Monday, April 14, 2008

Kunjungan Paus ke Sant' Egidio.



NYARIS TAK MAMPU BERBICARA

Sebelum melakukan kunjungan besar ke USA, Paus Benediktus XVI mengunjungi kelompok Sant’ Egidio di Roma (07/04). Pada kesempatan tersebut, seorang anggota Sant’ Egidio asal Indonesia mendapat kepercayaan mewakili Asia bertemu Paus.

“Sahabat-sahabat Komunitas Sant’ Egidio yang terkasih, kalian telah memulai langkah-langkah awal kalian di kota Roma dalam tahun-tahun sulit sesudah 1968. Anak-anak Gereja telah memelopori tindakan kasih. Karisma kalian kemudian menyebar ke pelbagai penjuru dunia. Sabda Tuhan, cinta untuk Gereja, perhatian terhadap orang miskin, sharing Kitab Suci, adalah bentuk-bentuk kesaksian kalian. Saya berterima kasih atas karya kerasulan kalian. Saya juga berterima kasih atas upaya-upaya perdamaian yang kalian lakukan yang menandai komunitas kalian”, ujar Paus Benediktus XVI kepada anggota Sant’ Egidio yang memadati gedung serta halaman Gereja St. Bartolomeus, Roma.

Gereja Santo Bartolomeus adalah salah satu Gereja yang digunakan kelompok Sant’ Egidio untuk berkumpul secara teratur. Lokasi gereja ini sedikit unik, terletak di pulau kecil, di tengah-tengah sungai Tiber yang membelah kota Roma. Gereja St. Bartolomeus ditetapkan sebagai tempat peringatan para martir abad ke 20 oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II pada ulang tahun kelompok Sant’ Egidio yang ke-25. Kali ini Paus Benediktus XVI mengunjungi Gereja yang menyimpan relikwi Rasul Bartolomeus ini dalam rangka ulang tahun Kelompok Sant’ Egidio yang ke -40.

Sambutan Antusias.

Paus tiba di pelataran Gereja St. Bartolomeus pada jam 17.30 (07/04/08). Umat yang sudah menanti menyambut Paus dengan penuh antusias. Umat yang hadir tidak hanya anggota Sant’ Egidio namun juga para gypsi (orang-orang kumuh yang biasa dilayani kelompok Sant’ Egidio). Tidak hanya itu, komunitas-komunitas Sant’ Egidio dari pinggiran kota Roma datang dengan bis-bis membawa orang-orang tua, cacat dan orang-orang miskin. Semuanya berbaur menyongsong Paus dengan antusias yang sama. 

Turut menyambut Paus, antara lain Kardinal Camillo Ruini, Vikar Roma, Uskup pembantu Ernesto Mandara, pendiri sekaligus penanggung-jawab Sant’ Egidio Andrea Riccardi serta Ketua Sant’ Egidio Marco Impagliazzo. Mgr. Matteo Zuppi serta Mgr. Vincenzo Paglia yang banyak terlibat dengan kelompok Sant’ Egidio terlihat juga di antara rombongan para penjemput Paus.

 

Pendiri Sant’ Egidio, Prof. Andrea Riccardi, dalam sambutannya mengatakan: “Kami merasa tersentuh atas kunjungan Bapa Suci dalam rangka ulang tahun Sant’ Egidio yang ke-40. Bagi kami, kunjungan Bapa Suci merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Karena lahir di Roma, kami kelompok Sant’ Egidio merasa sebagai anak terhadap Bapa Suci, Uskup Roma. Kelompok Sant’ Egidio di belahan dunia lainpun tetap merasa sedikit bagian dari Roma juga”, tutur Andrea.

