Sebuah patung Madonna degli Angeli (Maria para Malaikat) yang berlapis emas diletakkan di bagian atas gereja pada tahun 1930. Patung ini dibuat oleh Colasanti.

Hingga kini basilika St. Maria dei Angeli masih tetap dikunjungi peziarah. Orang datang tidak sekedar untuk mengagumi bangunan namun lebih-lebih untuk meresapkan teladan santo Fransiskus yang tetap dikagumi hingga kini.                 

Heri Kartono,OSC (ditulis untuk peserta Ziarah RS.St.Boromeus Bandung. Foto: Hendra & drg.Tina).

4 comments:

Lilian said...

Terima kasih untuk tulisan Rm. Secara pengetahuan bertambah, dan terlebih menyadarkan kita bahwa banyak hal yang bernilai memang perlu waktu. Bangunan ini perlu 110thn (1569 - 1679), wow... 2 generasi.

Anonymous said...

Romo, apa 'syarat' yang membuat sebuah gereja disebut basilika?

Ada berapa basilika gereja Katolik di dunia ini?

Salam,
Cosmas
Jakarta

Heri Kartono said...

Mas Cosmas, saya jawab secara singkat saja.
Kata Basilica (Latin) aslinya berasal dari kata Yunani. Dalam arti aslinya (sebelum masehi), basilica berarti bangunan umum (yang megah) seperti misalnya Gedung Pengadilan.
Sesudah agama Kristiani menjadi agama resmi kekaisaran Romawi, kata basilica digunakan untuk menyebut gedung gereja megah khususnya yang biasa digunakan oleh Paus.
Dalam perkembangannya, gereja Katedral juga sering disebut Basilica.
Ada berapa basilika di dunia? Saya tidak temukan info tentang itu. Mungkin saking banyaknya!
Salam,
HK

Lucas Nasution said...

saya jadi ingat buku pagan christianity http://www.paganchristianity.org/
disana saya di ingatkan bahwa Yesus menantang orang untuk meruntuhkan bait ALLAH.
menurut buku itu kristianitas awal tidak memiliki tempat suci, rumah ibadah permanen, dsb
setelah jadi AGAMA institusional lah maka muncul rumah ibadah permanen [meniru umat Yahudi atau kaum pagan]
dan kita lantas sibuk membenahi rumah-rumah TUHAN ini
dan kadang lupa bahwa rumah yang terlalu bagus jadi bikin orang miskin jadi rikuh...