Tuesday, January 27, 2009

Pertemuan Internasional Sant'Egidio


JANGAN TAKUT BERMIMPI!

Seorang wanita asal Rwanda menceriterakan betapa sulit baginya untuk mempraktekkan soal pengampunan dan perdamaian. Tak bisa dilupakan bagaimana kedua orang tua serta sanak-saudaranya dibantai secara keji dalam kerusuhan antar etnis yang terjadi di negerinya. Dengan bantuan rekan-rekan komunitasnya, akhirnya ia tidak hanya mampu memaafkan para pembunuh keluarganya namun ia sendiri menjadi aktifis perdamaian yang gigih.

Kisah tersebut diceriterakan dalam acara sharing Pertemuan Internasional kelompok Sant’ Egidio (Roma, 10-24 Januari 2009). Hadir 130 peserta dari 30 negara. Dari Indonesia hadir 7 orang, yaitu perwakilan dari wilayah Jakarta, Yogya serta wilayah Timor. Pertemuan ini diselenggarakan dalam rangkaian peringatan 40 tahun berdirinya kelompok Sant’ Egidio.

Jangan Takut Bermimpi

Pertemuan yang berlangsung selama dua minggu penuh, diisi dengan pelbagai ceramah serta sharing peserta. Salah satu pembicara utama adalah Prof. Andrea Riccardi, pendiri Sant’ Egidio. Dalam ceramahnya ia memaparkan kembali sejarah berdirinya Sant’ Egidio. Andrea memulai kelompok ini bersama beberapa rekannya pada tahun 1968 di Roma. Pada saat itu Andrea masih duduk di bangku SMA. Secara rutin Andrea dkk berkumpul untuk berdoa, membaca Kitab Suci dan menolong kaum miskin di wilayah kumuh pinggiran kota Roma. Kelompok ini disebut Sant’ Egidio karena menggunakan gereja Santo Egidio di kawasan Trastevere, Roma, sebagai tempat mereka berkumpul. Kini anggota Sant’ Egidio tersebar di  70 negara.

“Empat puluh tahun yang lalu, tak terpikirkan bahwa kelompok Sant’ Egidio akan berkembang seperti sekarang. Apa yang dahulu hanya sebatas mimpi, ternyata dapat diwujudkan. Karenanya, janganlah takut untuk bermimpi!”, ujar Andrea sebagaimana dikisahkan oleh Ign. Teguh Budiono, peserta asal Jakarta.

Penceramah lain adalah Marco Impagliazzo, presiden kelompok Sant’ Egidio. Marco mengingatkan para peserta pentingnya mempertahankan spiritualitas dan semangat asli Sant’ Egidio. Marco menjelaskan dengan suatu perbandingan. “Peninggalan Fransiskus Assisi hingga kini masih tersimpan di kota Assisi. Namun spiritualitas serta jiwa Fransiskus tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sejak Fransiskus masih hidup (1182-1226) hingga kini, semangatnya tetap terpelihara dengan baik”, jelas Marco.

Prisca Nuriati atau biasa dipanggil Cing, peserta dari Indonesia, mengaku tergugah dengan ceramah Marco. Ia setuju bahwa semua anggota Sant’ Egidio harus tetap setia memelihara jiwa dan cita-cita pendiri kendati kondisi dan situasi setiap komunitas berbeda-beda. “Dengan cara demikian, regenerasi dapat terjamin dengan baik”, tutur Cing.

Sant’ Egidio tidak hanya membantu kaum miskin, namun memiliki banyak kegiatan lain. Salah satunya adalah mempromosikan perdamaian serta dialog antar agama. Pertemuan tokoh-tokoh agama 1986 di Asisi yang diprakarsai oleh Paus Yohanes Paulus II masih diteruskan dari tahun ke tahun oleh Komunitas Sant’ Egidio hingga kini. Usaha lain yang giat dilakukan kelompok ini adalah kampanye anti hukuman mati di seluruh dunia serta usaha pemberantasan penyakit Aids.

