Friday, May 2, 2008

Hari Migran Sedunia 2008.




PERHATIKAN KAUM MIGRAN

Setiap jam 12.00 siang, sekitar 15 anak muda berbaris di depan biara OSC di Roma. Mereka menanti jatah makan siang yang dibagikan oleh Fr.Mammouth. Frater asal Solo ini melakukan kegiatan tersebut atas dukungan pemimpin tarekatnya. Biasanya makanan yang dibagikan adalah soup, roti tawar dan segelas air. Anak-anak muda yang menerima bantuan tersebut adalah para imigran yang berasal dari Rumania, Bulgaria dan Albania. Setelah satu tahun berjalan, kegiatan membantu kaum migran ini terpaksa dihentikan karena protes dari tetangga. Para tetangga merasa terganggu dengan kehadiran mereka karena memang para migran ini sering berlaku tidak tertib dan membuang sisa-sisa makanan di sembarang tempat.

Perhatian Pada Kaum Migran Muda.                                                                                   

Di kota Roma ada banyak imigran yang hidup tidak menentu. Kebanyakan dari mereka adalah imigran gelap sehingga sulit memperoleh pekerjaan secara resmi. Ada banyak kelompok yang dengan suka rela membantu mereka, terutama memberi makan. Di luar kelompok religius, kelompok besar yang dikenal sering membantu kaum gelandangan, termasuk kaum migran adalah kelompok San Egidio. Meski demikian, tidak semua orang senang atas kegiatan membantu kaum migran itu. Dalam suatu diskusi yang disiarkan televisi Italia (RAI 1), kelompok yang tidak setuju menyatakan bahwa bantuan yang diberikan justru akan memancing makin banyaknya kaum migran masuk Italia. Padahal, kata mereka, munculnya kaum migran yang tak memiliki apa-apa sering mengganggu ketertiban masyarakat.

Lepas suka atau tidak suka, membanjirnya kaum migran terjadi di banyak tempat. Banyak di antara mereka, termasuk anak-anak dan kaum wanita, dipaksa oleh situasi untuk pergi meninggalkan kampung halaman serta negaranya. Dalam pesan tahunannya pada Hari Migran Sedunia (13/01/08) Paus Benediktus XVI mengajak kita untuk peduli pada nasib orang-orang yang tak beruntung ini, khususnya pada kaum migran usia muda. Menurut Paus, kaum migran muda menghadapi persoalan yang tidak ringan. Di satu sisi mereka merasakan kebutuhan untuk mempertahankan budaya asli mereka namun di sisi lain, mereka juga perlu untuk beradaptasi dengan masyarakat baru yang mereka temui. Acap kali anak-anak muda itu terdampar di jalanan dan menjadi sasaran empuk para pemeras.

Di hadapan ribuan orang yang berkumpul di lapangan St.Petrus, Vatikan, Paus mengungkapkan bahwa dewasa ini kaum migran di seluruh dunia makin banyak jumlahnya. Tidak sedikit di antara mereka dipisahkan dari orang tua atau sanak-saudaranya.  Mereka terpaksa tinggal di kamp-kamp pengungsian selama bertahun-tahun. Para wanita muda serta anak-anak sering menghadapi resiko tindak kekerasan atau pelecehan. “Tidak mungkin kita terus berdiam diri menghadapi gambaran pilu di kamp-kamp pengungsian besar yang berada di pelbagai penjuru dunia”, ujar Paus dari jendela apartemennya.

Seruan Untuk Membantu.

Di Roma dan di banyak  tempat lain, selalu ada kelompok-kelompok yang berinisiatif membantu kaum migran. Paus menyatakan rasa terima kasihnya kepada pihak-pihak yang telah membantu kaum migran. Pada kesempatan yang sama Paus juga mengundang komunitas-komunitas gereja untuk menyambut dengan simpati kaum migran, mencoba mengerti serta membantu mereka. Di lain pihak, Paus menghimbau kaum migran untuk selalu menghormati hukum dan tidak membiarkan diri melakukan tindak kekerasan.

Uskup Agung Agustinus Marchetto, sekretaris Dewan Kepausan untuk kaum Migran dan Perantau, menyatakan lewat Radio Vatikan, bahwa perlu kiranya suatu usaha internasional yang lebih besar guna membantu kaum migran muda. “Hari Migran dan Perantau Sedunia seharusnya menjadi momentum global untuk menghargai kaum migran muda”, papar Marchetto.

Hari Migran juga bergaung di Malaysia. Pertemuan BICA II (Second Bishops’s Institute for Christian Advocacy), misalnya, memfokuskan perhatiannya pada Keluarga Migran Asia. Pertemuan itu sendiri berlangsung di kota Kinarut, Sabah (4-8 Desember). Uskup Agung Yangon, Mgr. Charles Maung Bo, dalam sambutannya menyatakan perlunya peran-serta lebih besar dari semakin banyak Negara di Asia untuk melayani kebutuhan pastoral dari para migran dan pengungsi.

Menjadi migran adalah pilihan terakhir karena dipaksa oleh situasi hidup yang pahit. Ajakan Paus untuk membantu kelompok ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ajakan Paus menyegarkan kita akan wasiat yang pernah kita dengar: “Apa yang kamu lakukan bagi yang terkecil, kamu melakukannya untuk Aku juga!”.

Heri Kartono (Dimuat di majalah HIDUP, 24 Februari 2008).

 

 

No comments: