Monday, April 7, 2008

Misionaris Claris.


25 TAHUN TANPA MADRE INES

Dibanding tarekat lain yang sudah berumur ratusan tahun, Misionaris Claris tahun ini baru memperingati 25 tahun meninggalnya sang pendiri. Kendati tergolong baru, tarekat ini berkembang sangat baik di empat belas negara, termasuk di Indonesia.

Pemimpin Sejati.

Maria Ines Teresa Arias, pendiri tarekat Misionaris Claris, baru meninggal 25 tahun yang lalu. Tepatnya, ia meninggal pada tanggal 22 Juli 1981 di Roma. Ada banyak suster yang masih mengenang dengan baik Sr. Maria Ines, salah satunya adalah Suster Concepcion Casas, pimpinan biara Misionaris Claris di Roma. Sr. Concepcion ini pernah 20 tahun tinggal dalam satu komunitas bersama Sr. Maria Ines.

Menurutnya, Sr. Maria Ines, atau biasa disebut Madre Ines, adalah orang yang cerdas sekaligus bijaksana. Ia terbiasa memikirkan segala sesuatu secara sistematis, terencana dan tepat. Selain itu, prediksinya tentang banyak hal pada umumnya benar. Meskipun cerdas dan menduduki jabatan pimpinan, Sr. Maria Ines tidak pernah sombong. Sebaliknya, ia adalah sosok yang amat bersahaja, selalu optimis dan berfikir positif. Di atas semuanya, ia adalah seorang yang memiliki iman yang kuat dan seorang teman serumah yang menyenangkan. “Dia memang seorang pemimpin sejati!”, tutur Suster Concepcion  meyakinkan.

Sr.Maria Inez adalah anak kelima dari delapan bersaudara. Ia lahir di Ixtan del Rio, Nayarit, Meksiko pada tanggal 7 Juli 1904. Ayahnya, Eustaquio Arias adalah seorang pengacara sedangkan ibunya, Maria Espinoza , ibu rumah tangga biasa. Keluarga Eustaquio adalah penganut Katolik yang taat. Anak-anak, termasuk Maria Inez, mendapat pendidikan agama yang baik sejak masa kanak-kanak mereka.

Maria Ines tumbuh sebagaimana layaknya gadis-gadis lain pada jamannya. Ketika usianya menginjak dua puluh tahun, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Dalam buku hariannya Ia menulis antara lain: “Saya merasa ada sesuatu yang sedang terjadi dalam hidup saya….saya sangat yakin bahwa ada sesuatu yang belum saya mengerti terjadi pada diri saya…”, tulisnya.

Dalam perkembangannya, Maria Ines menyadari bahwa Tuhan memanggilnya untuk menjalani kehidupan yang khusus, yaitu hidup membiara.

Pada 7 Juli 1929, Maria Ines masuk biara kontemplatif, yaitu tarekat Suster Claris yang Miskin di Los Angeles, California. Pada waktu itu para suster Claris Meksiko sedang berada dalam pengungsian (USA) karena pengejaran agama Katolik yang sedang berlangsung di Meksiko.

55 Tahun Transformasi Tarekat.

Pada saat Sr.Maria Ines mengucapkan kaul sementaranya, ia justru merasakan suatu panggilan yang lain. Kelak menjadi jelas bahwa ia terpanggil untuk mendirikan suatu tarekat baru, yaitu Konggregasi Misionaris.

Pada tanggal 23 Agustus 1945, dengan persetujuan pimpinan biaranya dan juga restu dari pejabat Gereja, Maria Ines memulai tarekat barunya di kota Cuernavaca, Meksiko. Waktu itu lima suster lain ikut bergabung dengannya. Salah satu kekhasan tarekat baru ini adalah memiliki janji ketaatan mutlak pada Sri Paus, seperti layaknya para Jesuit.

Pada tanggal 31 Mei 1951, Madre Ines mengirimkan permohonan pengesahan atas tarekat baru ini ke Tahta Suci. Dalam waktu kurang dari satu bulan, kongregasi baru ini mendapat pengesahan dari Vatikan, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1951. Kongregasi ini mendapat nama resmi yang baru, yaitu Misioneras Clarisas del Santissimo Sacramento (Misionaris Claris Dari Sakramen Maha Kudus).  Peristiwa yang terjadi 55 tahun yang lalu ini dikenal sebagai hari Transformasi, yang berarti perubahan dari biara kontemplatif menjadi kongregasi misionaris.