Sant’ Egidio di Indonesia

Di Indonesia kelompok Sant’ Egidio saat ini ada di Padang, Pekanbaru, Jakarta, Semarang,  Yogya,  Medan, Kupang dan Atambua. Kegiatan utama yang selalu dilakukan adalah doa dan mendengarkan Sabda Tuhan dari Kitab Suci. Di samping itu, kelompok ini rajin mengadakan pelbagai pelayanan untuk orang miskin seperti: mengirim makanan kepada gelandangan, sekolah informal untuk anak-anak jalanan, membantu lansia. Secara Nasional, kelompok Sant’ Egidio Indonesia pernah mengadakan beberapa kali pertemuan.

Dr. Valeria, pengurus Sant’ Egidio pusat, secara khusus memperhatikan perkembangan kelompok ini di wilayah Asia Timur termasuk Indonesia. “Saya sudah lebih dari 10 kali berkunjung ke Indonesia”, ujar Valeria dalam bahasa Indonesia. Menurut Valeria, kontak dengan para anggota terus dilakukan lewat surat berkala dan Website resmi yang dipublikasikan dalam pelbagai bahasa.

Banyak peserta menganggap Pertemuan Internasional Sant’ Egidio amat berharga dalam hidup mereka. “Kami bagaikan para rasul yang bertemu Yesus di gunung Tabor. Kami mendapat pencerahan dan kesegaran. Kini, tiba saatnya kami turun gunung untuk mengamalkan apa yang kami peroleh di sini”, ujar Ign. Teguh Budiono mewakili rekan-rekannya dari Indonesia. (Foto: Peserta dari Indonesia bersama Dr.Valeria Martano dan beberapa anggota Sant'Egidio asal Indonesia yang tinggal di Roma). 

Heri Kartono, OSC (Dimuat di Majalah HIDUP, edisi 15 Februari 2009).

 

4 comments:

Lucas Nasution said...

ia tidak hanya mampu memaafkan para pembunuh keluarganya namun ia sendiri menjadi aktifis perdamaian yang gigih.

pengalaman "titik balik" macam ini banyak kita baca dalam memoar banyak tokoh. Seolah sebelumnya ia "tertidur" lelap, menjalani rutinitas hidup.
disatu sisi pembelajaran yang bisa aku ambil adalah : setiap saat bisa saja hidup hendak mengajarmu sesuatu yang penting- maka selalu bersiaplah - and you will survive.
Mungkin yang jadi soal adalah bagaimana tetap tenang saat "pelajaran" sedang berlangsung.
Ibarat kapal menerjang badai - bagaimana tetap tenang dan mengarahkan mata ke mercusuar sayup-sayup nun disana.

Devie said...

Terima kasih sharing ceritanya, Romo Heri. Semoga teman-teman yang hadir di Roma bisa mensharingkan juga pengalaman berharga dan "ilmu" yang mereka dapat kepada teman-teman di Indonesia, sehingga damai-Nya dan kasih-Nya bisa dibagikan dan dirasakan dimana-mana. Viva Sant'Egidio!

Eleonora Situmorang said...

Romo Heri, secara isi dan gaya bahasa cukup satu kata: Proficiat! Keren abiesss....aku suka isinya, sangat informatif, seolah menyeret orang lain untuk terpesona akan kebersahajaan komunitas ini. Sebagai salah satu orang yang diundang "khusus" untuk masuk dalam pesona komunitas, saya sangat berharap bahwa komunitas ini semakin utuh sebagai sarana perpanjangan kasih Allah bagi manusia. Bahwa berbuat baik adalah dari hati dan bukan karena apresiasi yang diharap dari orang lain. Semoga komunitas ini semakin bernas untuk berkarya nyata di Indonesia, terutama. Thanks untuk bagi-bagi pengalamannya ya, Mo...
Sampai jumpa di Roma ya, Mo. Tapi, kalau mau ketemuan di Jakarta ya...monggo toh yo! Proficiat!

Lilian said...

Betapa Bapa senang melihat anak-anakNya yang berusaha saling menolong satu sama lain dan berpegangan tangan dalam hidup ini. Apakah kelompok ini mempunya milis untuk mulai tahu lebih banyak ?

Terima kasih, Rm.