Sunday, October 5, 2008

Agustina Prasetyo


SULITNYA MENGERTI JALAN TUHAN

Sejak kecil, ia mengalami kerasnya kehidupan. Ketika hidup mulai membaik, ia kembali ditimpa kemalangan yang amat pahit. Suaminya meninggal dan ia harus berjuang lagi sendirian dan dalam himpitan ekonomi yang menyesakkan. Namun, ia tak pernah menyerah pada nasib.

Pada suatu hari minggu seorang kawan mengajaknya pergi ke gereja. Ketika ayahnya tahu bahwa ia pergi ke gereja, ayah begitu marah. “Ayah menghukum aku tidak boleh keluar dari rumah pada hari minggu”, kenang Agustina Prasetyo. Peristiwa tersebut terjadi saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tina adalah anak tunggal. Ayahnya keturunan Tionghoa, tidak memiliki agama. Sementara ibunya, keturunan Jawa, hanya mengenal ajaran-ajaran kejawen. 

Kendati orang tua melarangnya pergi ke gereja, Tina tetap mengikuti pelajaran agama katolik dengan diam-diam di sekolahnya. Ia memang mengenal dan tertarik pada agama katolik lewat sekolahnya. Saat lulus SMP, Tina masih belum mendapat kesempatan juga untuk dibaptis. Di SMA, ia meneruskan pelajaran agama dengan tekun. Ia berharap, suatu saat ada jalan yang memungkinkannya untuk dibaptis. Jalan itu terbuka lebar ketika ayahnya menderita penyakit kulit yang aneh. Penyakit itu berawal dari borok kecil di kepala kemudian merambah ke seluruh tubuh. Pada saat ayah dirawat di Rumah Sakit, sekelompok pendoa kristiani datang dan mendoakannya. Rupanya ayah begitu tersentuh oleh doa tersebut. Sejak itu, ayah tidak lagi melarangnya pergi ke Gereja. Tina kemudian dibaptis masuk Katolik, setelah lebih dahulu ibunya dibaptis. Ayah juga pada akhirnya dibaptis masuk katolik.

Bermimpi Melihat Dunia

Salah satu kemampuan Tina yang menonjol sejak di bangku SMP adalah bahasa Inggris. Dengan kemampuan bahasanya itu, ia banyak membaca kisah-kisah dari luar negeri. “Sejak itu aku bermimpi untuk bisa menjelajah ke negeri lain!”, papar Tina. Baginya, keinginan untuk pergi ke luar negeri adalah benar-benar bagaikan sebuah mimpi. Bagaimana tidak? Karena penyakit ayah yang tak kunjung sembuh, ayah tak mampu lagi bekerja. Akibatnya, kondisi ekonomi keluarga menjadi berantakan. “Jangankan untuk pergi ke luar negeri, untuk hidup sehari-haripun sudah sulit, bahkan rumahpun kami tak punya”, kenang Tina. 

“Keadaan keuangan begitu terpuruk, tak ada biaya untuk meneruskan sekolah. Ibu membuka warung makan kecil-kecilan. Aku sendiri mencari uang dengan cara memberi kursus bahasa Inggris pada adik-adik kelasku. Itu tidak cukup. Untunglah para tanteku bermurah hati membantu pembiayaan sekolahku hingga tamat SMA”, lanjut penggemar traveling ini.

Setamat SMA, Tina melanjutkan kuliah di sebuah Akademi Bahasa Asing di kotanya, Semarang. Hal itu terjadi atas bantuan salah seorang paman-nya. Pada saat kuliah itulah, suatu hari Tina melihat pengumuman tentang program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada. Dengan polos dan tanpa persiapan apapun, Tina mengikuti tes seleksi. Ternyata ia lulus dan berhak mewakili Jawa Tengah pergi ke Kanada. Peristiwa tersebut amat bersejarah dalam perjalanan hidupnya. “Bagaimana tidak? Itulah pertama kali aku keluar dari kota Semarang, pertama kali naik Kereta Api, pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan pertama kali ke Luar Negeri!”, kisah Tina dengan senyum khasnya.

