Friday, April 18, 2008

Petrus Tripomo, Pr.



DARI STASI HINGGA TAKHTA SUCI

Petrus Tripomo Pr bukanlah pembesar Gereja, apalagi petinggi Vatikan. Meski demikian, imam asal Lampung Tengah ini dapat dengan leluasa keluar masuk Vatikan tanpa harus antri atau melalui pemeriksaan khusus. Mengapa demikian?

Berkat jasa Rm. Petrus Tripomo, sepasang suami-istri asal Jogya berhasil diterima pihak Vatikan untuk menjadi pembawa persembahan pada Misa Paskah yang lalu. Rm. Tri memang bukan petinggi Gereja namun kegiatan informalnya membuat ia mengenal para pembesar Vatikan, khususnya yang berkaitan dengan liturgi. Tidak hanya itu, Rm. Tri juga memiliki Pass/Kartu Tanda Pengenal khusus. Dengan pass tersebut ia bisa masuk Vatikan lewat pintu manapun tanpa harus antri atau lewat pemeriksaan metal detector. Itu semua berkat aktivitasnya sebagai anggota Coro Guida (Koor Penuntun). Coro Guida adalah  Koor andalan Vatikan yang biasa tampil pada upacara liturgi yang dipimpin langsung oleh Sri Paus.

Berawal dari Koor Stasi.

Petrus Tripomo, menurut pengakuannya sendiri, bukanlah seorang ahli musik atau penyanyi handal. Yang pasti, ia memang tertarik pada musik dan menaruh minat pada bidang liturgi, terutama yang berkaitan dengan lagu. Ia belajar musik secara otodidak sejak kecil. Anak ketiga dari enam bersaudara ini sudah mulai tahu notasi dan bernyanyi saat ia duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Dua tahun kemudian, ia bergabung dengan kelompok koor di Gereja stasinya, Sendangmulyo. Saat duduk di bangku SMP, Tri sudah mampu mengiringi koor paroki dengan alat musik harmonium (Organ yang menggunakan pedal).

Saat belajar di Seminari Menengah Palembang, Tri bergabung dengan paduan suara SMA Xaverius sebagai kegiatan ektra kulikulernya. Paduan suara di bawah bimbingan ibu Helena Pende ini hampir selalu meraih juara pertama pada setiap perlombaan. Lewat kegiatan yang diikutinya, pengalaman serta pengetahuan Tri di bidang musik semakin hari semakin bertambah. Iapun mulai mencoba-coba mengarang lagu sendiri.

Tiga lagu karangan Tri pernah dimuat di majalah HIDUP (1992). Saat itu ia kuliah di Seminari Tinggi Pematang Siantar sebagai calon imam diosesan Keuskupan Tanjungkarang. Salah satu karangan Tri sempat digunakan untuk lomba menyanyi anak-anak di salah satu paroki di Pematang Siantar, Keuskupan Agung Medan. Tri ditahbiskan sebagai imam pada 29 Juni 1998. Sesudah tahbisan, Tri sempat bertugas beberapa tahun di paroki Metro Lampung, Unit Pastoral Bakauheni dan Unit Pastoral Liwa. Selama bertugas di paroki, Tri tetap memberi perhatian pada musik liturgi, termasuk musik untuk anak-anak. Karena minatnya yang besar pada liturgi, Uskup Tanjungkarang mengirimnya untuk studi lanjut bidang liturgi di Institut Pontifical San Anselmo, Roma (2005) hingga kini.

Menjadi anggota Coro Guida, Vatikan merupakan kebangggaan tersendiri baginya, selain juga pengorbanan serta komitmen. “Saya harus rela mengorbankan waktu saya, baik untuk latihan maupun untuk mengikuti upacaranya sendiri”, tutur Tri. Bergabung dengan Coro Guida, di samping karena minat pribadi, ada juga motivasi lain.  “Lewat kegiatan ini saya menimba banyak pengalaman positif sekaligus dapat membandingkan antara teori liturgi di bangku kuliah dengan liturgi dalam praktek. Liturgi yang semula saya anggap kering ternyata bisa amat hidup dan memikat!”, ujar Tri. “Satu keuntungan lagi, lewat kegiatan ini saya dapat mengenal dari dekat para imam dan suster yang bekerja di kantor liturgi Vatikan, termasuk pimpinan tertingginya, Mgr. Guido Marini. Itulah sebabnya rekomendasi saya tentang petugas liturgi lebih mudah diterima mereka”, tambah Tri tersenyum simpul.