Madre Maria Ines-Teresa saat itu ditunjuk oleh Tahta Suci sebagai Superior General yang pertama. Pada tahun itu juga (1951), Sr.Maria Ines mengirim tiga orang susternya ke tanah misi pertama, yaitu Jepang. Dengan berbekal bahasa Inggris, tiga orang suster Misionaris Claris ini memulai karya mereka di negri Sakura. Mereka langsung mendapat kesulitan karena tidak banyak orang Jepang pada waktu itu yang mengerti bahasa Inggris. Hanya dengan ketekunan dan keuletan yang luar biasa, tiga orang suster MC ini berhasil menjalankan misinya dengan baik. Kini tercatat sekitar 60 suster asli Jepang masuk dalam konggregasi ini.

Selain ke Jepang, Misionaris Claris juga menyebar ke beberapa negara lain seperti: Sierra Leone, Nigeria, Amerika Serikat, Costa Rica, Irlandia, Spanyol dan Italia. Jumlah anggotanya di seluruh dunia mencapai 600 suster, suatu jumlah yang cukup besar untuk sebuah tarekat yang baru.

Pada tahun ini dua peristiwa penting (55 tahun Transformasi Tarekat dan 25 tahun wafatnya Madre Maria Ines) dirayakan secara bersama-sama. Di Roma, sejumlah acara diadakan khusus untuk memperingati dua tonggak tarekat tersebut. Puncak peringatan diadakan pada hari Minggu, 25 Juni 2006. Peringatan ini diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh pastor Albino Marin.

Perkembangan di Indonesia.  

Tanggal 15 September 1960 adalah hari yang bersejarah. Pada tanggal tersebut, tiga orang suster Misionaris Claris untuk pertama kalinya datang ke Indonesia, tepatnya di kota Madiun, Jawa Timur. Mereka datang atas undangan Administrator Apostolik waktu itu, yaitu Mgr. Gaetano Alibrandi.

Pada awalnya tiga suster pionir ini berkarya di Poliklinik dan BKIA Panti Bagija, milik keuskupan. Kini, sesudah 46 tahun, Misionaris Claris telah memiliki  66 anggota Indonesia. Para suster Indonesia ini selain dari Jawa, juga datang dari pelbagai daerah lain. Mereka berkarya di Madiun, Surabaya, Jakarta dan Flores. Adapun karya mereka terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. Sebagian di antara mereka juga berkarya di bidang pastoral. Secara berkala, mereka mengirim beberapa anggotanya untuk study lanjut di luar negri, khususnya Roma.

Sr. Maria Veronica Endah Wulandari M.C, propinsial Indonesia yang kebetulan sedang berada di Roma menyatakan bahwa tarekatnya mempunyai prospek yang baik di masa depan. “Setiap tahun selalu ada calon-calon yang bergabung dengan kami. Sekurang-kurangnya ada dua atau tiga orang yang kami terima”, tutur Suster asal Surabaya ini.

Ketika ditanya komentarnya tentang peringatan dua peristiwa bersejarah tarekatnya ini, ia berkata: “ Dua peringatan ini amat penting artinya bagi kami. Peristiwa ini merupakan momentum tepat bagi para anggota untuk lebih mengenal dan mendalami spiritualitas Madre Ines, pendiri tarekat kami”, tutur propinsial yang menguasai beberapa bahasa asing ini.

Perjalanan sebuah tarekat, seperti halnya hidup manusia, adalah perjalanan pencarian yang terus menerus. Berhenti sejenak dalam momentum khusus adalah suatu kebutuhan, supaya bisa melangkah lagi dengan kesegaran baru.

Heri Kartono (Dimuat Majalah HIDUP No..., 2006)

 

 

 

 

1 comment:

harisatiman.com said...

Mas, apa ada perkembangan terbaru dari misionaris claris.

saya, guru ekstra jurnal smpk santa clara, sby, mencari data terbaru, karena akan saya tulis.

Kalau tidak salah, akan ada ulang tahun khusus, tahun ini, di sekolah kami.

salam
hariyanto
pembina ekstra jurnal sanclar