Kepergiannya ke Kanada ternyata membawa pelbagai keberuntungan sesudahnya. Hidupnya seakan mengalir amat mulus, serba menyenangkan. Sepulang dari Kanada, Tina mendapat kesempatan lagi pergi ke luar negeri. Kali ini ke Australia melalui program Lions Club. Sesudah itu, ia masih sekali lagi ke Kanada sebagai Project Leader. Yang paling membahagiakan adalah saat ia bertemu seorang pemuda bernama Aswan Prasetyo yang kemudian menjadi suaminya. Tina amat beruntung memiliki suami yang setia, jujur dan lembut hati. Di luar kesibukannya, Tina masih sempat kuliah lagi, yaitu di Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata hingga tamat.

Cobaan yang Menyesakkan

Roda keberuntungan nampaknya belum berpihak pada Tina selamanya. Tahun 1997 menjadi titik balik segalanya. Saat itu timbul krisis ekonomi. Kantor tempat suami bekerja terkena imbasnya. Banyak terjadi aksi demo di kantor yang memiliki lebih dari 10.000 karyawan tersebut. Situasi kerja yang tak menentu membuat Aswan Prasetyo, sang suami, mulai diliputi stres.  Kondisi tersebut rupanya mempengaruhi juga kesehatan fisiknya. 

Pada suatu sore, secara kebetulan Tina mengamati bahwa kuku tangan suaminya membiru. Menurut dokter, sang suami mengalami kekurangan oksigen dan harus segera mendapat perawatan. Aswan kemudian dirawat di RS. Telogorejo, Semarang. Seminggu di Rumah Sakit, tidak membawa perubahan apapun juga. Karenanya diputuskan untuk membawa Aswan pulang, dirawat di rumah.

Suatu hari, sebuah kabar datang dari Jakarta. Ibu Aswan dirawat di Rumah Sakit Mitra dan kondisinya amat parah, tinggal menghitung hari saja. Mendengar ini, Aswan kendati sakit, memaksa diri untuk pergi ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Aswan bukannya menengok ibu melainkan dilarikan ke RS di Pondok Indah karena kondisinya yang melemah. Beberapa hari kemudian Aswan dipindahkan ke RS Harapan Kita.

Kakak Aswan yang berprofesi dokter, berusaha mengetahui persis penyakit Aswan. Ia mengirimkan data-data penyakit Aswan ke Singapura. Ternyata, menurut analisa dokter di Singapura, Aswan menderita penyakit kanker paru-paru. Padahal, selama ini yang dideteksi adalah jantung! Pemberitahuan tentang penyakit Aswan datangnya terlambat. Kondisi Aswan kala itu sudah amat lemah. Aswan masih dipindahkan sekali lagi ke Rumah Sakit lain, yaitu RS. Pelni. Saat itu juga Aswan langsung masuk ruang ICU. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Aswan meninggal dunia di ruang ICU. Ia pergi hanya selang beberapa jam setelah ibunya juga meninggal di tempat terpisah. Tina amat terpukul menyaksikan Aswan, suaminya pergi untuk selamanya. “Aku diam…aku marah…aku kecewa…karena Aswan lebih mencintai maminya daripada aku…dia pergi bersama maminya pada hari yang sama!”, papar Tina tentang perasaannya saat itu.

Bahtera rumah tangga yang telah dibangun bersama, kini hancur sudah. “Aku telah memberikan separuh dari jiwa ragaku kepada Aswan, suamiku. Aku nyaris tak memiliki tenaga lagi untuk mengayuh serpihan bahtera yang tersisa. Aku harus berjuang keras, berpikir realistis terhadap situasi baru yang harus aku hadapi”, ujar Tina terbata-bata. Dalam keputus asaan, Tina menggugat Tuhan. “Apa salah dan dosaku sehingga aku harus menanggung cobaan seberat ini?”. Betapa sulitnya mengerti jalan Tuhan bagi Tina saat itu.

Kemarahan kepada Tuhan atas nasib hidup yang dideritanya, mulai luluh saat Tina mengikuti retret di pertapaan Karmel Malang. Lewat permenungan yang mendalam, Tina kembali diyakinkan bahwa Tuhan Yesus tak akan pernah meninggalkannya sendirian.

