Monday, September 21, 2009

Mocellin Mirko






MENGGUGAT TUHAN

Mocellin Mirko mengalami bahwa hidup itu indah dan amat menyenangkan. Namun keberuntungan tidak selamanya berpihak padanya. Dua peristiwa dahsyat telah mengguncang ketentraman hidupnya. Ia bahkan sempat menggugat Tuhan.

Masa-masa Manis

Mocellin Mirko adalah pemuda tampan, berbadan tinggi dan tegap. Pembawaannya yang supel dan ramah membuat ia mudah disukai orang. Marina Bianchin, gadis manis dan periang adalah pacar Mirko. Keduanya bekerja di Rumah Sakit Umum Bassano del Grappa, Italia Utara. Marina bekerja sebagai perawat sementara Mirko sebagai pengemudi ambulans. Karena sering bertemu di tempat kerja itulah mereka saling jatuh cinta.

Sesudah berpacaran selama beberapa tahun, merekapun menikah (03/10/87). Setelah menikah, pengantin baru ini memilih berbulan madu ke Indonesia. Mereka tertarik Indonesia karena kerap mendengar tentang negeri ini dari sahabat mereka, seorang Imam Indonesia. Mirko dan Marina menghabiskan waktu satu bulan penuh menjelajah Jawa, Bali dan Sulawesi. Tak lupa, mereka juga pergi ke Brebes, mengunjungi orang tua sahabat mereka itu. Seluruh perjalanan bulan madu ini mereka abadikan dalam bentuk foto dan slides. Mereka menyimpannya hingga saat ini sebagai kenangan yang manis.

Mirko dan Marina dikaruniai 3 anak yang sehat yaitu Giada, Yuri dan Devis. Mereka hidup rukun dan bahagia. Secara rutin mereka mengadakan acara bersama seperti menikmati liburan atau pergi ke gereja bersama. Keluarga ini memang dikenal aktif di lingkungan Gereja. Marina tercatat sebagai anggota Koor paroki sementara anak-anak aktif sebagai misdinar.

Mirko dan Marina sadar betul bahwa contoh orang tua dalam hal pendidikan agama adalah amat penting, terutama bagi pertumbuhan iman anak-anak mereka. Karenanya, pada kesempatan istimewa seperti Pembaptisan, Komuni Pertama serta Krisma ketiga anaknya, mereka menyiapkannya dengan sungguh-sungguh. Kebetulan pihak paroki juga menaruh perhatian serius pada ketiga acara penting tsb. Bagi Mirko dan Marina, hidup terasa amat manis. Segalanya berjalan dengan begitu baiknya. Mereka memiliki rumah sendiri dengan taman dan garasi mobil.

Mimpi Buruk

Ibarat roda yang berputar, hidup tidak selamanya berjalan mulus dan menyenangkan. Demikian juga dengan kehidupan Mirko sekeluarga.

Setiap tahun Mirko sekeluarga mengadakan acara liburan bersama. Pada tahun 2001, mereka memutuskan untuk berlibur ke Kroasia. Merekapun berangkat dengan hati riang gembira. Liburan selalu menjadi saat-saat yang membahagiakan baik bagi Mirko, Marina maupun anak-anak.

Hari pertama di Kroasia, tanggal 1 September 2001, Mirko sekeluarga mengunjungi sebuah taman rekreasi yang luas dan indah. Di tempat ini disediakan kuda-kuda sewaan untuk para turis. Mirko menyewa 5 kuda untuk dirinya, istri serta ketiga anaknya. Selama hampir satu jam mereka menikmati keindahan taman sambil mengendarai kuda masing-masing.

