Tuesday, October 6, 2009

Sejarah OSC


PERNAH NYARIS PUNAH

Ketika Perang Salib sedang berkecamuk, lahirlah Ordo Salib Suci atau OSC (Ordo Sanctae Crucis). Ordo yang tergolong tua ini sebenarnya memiliki nama lengkap yang lumayan panjang, yaitu Ordo Sanctae Crucis Canonicorum Regularum Sub Regula S. Agustini. Pendiri ordo ini adalah Theodorus de Celles, seorang ksatria Perang Salib. Theodorus adalah anak bangsawan dari Belgia. Sekitar tahun 1210, Theodorus bersama rekan-rekannya memulai kehidupan membiara dengan mengacu pada cara hidup umat kristiani awal: hidup bersama sehati-sejiwa tertuju pada Allah. Itulah cikal bakal lahirnya OSC. Pada tahun 1211 Theodorus dkk mendirikan biara Clair-Lieu di Belgia Selatan. Lokasi biara pertama OSC ini hingga kini masih kerap dikunjungi.

OSC semakin berkembang dan diakui resmi oleh Paus Innocentius IV pada 23 Oktober tahun 1248. Perkembangan terutama di Eropa Barat seperti Belgia, Belanda, Jerman, Austria, Perancis.

Gereja, sempat mengalami beberapa gempuran badai seperti gelombang reformasi, sekularisasi dan Revolusi Perancis. Tak ketinggalan, OSC juga mengalami gempuran yang sama. Banyak biara OSC ditutup karena pelbagai kesulitan, termasuk karena berkurangnya anggota. Pada tahun 1840, anggota OSC hanya tinggal empat orang saja. OSC nyaris punah!

Beruntung, dalam situasi sulit OSC memiliki H. van den Wijmelenberg, seorang pemimpin yang cemerlang. Di bawah kepemimpinan Wijmelenberg-lah, Ordo ini pelan-pelan bangkit dan berkembang lagi dengan cepat. Pada awal abad ke 20, OSC mulai melebarkan sayapnya ke pelbagai penjuru dunia termasuk Indonesia. Perkembangan baru ini membawa konsekuensi masalah identitas Ordo yang hingga kini menjadi perbincangan serius. Sebab, di wilayaj misi, OSC umumnya tidak tinggal dalam suatu komunitas normatif.

Pemimpin Umum OSC yang sekarang adalah Mgr. Dr.Glen Lewandowski, O.S.C. Pada Kapitel Jenderal yang lalu, Mgr.Glen terpilih kembali sebagai Magister Jenderal OSC periode 2009-2015. Glen Lewandowski adalah Magister General OSC yang ke-57. Ia lahir di Minnesota (Amerika Serikat) pada tahun 1947 dan menjalani pendidikan awal di seminari OSC, Onamia (Minnesota), dan di Universitas St. John, Collegeville (Minnesota). Ia mengucapkan kaul dalam Ordo Salib Suci pada tanggal 28 Agustus 1970.

Glen menempuh pendidikan teologi di Fort Wayne (Indiana) dan di universitas St. John, Collegeville. Setelah ditahbiskan pada tahun 1974 kemudian menjalani pastoral di salah satu paroki OSC di keuskupan Agung Detroit. Tidak lama kemudian ia meneruskan studinya dibidang teologi di Universitas Chicago dimana ia memperoleh gelar doktor bidang Kitab Suci.

Tidak lama setelah lulus sebagai doktor bidang Kitab Suci, Glen berkarya sebagai dosen di fakultas teologi STFT Abepura, Papua, Indonesia. Selama 22 tahun berkarya di Papua, ia menjabat juga sebagai pimpinan OSC di Papua.

Di Roma, Mgr. Glen sangat aktif dalam The Union of Superior General (perkumpulan para pimpinan tarekat/Ordo) sebagai Dewan Eksekutif. Mgr. Glen juga ditunjuk oleh Paus Benediktus XVI sebagai salah satu bapak sinode ketika sinode uskup-uskup yang lalu tentang sabda Allah.

Heri Kartono (dimuat di majalah HIDUP edisi 18 Oktober 2009).

3 comments:

triastuti said...

Kalau saja di setiap kesulitan hidup, kita tetap teguh berharap spt Romo Wijmelenberg dan dalam setiap kegalauan dan cobaan, kita bisa teteup keukeuh mencari yang murni spt Romo Theodorus, pasti hidup ini akan baik-baik saja ya Mo dan malahan makin diperkaya. Teriring doaku untuk OSC dan segenap tantangan yang masih harus dihadapi, Tuhan Yesus pasti memberi jalan keluar yang terbaik. Semoga OSC terus berkembang dan bertahan mengarungi jaman. amin.

Rosiany said...

"Starting afresh from The Place of Light" saya kira satu starting point yang amat bagus.Saya melihat kehidupan bersama dalam satu komunitas yang dipelihara dapat membawa dampak yang baik bagi semangat iman pelayanan itu sendiri maupun untuk memperkokoh keakraban antar anggota.Liturgi yang boleh dialami bersama setiap hari dapat membangun kebersamaan yang saling mendukung dan saling mengisi.
Tentunya perlu disiapkan langkah2 awal menuju "Starting afresh from the Place of Light"...

Lucas Nasution said...

Selama 22 tahun berkarya di Papua, ia menjabat juga sebagai pimpinan OSC di Papua.

semoga pengalaman yang 22 thn itu jadi bekal dan modal untuk membuat sebuah pembaruan yang serieus