Andrea Riccardi memulai kelompok Sant’ Egidio bersama beberapa rekannya pada tahun 1968 di Roma. Pada saat itu Andrea masih duduk di bangku SMA. Bersama beberapa temannya Andrea secara rutin berkumpul untuk berdoa, membaca Kitab Suci dan menolong kaum miskin di wilayah kumuh pinggiran kota Roma. Kelompok ini disebut Sant’ Egidio karena menggunakan gereja Santo Egidio di kawasan Trastevere, Roma, sebagai tempat mereka berkumpul. Kini Komunitas Sant’ Egidio memiliki 50 ribu anggota tersebar di  70 negara.

“Sant’ Egidio tidak hanya membantu kaum miskin, namun memiliki banyak kegiatan lain. Salah satunya adalah mempromosikan perdamaian serta dialog antar agama. Pertemuan tokoh-tokoh agama 1986 di Asisi yang diprakarsai oleh Paus Yohanes Paulus II masih diteruskan dari tahun ke tahun oleh Komunitas Sant’ Egidio hingga kini. Tahun lalu, saat pertemuan antar tokoh agama diadakan di Napoli, hadir beberapa tokoh Indonesia, diantaranya Prof. Din Syamsudin.

Merasa Gugup.

Oktavianus Wibowo, anggota Sant’ Egidio asal Indonesia mendapat kepercayaan mewakili Sant’ Egidio wilayah Asia untuk bertemu Paus. Oktavianus amat senang dan bangga atas kepercayaan tersebut. Ia diminta untuk menjelaskan secara singkat keberadaan kelompok Sant’ Egidio di wilayah Asia kepada Paus Benediktus. Pemuda yang sedang studi Filsafat di Universitas Urbanianum ini mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Namun, saat ia berhadapan langsung dengan Sri Paus, Oktavianus merasa begitu gugup dan nyaris tidak mampu berkata-kata. Akhirnya dengan terbata-bata, Oktavianus berhasil juga menyelesaikan penjelasannya dalam bahasa Italia.

Di Indonesia kelompok Sant’ Egidio ada di Padang, Pekanbaru, Jakarta, Semarang,  Yogya,  Medan, Kupang dan Atambua. Secara Nasional, kelompok Sant’ Egidio Indonesia pernah mengadakan pertemuan persahabatan untuk para imam dua kali di Klaten, Jateng pada 2004 dan 2006. Tahun ini rencananya akan diadakan di Jakarta (9-12 Juli). Prof. Andrea Riccardi pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 1999.

Rm. Petrus Puspobinatmo SJ , imam Jesuit yang mengenal kelompok Sant’ Egidio dari dekat, saat ditanya komentarnya, mengatakan bahwa kunjungan Paus amat bermakna. “Dalam konteks ulang tahun ke -40, kunjungan Paus Benediktus XVI menjadi konfirmasi dari Gereja akan apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan kelompok Sant’ Egidio”, ujar Puspo.

Heri Kartono, OSC (Foto: dokumentasi Sant' Egidio; Dimuat di HIDUP, 4 Mei 2008).

 

4 comments:

Rosiany T.Chandra said...

Sayang belum ada komunitas St.Egidio di Bandung ya.Siapa mau jadi pelopor?

Heri Kartono said...

Pernah ada kok, sekitar tahun 1991-an di wilayah Hegarmanah. Yang memelopori Pst.Kartono hehe.. Pengurus Sant' Egidio Roma (Valeria dan Agostino) pernah diundang ke Bandung juga dan memberi ceramah di Jln.Nias. Mudah2an ada yang memulai lagi dengan lebih baik.

Tanny said...

Bagi teman-teman yang tertarik dan ingin mengenal Komunitas Sant'Egidio, dapat menghubungi saya Tanny (0818794521, 02193267872).
Saya adalah salah satu anggota komunitas ini yang bergabung sejak tahun 2001. Kami sangat senang bisa berkenalan dengan teman-teman baru.

Heri Kartono said...

Selamat datang Tanny dalam BLOG saya.
Selamat berkarya di Komunitas San Egidio.
Salam,
HK.