Pada suatu saat, entah mengapa, kuda yang ditunggangi Marina menjadi liar. Kuda ini meringkik keras, melompat-lompat liar dan kabur dengan kecepatan tinggi. Marina terlempar dari atas kuda dan langsung pingsan. Celakanya, kuda-kuda yang lain menjadi terkejut dan semuanya melakukan hal yang sama. Mirko, Giada dan Yuri terlempar dari kuda. Tak ada yang terluka serius. Nasib buruk menimpa Devis. Si bungsu ini sempat terlempar namun kaki kanannya tersangkut pada bechel, lingkaran pengait kaki. Kuda berlari kencang, menyeret Devis dengan posisi kepala di bawah. Tak ayal lagi sepanjang beberapa ratus meter, kepala Devis membentur tanah, batu dan tersepak kaki belakang kuda. Akibatnya mengerikan. Tengkorak kepala Devis retak, bagian dahi robek dan yang paling memilukan, bola mata kiri Devis keluar dari tempatnya.

Semua orang tak sampai hati melihat wajah Devis. Mirko yang menyaksikan kondisi anaknya yang luar biasa memilukan, mengaku saat itu menggugat Tuhan dengan geram. “Tuhan, apa salah kami? Dan mengapa harus menimpa si kecil yang bahkan belum mengenal dosa?”, gugat Mirko.

Devis segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Dokter mengatakan bahwa nasib Devis ditentukan dalam 48 jam pertama. Selama menunggu Devis, Marina tak henti-hentinya berdoa di luar ruang operasi. “Bunda Maria, tolong anak kami. Seandainya engkau menyelamatkan Devis, aku berjanji akan berterima kasih dengan berjalan kaki ke Vicenza!”, ujar Marina dalam doanya. Di Vicenza terdapat gua Maria tempat orang berziarah. Adapun jarak Bassano ke Vicenza sekitar 50 Km.

Nasib baik masih berpihak pada Devis. Selama dua tahun, Devis menjalani tiga kali operasi serta pelbagai perawatan khusus. Berangsur-angsur Devis sembuh kembali. Mata kirinya juga dapat berfungsi seperti sedia kala. Semua orang menganggap kesembuhan Devis sebagai suatu mukjijat. Marina ditemani Mirko memenuhi janjinya kepada Bunda Maria, berjalan kaki dari Bassano menuju Vicenza. Mereka berangkat jam 11 malam dan tiba di Vicenza jam 10 pagi. Peziarahan dengan jalan kaki ini mereka ulangi hingga tiga kali. Mirko dan Marina memang amat bersyukur atas kesembuhan Devis yang mereka cintai.

Cobaan Masih Berlanjut

Dengan sembuhnya Devis, kehidupan normal kembali mewarnai keluarga Mirko. Canda tawa mulai terdengar kembali seperti sedia kala. Namun, itu hanya berlangsung beberapa tahun saja.

Tanggal 15 Agustus 2007, Mirko membonceng Devis bepergian ke gunung, tak jauh dari rumah mereka. Pada saat pulang, rem motor tiba-tiba blong, tak berfungsi. Karena jalanan menurun tajam, tak ayal lagi motorpun meluncur dengan derasnya. Di depan mereka melaju sebuah mobil dengan kecepatan sedang. Mirko berfikir, motor akan melaju makin kencang. Seandainya jatuh ke sebelah kanan, akan fatal karena masuk jurang. Maka, satu-satunya jalan untuk menghentikan adalah dengan cara menabrakkan diri. Untuk melindungi anak bungsunya, dengan sengaja Mirko ‘memasang’ kaki kanannya sebagai tameng. Akibatnya luar biasa. Lutut kanan Mirko hancur dan tulang kakinya patah di dua tempat. Devis juga menderita patah kaki, tergencet antara motor dan mobil.

Selama beberapa bulan Mirko dan Devis harus menjalani perawatan intensif. “Kasihan, istri saya Marina sempat stress. Ia harus merawat kami berdua, sementara ia sendiri tetap bekerja dan mengurus rumah sekaligus. Selain itu, keuangan kami juga kocar-kacir karena peristiwa ini”, tutur Mirko.

Pertengahan Agustus yang lalu, Mirko menjalani operasi untuk kedua kalinya. Dua minggu sesudahnya, ia sudah mulai berjalan kaki dengan bantuan tongkat.

