Thursday, January 1, 2009

Hari Perdamaian 2009.



KONFLIK GAZA WARNAI HARI PERDAMAIAN

Serangan brutal Israel ke Gaza menjelang akhir tahun (dimulai 27/12/08) mengagetkan banyak orang. Meski berdalih membalas serangan roket yang ditembakkan dari Gaza, tak urung tindakan Israel yang menewaskan lebih 350 korban jiwa ini menuai kecaman dari pelbagai penjuru dunia. Pawai Damai yang berlangsung di Roma (01/01/09) amat diwarnai tragedi di Gaza ini.

Hentikan Kekerasan

Paus Benediktus XVI adalah salah satu pemimpin dunia yang langsung mengecam tindakan brutal Israel. Sesudah doa Angelus (28/12/08) Paus menyerukan penghentian tindak kekerasan di Tanah Suci. Paus juga meminta komunitas internasional untuk melakukan apapun yang mungkin guna membantu menemukan jalan keluar dari konflik antara Israel dan Palestina. “Saya amat berduka atas jatuhnya korban jiwa, luka-luka maupun harta, atas penderitaan serta air mata para korban serangan balasan yang tragis dan berulang kali”, ujar Paus. Lebih lanjut Paus berkata: “Negeri asal Yesus tak bisa terus menerus menyaksikan pertumpahan darah semacam itu tanpa henti. Saya meminta agar kekerasan dihentikan dan agar gencatan senjata di Jalur Gaza diberlakukan kembali”, tegas Paus di hadapan ribuan umat yang mendengarkan di lapangan Santo Petrus, Vatikan.

Dalam kotbah misa Hari Raya Maria Bunda Allah (01/01/09) kembali Paus menyinggung masalah Gaza. Ia berharap agar komunitas internasional mengajukan usulan konkrit bagi terciptanya perdamaian antara Israel dan Palestina. Pada saat yang sama Paus berdoa agar kekerasan di Gaza dapat segera diakhiri.

Bulan Mei mendatang, Paus dijadwalkan akan berkunjung ke Israel. Banyak pihak menduga bahwa Paus akan membatalkan perjalanannya ke Israel akibat konflik yang sedang terjadi. Atas spekulasi tersebut, juru bicara Vatikan, Federico Lombardi menyatakan: “Jelaslah bahwa Vatikan mengikuti situasi yang sedang terjadi. Namun masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa kejadian tersebut menjadi faktor penentu”, jelas Lombardi sebagaimana dikutip pelbagai media massa (29/12/08).

Sementara itu, Kardinal Walter Kasper, yang bertanggung jawab atas hubungan dengan Israel mengingatkan perlunya kunjungan Paus ke Israel. Hubungan Vatikan dengan Israel banyak diwarnai ketegangan serta prasangka buruk. Pada Paskah yang lalu misalnya, doa bagi orang Yahudi yang diucapkan pada hari raya tersebut dituding sebagai seruan pertobatan bagi mereka. Selain itu, orang Yahudi masih menganggap bahwa Gereja Katolik, khususnya Paus Pius XII tidak berbuat banyak pada masa penganiayaan jaman Hitler. “Saya yakin bahwa kunjungan Paus ke Tanah Suci akan dapat menghapus prasangka buruk yang mewarnai hubungan kami dengan kaum Yahudi”, ujar Kasper kepada surat kabar L’Osservatore Romano (31/12/08). Kunjungan terakhir ke Israel dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 2000.

Perangi Kemiskinan Untuk Ciptakan Perdamaian

Pertikaian berdarah yang terjadi di Jalur Gaza hanyalah salah satu dari banyak wilayah konflik yang saat ini terjadi. Marco Impagliazzo, presiden kelompok San Egidio, dalam pidato mengawali Pawai Damai di Roma (01/01/09) mengatakan, sampai pada awal tahun 2009 terdapat 35 negara/wilayah yang masih dilanda perang dan kerusuhan. Tidak semua wilayah yang dilanda kerusuhan diberitakan media massa.

Sumber lain di Vatikan menerangkan bahwa korban kekerasan tidak hanya menimpa warga biasa tapi juga petugas Gereja. Sepanjang tahun 2008 ini, sekurangnya 20 petugas Gereja mati terbunuh. Di antara korban tersebut antara lain Uskup Agung Mosul di Irak, Mgr. Paulos Faraj Rahho, mati dibunuh para penculiknya (29/02/08); Pastor Otto Messmer SY dibunuh di apartemennya di Moskow (28/10/08) serta tiga imam di India tewas dalam kerusuhan anti Katolik.

Melihat masih banyaknya kerusuhan serta perang, usaha perdamaian dunia hingga saat ini masih amat relevan. San Egidio yang berpusat di kota Roma adalah salah satu kelompok yang giat mengupayakan gerakan perdamaian. Upaya perdamaian yang diprakarsai San Egidio antara lain mengadakan pawai damai besar-besaran setiap tanggal 1 Januari. Tahun 2009 ini pawai damai dilakukan serentak di 6 kota besar, yaitu Milano, Napoli, Firenze, Alesandria, Genova dan Roma sendiri. Di luar Italia, pawai damai yang diprakarsai kelompok yang sama ini juga dilakukan di beberapa kota di Jerman, Belgia, Monaco. Pawai damai kali ini banyak diwarnai pidato serta poster-poster mengecam serangan Israel ke Gaza yang baru saja terjadi. Di Roma pawai damai berlangsung dari Largo Giovanni XXIII menyusuri Via della Conciliazione dan berakhir di lapangan Santo Petrus, Vatikan.

Setiap tahun, Paus mengeluarkan suatu pesan perdamaian. Pesan perdamaian tahun ini bertema: Perangi Kemiskinan Untuk Menciptakan Perdamaian. Menurut Paus Benediktus XVI, kemiskinan kerap menjadi penyebab timbulnya suatu konflik. Sebaliknya, konflik dapat juga menyebabkan kemiskinan tragis yang berkelanjutan. Dewasa ini masih terdapat banyak orang yang hidup melarat. Sementara jurang antara yang kaya dan yang miskin makin lebar, termasuk di negara yang maju sekalipun. “Salah satu cara yang amat penting membangun perdamaian adalah melalui suatu bentuk globalisasi yang diarahkan pada kepentingan seluruh keluarga manusia….untuk itu dibutuhkan solidaritas global yang kuat antara negara-negara kaya dengan yang miskin”, ujar Paus.

Masih menurut Paus, untuk memerangi kemiskinan diperlukan kerja-sama baik di bidang ekonomi maupun hukum. Hal ini diperlukan guna memungkinkan komunitas internasional, khususnya negera-negara miskin, memetakan permasalahan serta penanganannya secara terkoordinasi.

Saat menerima pawai damai di lapangan Santo Petrus (01/01/09), Paus menghimbau para pemimpin dunia agar melakukan perubahan yang berarti bagi sistem finansial global. Menurutnya, pemecahan jangka pendek atas krisis keuangan yang sedang terjadi, tidaklah memadai. “Itu tidak cukup, seperti dikatakan Yesus, ibarat menambalkan kain baru pada kain yang sudah lapuk”, ujar Paus.

Kilas Balik Hari Perdamaian

Ditetapkannya tanggal 1 Januari sebagai Hari Perdamaian dimulai oleh Paus Paulus VI pada tahun 1968. Waktu itu Paus meminta semua orang yang berkehendak baik untuk merayakan hari pertama setiap tahun sebagai hari perdamaian di seluruh dunia. Ajakan Paus ini tidak hanya bagi orang Katolik namun juga bagi semua pemeluk agama lain.

 Dalam perkembangannya, PBB pun menganggap pentingnya suatu hari perdamaian yang berlaku bagi semua bangsa. PBB kemudian menetapkan hari Selasa ketiga bulan September sebagai Hari Perdamaian Internasional (1981). Pada tahun 2002, ketetapan Hari Perdamaian Internasional sedikit dirubah menjadi setiap tanggal 21 September. Sementara di lingkungan Gereja Katolik, tanggal 1 Januari tetap diperingati sebagai Hari Perdamaian Sedunia.

Perang tak pernah menghasilkan perdamaian. Baik penyerang maupun yang diserang keduanya tak dapat menikmati damai. Tanpa usaha bersama, nampaknya perdamaian akan makin jauh dari kenyataan.

Heri Kartono OSC (dimuat di Majalah HIDUP, edisi 18/01/09).

2 comments:

Rosiany T.Chandra said...

Untuk tambahan informasi,bisa click:
http://www.zenit.org/article-24684?l=english
"Say Violence Can't Bring Justice and Peace"

Tulisan yg bagus dengan tema yg pas pula menyonsong 2009!

Trim,
Rosiany T.Chandra

Lucas Nasution said...

sebuah buku sederhana berjudul [kurang lebih] - start with yourself

perdamaian dimulai dari diri sendiri - ingatlah bahwa prejudice diajarkan orang tua pada anak2nya - anak tidak tahu membedakan hitam, keriting, muslim atau kristen...mereka bermain bersama sampai orang tuanya buru2 memanggil mereka dan melarang bermain lagi dengan tetangga yang berbeda suku, agama, ekonomi, sosial, dsb