Ketua Irrika

Selain aktif dalam kegiatan tarik suara, Tripomo juga memiliki kesibukan lain. Pada tanggal 13 Mei tahun lalu, ia terpilih sebagai ketua Irrika (Ikatan Rohaniwan/wati Indonesia di Kota Abadi/Roma). Saat ini Irrika memiliki 773 anggota. Tentang terpilihnya sebagai ketua Irrika, Tri berkata: “Saya merasa tidak mampu. Masih banyak pastor lain yang lebih mampu untuk memimpin. Pilihan ini saya terima sebagai tugas yang berat sekaligus sebagai pengabdian pada sesama”, ujar imam kelahiran Sendangmulyo, Kalirejo, Lampung Tengah (09/01/70) ini merendah.

Kendati mengaku tidak mampu, Irrika dibawah pimpinan Tri dapat berjalan dengan baik. Berbagai program yang dirancang oleh Tri bersama pengurus Irrika yang lain berjalan lancar. Kerja sama dengan pihak luar, khususnya dengan KBRI untuk Tahta Suci terjalin secara harmonis. Dua kegiatan terakhir yang dilakukan bersama KBRI untuk Tahta Suci adalah Rekreasi ke San Gabriele (13/04) dan Pentas Budaya di Bolzano, Italia Utara (18-20/04).  Saat rekreasi ke San Gabriele, pihak KBRI menyumbang ongkos satu Bis serta makan siang untuk 165 orang. Selain itu, Duta Besar, bapak Suprapto Martosetomo, masih memberi hadiah 4 raket bulutangkis serta beberapa slop shuttlecock.

Pentas Budaya di Bolzano diselenggarakan oleh pihak KBRI bekerja sama dengan Irrika. Selain Misa inkulturasi bernuansa Indonesia, beberapa anggota Irrika, ikut aktif dalam pertunjukan Gamelan serta tari-tarian tradisional Indonesia.

Saat ditanya kiatnya dalam menjalankan tugas sebagai ketua Irrika, dengan ringan Tri menjawab: “Perlu pendekatan yang tepat. Selain itu, informasi serta komunikasi dengan semua pihak harus jelas dan lancar”, jelas Tri.

Teladan Hidup  Sang Ayah.

Tahun yang lalu, Petrus Tripomo mengalami kesedihan mendalam. Ayah yang menjadi teladan hidupnya meninggal dunia. Semasa hidupnya, Florentinus Slamet Hs, ayah Tri, adalah seorang katekis, sementara ibunya, Victoria Sarjilah, ibu rumah tangga biasa. Sebagai katekis purna waktu, ayahnya rajin mengunjungi kelompok-kelompok jemaat yang dibinanya. “Ayah biasa mengunjungi jemaat binaannya yang berjarak puluhan kilometer dengan sepeda onthel dan kerap pulang larut malam”, kenang Tri. “Dengan segala keterbatasannya, ayah banyak membantu orang-orang yang ada di sekitarnya. Teladan hidup ayahlah yang menumbuhkan cita-cita imamat dalam hati saya”, lanjut Tri.

Saat mendapat kabar bahwa ayahnya sakit keras, Tri sedang kursus bahasa Jerman, mengisi waktu liburan musim panas. Sepuluh hari menjelang kematiannya, ayah meminta romo paroki untuk memberinya sakreman perminyakan. Saat itu Tri sempat berbicara dengan ayahnya lewat telpon. “Ayah saya mengungkapkan kesiapannya bila Tuhan memanggilnya. Ayah juga berpesan agar saya tetap terus belajar dengan tenang”, ujar Tri terbata-bata. “Ayah tidak hanya pandai mengajar orang lain soal iman, dia sendiri sungguh mempraktekan apa yang diajarkannya”, ujarnya lagi tentang ayah yang dibanggakannya itu. Pada hari Selasa, 21 Agustus 2007 Florentinus Slamet, katekis yang rajin itu dipanggil Tuhan.

Petrus Tripomo masih tetap bernyanyi di Vatikan, hingga saat ini. Ia terus bernyanyi dengan penuh iman, iman yang ia terima dari mendiang Florentinus Slamet ayahnya. Tripomo, imam Diosesan ini, tidak bisa hadir pada saat kematian sang ayah tercinta. Namun ia yakin, lagu-lagu yang ia lambungkan sepenuh hati dapat mangantar ayahnya ke tempat Bapa di Surga dengan penuh suka-cita.

Heri Kartono,OSC (Dimuat di Majalah HIDUP, 4 Mei 2008).

 

 

4 comments:

kicauanburung said...

salam kenal buat Rm. Tri, sapa tau bisa nyanyi bareng di sana...he3

Heri Kartono said...

Oke, nanti saya sampaikan.
Sekarang Rm.Tri lagi sibuk menyelesaikan TESINA-nya. Kalau lancar, Juni ini selesai studynya di Roma.
Salam,
HK.

SILVESTER said...

Romo Tri kapan mampir ke simbarwaringin dri http://www.silvesterlintang.edu.tc

Gina said...

Romo Tri sekarang dimana???? Kog tidak ada kabar lagi????,
Salam dari Vortum