Banyak Jalan ke Roma

Tidak enak menjadi seorang janda muda. Waktu itu usia Tina 34 tahun. Ia berusaha menjaga citra diri serta membatasi lingkungan pergaulan. Nyaris ia hanya beranjak dari rumah, kantor dan sekolah anaknya, Nathalie Prasetyo. Kendati demikian, tetap saja selalu ada orang yang usil, berniat mengganggu kehidupannya.

Saudara serta sahabat-sahabat Tina menganjurkan agar ia menikah lagi. Kesempatan itu datang saat tanpa sengaja ia berkenalan dengan Davide Magini, seorang pria Italia. Perkenalan itu sendiri terjadi lewat internet. “Saat melihat fotonya di internet, aku tahu, dia adalah jodohku”, tutur Tina. Hubungannya dengan Davide sebenarnya nyaris mustahil. Selain dipisahkan oleh jarak,  perbedaan budaya serta latar belakang yang menyolok, kesulitan paling besar adalah masalah komunikasi. Davide hanya mengerti bahasa Italia sementara Tina bahasa Inggris. Meski demikian, segala kesulitan itu pada akhirnya menjadi suatu batu ujian yang kokoh sebelum keduanya sepakat untuk menikah (29/12/2000). 

Sesudah menikah, Tina menetap di sebuah kota kecil, tidak jauh dari Roma. Kebahagiaan Tina menjadi lengkap dengan lahirnya Nicolas, buah cintanya dengan Davide. Kesulitan hidup tetap muncul di sana-sini. Meski demikian, Tina kini merasa lebih nyaman. Ia yakin bahwa Tuhan tak meninggalkannya, apalagi kini ia memiliki Davide yang senantiasa mendampinginya.

Heri Kartono OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 2 Nopember 2008).

 

10 comments:

Rosiany T.Chandra said...

Menyentuh hati,dus membawa ke pintu baru ber label:"pengharapan yang tak pernah sirna".Hidup tetap bergulir sejalan gelora yang diletakkan diatas pengharapan tsb.

Salam manissss,
Sian

Diana Darmawan said...

Saya sangat terkesan dengan perjuangan Ibu Tina untuk mewujudkan mimpinya. Dari pengalaman hidupnya saya jg belajar dalam situasi hidup yang sangat sulit, kalau kita bersandar pada Tuhan,Dia pasti buka jalan.
Pastor, sampaikan salam saya untuk Ibu Tina.
Rgds,
Diana

Heri Kartono said...

Perjuangan hidup mbak Tina memang hebat, makanya aku tulis hehehe..
Trims atas komentarnya ya.
HK.

kicauanburung said...

wah..salute buat Kanjeng Romo, nulisnya makin ocreee..... Salam juga buat Ibu Tina, sekarang beliau dah bisa dong ngomong Itali..he3

Heri Kartono said...

Mbak Tina memang sudah pinter bahasa Italia tapi mas Davide tetep aja nggak bisa bahasa Indonesia. Anak-anaknya juga lebih terbiasa bahasa Italia, lha wong hidup dan sekolah di Roma..
HK.

Anonymous said...

Mbak Sian, mbak Diana, Rm Heri dan Kicauan Burung (he..he..he..) terimakasih atas komentarnya, koreksi dikit dariku atas komentar Rm Heri bahwa anak2ku tidak hanya bisa bhs Italy tapi juga bahasa Indonesia lho :)

Salam
Tina

Domi Hodo said...

Hallo,

Mantap sekali ceritera reflektif ini. Terimakasih atas upaya menghadirkannya di web ini dan di majalah HIDUP. Terimakasih juga untuk Emba Tina yang mensharingkan pengalaman hidup yang kaya dengan airmata kesedihan dan kegembiraan ini.
Tuhan senantiasa memandang dan memperhatikan kehidupan anak-anak-Nya.
Dominus vobiscum!

Domi Hodo

Heri Kartono said...

Terima kasih Pater Domi atas support-nya.
Kapan kita menulis bersama lagi?
Salam,
HK.

Lucas Nasution said...

“Saat melihat fotonya di internet, aku tahu, dia adalah jodohku”

I am speechless

Lucas Nasution said...

“Saat melihat fotonya di internet, aku tahu, dia adalah jodohku”

....I am speechless