Dua peristiwa dahsyat telah mengguncang kehidupan Mirko sekeluarga. Mirko mengaku amat berat menanggung pengalaman pahit itu. Namun, ia juga mengaku bahwa peristiwa tersebut tidak memadamkan imannya kepada Tuhan. Sebaliknya, pengalaman getir itu membuatnya makin berserah pada Tuhan. “Betapa rapuhnya hidup kita manusia. Betapa segala sesuatu dapat berubah dalam sekejap. Hanya kepada Tuhan kami dapat menyerahkan hidup kami”, ujar Mirko. Marina, yang duduk di sampingnya, mengangguk-anggukan kepala, menyetujui ucapan suaminya. (Foto: Mirko dengan istri dan anak-anaknya).

Heri Kartono OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 1 Nopember 2009).

8 comments:

Rosiany T.Chandra said...

'Untung tak dapat diraih,malang tak dapat ditolak',peribahasa ini rasanya pas untuk menggambarkan situasi yang ada.Kuda memang tetap hewan peliharaan dengan insting binatang bagi pertahanan dirinya.Kita tidak bisa memprediksi sebelumnya.Cerita yang mengundang simpati dan mengharukan!

triastuti said...

Romo Heri, sungguh luar biasa perjuangan dan keteguhan iman keluarga Mirko dan Marina ya. Kisah yg Romo uraikan dengan indah ini menunjukkan bagaimana cinta itu dipraktekkan, bukan sekedar diomongkan atau menjadi wacana. Dan kalau cinta sudah berupa praktek, bukan hanya bahasa lisan/tulisan, oh dahsyat ya Mo, karena melibatkan pengorbanan yang begitu besar, dan keberanian untuk tetap mencintai Allah sekalipun merasa pahit dan menggugat pada awalnya. Sungguh penderitaan hidup membuat manusia menjadi lebih manusiawi lagi, menjadi utuh, sempurna, seperti Bapa sendiri sempurna adanya. Kesempatan untuk mengalami sendiri dg nyata betapa Dia adalah setia. Trimakasih Romo Heri atas kisahnya yg indah.

Lucas Nasution said...

(berhubung lagi giat membaca buddhisme) - derita dan kesulitan adalah bagian instrinsik dari hidup. Tidak ada yang bisa digugat dan sebaliknya tidak ada 'masalah' juga - kata orang perancis: c'est la vie.
Apakah setelah menjadi kristen orang lantas dibebaskan dari derita dan kesulitan ? Yesus saja mengalami derita.
konon kata buddhisme - no need to struggle, yang perlu dibuat 'melihat' sebagaimana adanya
bagaimana ini dipraktekan ? wah, saya masih perlu belajar lebih lanjut ttg buddhisme

salam

panjibudi said...

Terima kasih Romo Heri ....

sisca soedarmono said...

Trima kasih ya Romo...sudah membukakan pintu mata hatiku untuk bisa melihat dan merasakan, bahwa beban dan penderitaan yang saat ini tengah kurasakan, tidaklah sebanding dengan kesulitan keluarga Mirko pernah rasakan dan alami. Mereka masih tetap 'setia' mengaitkan iman mereka padaNya, dan tetap selalu bisa bersyukur atas warna kehidupan yang telah diberikan Allah pada keluarga mereka. Semoga saya bisa mencontoh sikap pasrah mereka ya Mo...

georginamita said...

Rm Heri,ini cerita yg 'dasyat' seremnya, tidak bisa membayangkan hal2 spt ini bisa terjadi,kita gak pernah tau akan terjadi apa , hari demi hari, iman kita selalu diuji,selain berdoa dan berusaha, kita mmg harus berpasrah kpd Nya, makasih ceritanya Mo

vincencius Rahmat said...

Good story and very touch,love, expectancy,believe,very good study. Springing up like this is to make us progressively adult, thank of romo Heri for story which so nicely really make me marvel.

Anonymous said...

Good story and very touch, love, expectancy, believe, very good study. Springing up like, this is to make us progressively adult, thank romo Heri for story which so. Nicely really make me marvel.